Terkadang pertanyaan ini muncul ketika memikirkan tentang hubungan antara aku dan kamu. 

Kenapa kita berpisah? 

Kadang aku merasa lucu dengan pertanyaan ini. 

Bukankah tidak ada satupun yang abadi di dunia ini? 

Kenapa kita bertemu hanya untuk berpisah?

Kenapa kamu bisa ada di hatiku?

Kenapa aku menyukaimu?

Kenapa kita bisa bersama?

Lantas, kenapa akhirnya kita berpisah?

Orang-orang bilang kita tidak berjodoh. 

Sepertinya benar.

Tapi kenapa aku mempermasalahkan perpisahan kita, sedangkan tiap harinya aku bertemu dan berpisah dengan banyak orang tapi sama sekali tak merasakan apa-apa? 

Kenapa aku masih bertanya tentang hal yang sudah jelas jawabannya? 

Kenapa pertanyaan itu masih muncul di pikiranku?

Apakah kamu juga memikirkan hal yang sama? 

Konyol. 

Sungguh konyol.

Mungkin hanya aku yang berpikir seperti itu. 

Mungkin juga kamu memikirkannya tapi aku tidak tahu.

Tapi kemungkinannya kecil, ya kan? 

Ah ya, ketika kita berpisah, kita saling mengarang alasan. 

Sudah tidak cocok. Prinsip yang berbeda. Lebih baik akhiri saja daripada saling menyakiti. Toh, kita masih bisa saling bertegur sapa sesekali. Mungkin sulit pada awalnya, namun akan terbiasa seiring berjalannya waktu. Kita hidup berdasarkan kebiasaan bukan? Tak perlu secemas itu. Nanti kita akan menemukan sosok yang lebih baik dan mungkin bisa jadi cinta sejati masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri. Kalau rindu, silakan menghubungi. 

Berulang kali kata-kata itu menjadi penguatku.

Apa salahnya dengan berpisah? 

Perpisahan adalah sesuatu yang pasti. Tak perlu dipikirkan. 

Sore ini, kita tak sengaja bertemu. Canggung. Namun ada seberkas kerinduan. Kitapun memutuskan untuk mencari tempat untuk duduk. 

Kita berbicara tentang keadaan masing-masing. Sedang sibuk apa. Keadaan keluarga. Juga membicarakan beberapa orang yang kita kenal. 

Lantas, tiba-tiba pertanyaan itu muncul lagi.

“Kenapa kita berpisah?”

Kita berdiam diri selama beberapa menit. Lalu, seperti diberi aba-aba kita mengucapkan jawabannya di waktu yang bersamaan.

“Karena sudah tak cinta lagi.”

Lalu kita tertawa mengingat alasan-alasan lain saat berdebat mengenai perpisahan itu. 

“Konyol ya. Alasannya sangat sederhana. Aku pikir karena jalan pikiran kita sudah nggak sama. Banyak perbedaan di antara kita.” Katamu sebelum menyeruput kopi.

“Haha. Dulu, katamu perbedaan kita itu seperti pelangi. Memberi warna dalam hidup, tak hanya hitam dan putih.”

“Iyaa. Dulu aku pintar sekali menggombalimu.”

“Aku yang bodoh, senang dengan ucapanmu. Aku lupa bahwa pelangi hanya sebentar saja.”

“Iya. Semuanya dimulai karena ada perasaan cinta. Setelah hilang, tak ada lagi cara berkompromi. Tidak bisa lagi saling menerima.” 

“Yayaya. Sekarang kita lebih dewasa dalam memandangnya. Dulu cinta membuat pikiran tak jernih. Hanya penuh emosi.”

“Oh ya, nomormu masih yang lama?”

“Nggak. Aku udah ganti nomor.”

“Minta nomormu?”

“Nggak usah. Yakin saja, kalau rezeki, pasti bertemu lagi, seperti hari ini, tak direncanakan sama sekali. Seperti saat kita pertama kali bertemu juga.”

“Wah, wah, sepertinya cintamu sudah benar-benar habis ya?”

Aku hanya tersenyum. Setelah beberapa menit, kita pun berpisah. 

Kamu tahu kenapa aku tersenyum?

Karena ada sebagian kecil dari diriku yang ingin tahu, apakah kali ini aku diperjuangkan atau tidak. Untuk mengetahui tentangku sebenarnya tidak sulit bagimu, ya kan? 

Lalu, kamu mau tahu alasan kenapa kita berpisah, dari sudut pandangku? 

Kita berpisah karena kamu sudah tak cinta lagi. Karena kamu tidak bisa menerimaku lagi.

Lantas kalian berpikir bahwa aku tidak bisa move on hingga saat ini. Haha.

Kalian salah.

Aku menuliskan ini karena aku mengimajinasikan monolog ini setelah menonton drama Korea. 

Jadi, ini hanya karangan sederhana sebagai respon menonton drama. 

Iklan