Hai guys!

Topik #Bloggers’ Challenges ke-42 datang dari Trias. 

2 pekerjaan impian. Satu pekerjaan impian utama, satu lagi alternatifnya.

Seperti biasa, sebelum aku membeberkan pekerjaan impianku, aku mau cerita tentang apa yang kupikirkan saat mendapat topik ini. 

Kita mulai dari redaksi kata dalam topik ini yaaaa.

2 kerjaan impian.

Yang pertama, kerjaan impian utama.

Yang kedua, kerjaan impian alternatif.

Sebenarnya kalimatnya jelas, tapi bisa diartikan macam-macam. 

Kalo aku sendiri mengartikan pekerjaan impian itu adalah pekerjaan yang (tanpa mempertimbangkan kemampuan, penampilan dsb) benar-benar kita idamkan. Artinya, pekerjaan itu bisa aja pekerjaan yang nggak masuk akal dan mungkin nggak bakal diraih di kehidupan nyata. Namanya juga mimpi/impian, ya kan? 

Misalnya, aku pengen banget kerja jadi artis, musisi, presiden atau astronot. Jujur, kerjaan seperti itu hampir nggak mungkin bahkan mustahil bisa kudapatkan. Tapiii, itu bisa dikategorikan sebagai kerjaan impian. Kuncinya: hasrat yang terpendam. 

Namun, pekerjaan impian juga bisa diartikan sebagai pekerjaan yang memang diidam-idamkan oleh seseorang karena dia melihat dari latar belakang keluarganya, kemampuan, atau pendidikan yang sedang ditempuhnya. Dalam kasus ini, pekerjaan impian tersebut kemungkinan besar bisa tercapai.

Misalnya, aku pengen jadi dosen/tentor/guru. Keluargaku bisa dibilang keluarga berlatar belakang guru (kakek, nenek, ayah, mamak), aku juga sedang kuliah di program studi pendidikan. Nah, kerjaan impianku untuk jadi tenaga pendidik itu cocok sekali dengan kedua hal tersebut. Istilahnya, jalur pendidikan dan impian sejalan. 

Pekerjaan impian (ala Wawa):

1. Pekerjaan yang diimpikan tanpa melihat bibit, bebet, bobot diri. Sesuatu yang benar-benar murni diinginkan. Tidak peduli bisa dicapai atau tidak.

2. Pekerjaan yang diimpikan karena proses pemikiran yang mendalam dan usaha keras. Kemungkinan besar bisa dicapai. 

Is it clear, darling? Hihihi.

Selain itu, adanya kata pekerjaan impian alternatif dari impian utama, juga bikin agak-agak mikir gitu. Berarti, impian kedua itu bisa didapatkan dengan keadaan kita, karena sifatnya alternatif, padahal kata impian tadi aja udah bikin jarak yang jauuuuh dari kehidupan nyata kita. 

Nah, loh.. Nggak sesuai sama definisiku tadi, wkwkkwkwk.

Tapiiii, topik ini nggak usah dibikin ribet, wkwkkwk. Terserah bagaimana kita memaknainya.

Kalo aku sendiri, pengen nulis tentang pekerjaan impian berdasarkan dua definisi yang kutulis tadi. Artinya, bakal ada 4 pekerjaan impian karena aku ngerasa nggak puas untuk nulis hanya 2 kerjaan saja, wkwkwk.

Namanya juga impian, nggak seharusnya dibatasi kan? 

Hari ini pengen jadi A, besok pengen jadi B.

Jadi, setelah menggali ingatan dan membuka kotak yang bernama HASRAT, aku menemukan beberapa kerjaan impian yang kuidam-idamkan dulu (dan aku nyaris lupa, haha).

Yuk, kita masuk kategori pertama:  Pekerjaan yang diimpikan tanpa melihat bibit, bebet, bobot diri. Sesuatu yang benar-benar murni diinginkan. Tidak peduli bisa dicapai atau tidak.

1. Traveler

Traveler itu kerjaan? Bukannya orang yang sedang foya-foya ehh, orang yang senang jalan-jalan ke daerah lainnya dan mengeksplor keindahan alam? 

Umm, susah nyari kata yang pas untuk menggambarkan pekerjaan impianku yang satu ini. 

Setelah aku searching di Google, aku nemu beberapa istilah yang pas untuk mendeskripsikan keinginanku ini seperti travel blogger (orang yang menulis perjalanannya di blog), travel writer (orang yang menulis perjalanan di buku) tour guide (pemandu wisata), dan reporter wisata. 

Tepatnya sih, kerjaan yang membuatku bisa jalan-jalan ke tempat-tempat baru dan menarik, bisa mempelajari budaya dan bahasanya, dan itu digaji (atau minimal jalan-jalannya bisa gratis). Hahahhaha. 

Nggak tahu diri banget kan? 

Sebagai anak yang suka berada di rumah (bahkan bisa sebulan nggak keluar rumah saking betahnya), sukanya sama buku, minatnya cuma ke tempat makan dan toko buku, nggak pernah jalan-jalan ke alam, rasanya lucu kalo aku bilang aku pengen jadi traveler. 

Tapi, ini memang bener-bener kerjaan impianku lhooooo. Kerjaan impian yang pake rumus, “Seandainyaaa…” “Kalau saja…” “Andaikan…” “Jika saja…”

Contohnya: seandainya aku orang yang punya jiwa adventure, seandainya aku berani keluar dari zona nyaman, seandainyaaaaaa… 

Seandainya kau tau, ku tak ingin kau pergi..

Meninggalkanku sendiri bersama bayanganmu.. 

Eh, salah fokus, malah nyanyi lagu Seandainya Vierra, wkwkkw. 

2. Sutradara

Iyaaa, bener.. Sutradara film dan drama Indonesia (sinetron), wkkkwkwkk.

Seru banget rasanya kalo bisa kerja di dunia entertainment sebagai orang di balik layar. Mulai dari milih naskah, kru, pemeran, dsb. Intinya punya kemampuan memanajemen waktu dan manusia. Waaah, bisa dibayangkan gimana lelahnya kerja di industri kreatif, ya kan?

Oke, itulah 2 pekerjaan impian dari kategori pertama. Selanjutnya, kita masuk ke kategori kedua:  Pekerjaan yang diimpikan karena proses pemikiran yang mendalam dan usaha keras. Kemungkinan besar bisa dicapai. 

1. Penulis Buku dan Editor

Jadi penulis buku adalah keinginanku sejak kecil. Aku pengen nulis buku-buku keren, baik itu fiksi maupun non-fiksi, yang bermanfaat bagi pembaca. 

Sekarang ini, untuk menerbitkan buku terbilang mudah, asal ada uang (dan naskah tentunya) kita bisa nerbitkan buku di penerbit indie.

Tapii, jauh di lubuk hati, aku pengen nantinya bisa diakui sebagai ‘penulis’ dan karyaku diterbitkan di penerbit mayor. 

Selain itu, aku juga pengen banget bisa jadi editor buku. Menurutku, editing itu penting banget dalam tulisan dan setiap penulis, selain memiliki kemampuan menulis juga harus bisa editing karyanya sendiri (minimal hal-hal dasar). Aku mulai tertarik jadi editor sejak gabung ke pers kampus. Rasanya seru aja menyunting dengan tulisan-tulisan orang, yah walaupun kemampuan editingku masih cetek banget.

Untuk mewujudkan impian ini aku harus banyak membaca, banyak menulis, banyak belajar, dan mencari ide sebanyak-banyaknya. 

2. Guru

Sejak dulu aku pengen jadi guru. Ini kerjaan impianku yang paling idealis. Kalo dulu ditanya, “Wahidah mau jadi apa?”

Di saat teman-teman bilang pengen jadi dokter, atau kerja di kantor, aku jawab “Guru! Yaa, aku cuma mau jadi guru.” 

Dulu aku nggak tahu banyak profesi dan menurutku cuma guru yang paling cocok dengan kepribadianku, hahahhahaha.

Aku suka diperhatikan. Aku suka berbagi pengetahuan. Aku suka berinteraksi dengan anak-anak muda. Pokoknya aku suka. Saking idealisnya, dulu aku nggak mikirin kalo gaji guru itu kecil, kelelahan mental dan fisik saat menghadapi murid yang wow. Walaupun sekarang aku udah tahu sedikit tentang sulitnya kehidupan guru, aku tetap ingin jadi guru karena aku merasakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri.

Nah, itulah pekerjaan impianku. Gimana denganmu?  

Iklan