Hai guys!

Saat aku sedang mencari materi tentang karakter dan kepribadian, aku nyasar ke beberapa artikel blog dan menemukan satu kalimat yang sangat menarik yaitu the wisdom of the crowds. 

Akupun mulai searching di Google dengan menggunakan keyword:

What is the wisdom of the crowds? 

Example for the wisdom of the crowds. 

Apa itu the wisdom of the crowds?

Bagaimana memaknai the wisdom of the crowds? 

Saat menggunakan bahasa Inggris, banyak hasil yang keluar walaupun isinya nggak menarik. Sedangkan saat menelusuri bahasa Indonesia, nggak ada yang cocok (topik ini nggak ada yang bahas kayaknya).

Tapi, ada satu tulisan yang menarik yaitu The Wisdom of the Crowds yang ditulis Alex Lickerman.

Artikelnya berbahasa Inggris dan saat aku baca setengah tulisannya, aku mulai capek memahaminya, wkwkwk.

Tapi, aku tertarik dengan contoh yang ia kemukakan di awal tulisan mengenai TWTC ini. 

Dia bercerita bahwa dia memikirkan tentang TWTC ini karena menonton acara televisi Who Wants to be Millionaire.

Aku juga nonton acara tersebut saat masih kecil dan aku menyukainya. Menurutku, itu adalah salah satu acara televisi yang paling berkelas dan bermanfaat. 

Serunya dapet. Tegangnya dapet. Ilmunya dapet. Ya kan?

Seseorang memiliki 3 kesempatan untuk mempertahankan dirinya agar bisa mendapat 1 miliar, salah satunya ask the audience. 

Saat menggunakan ask the audience, penonton diminta untuk memberi jawaban yang kemudian diakumulasikan dalam persentasi. Ajaib, jawaban yang paling banyak dipilih penonton biasanya benar. 

Nah, Lickerman menjelaskan bahwa kejadian itu bisa dianggap sebagai contoh dari TWTC tadi.

Menarik sekali, ya kan?

Saat mendengar kalimat the wisdom of the crowds (tanpa mencari artinya terlebih dahulu), aku langsung menangkap makna tentang kebenaran berdasarkan pendapat banyak orang. 

Secara literal, the wisdom of the crowds di artikan sebagai kebijaksanaan/kearifan dari orang banyak.

Aku sendiri belum menemukan padanan kata yang cocok dalam bahasa Indonesia. Karena itu, aku membuat penyederhanaan kata yaitu kebenaran relatif. Walaupun jika dikaji lebih dalam konsepnya mungkin berbeda. 

Tapi, membahas tentang hal-hal yang berbau ‘kebenaran’ emang beresiko tinggi, apalagi aku cuma orang biasa yang nggak expert di bidang filsafat, wkwkwk. 

Jadi, yang pengen aku tulis di sini sederhana saja. 

The wisdom of the crowds dalam kehidupan sehari-hari.

Jadiiiiii.. Pernahkah kalian mendengarkan kata-kata orang dan kemudian ikut terpengaruh? 

Sebagai contoh, Vera baru saja berkenalan dengan Indah, menurutnya, Indah cukup asyik. Lalu, Vera secara tak sengaja mendengar orang-orang menceritakan tentang Indah itu attention seeker (suka nyari perhatian) dan couple break (suka merusak hubungan orang). Vera nggak mau percaya begitu saja, tapi, setelah mendengar opini yang sama dari banyak orang, mau tak mau penilaiannya bergeser. Dia justru agak khawatir berteman akrab dengan Indah. 

Apakah cerita itu benar? Separuh benar? Atau hanya gosip murahan?

Contoh lainnya, saat kamu sedang mencari buku yang menarik lalu menemukan forum dimana hampir semua orang mengatakan bahwa buku A luar biasa keren.  Saking bagusnya rating buku tersebut, kamupun membeli dan membacanya.

Apakah buku tersebut memang benar-benar luar biasa? Atau buku itu biasa saja? 

Kita, secara sadar atau tidak sering terkena the wisdom of the crowds dalam kehidupan sehari-hari. Ntah itu ke arah negatif atau positif.

TWTC ada karena persamaan pendapat dari banyak orang. 

Dalam kajian Sosiologi, ini berkaitan dengan norma, nilai atau aturan yang disepakati bersama-sama, baik secara lisan maupun tulisan. 

Kasus Indah mungkin saja dipicu dari kesepakatan nilai dan norma dari kelompok tersebut yang merasa tidak suka jika seorang cewek mudah akrab dengan orang lain terutama laki-laki. Kesepakatan ini kemudian menyebar secara lisan. 

Sedangkan dalam kasus buku, bisa saja kelompok tersebut memang menyukai gaya penulisan si penulis sehingga mereka menganggap buku itu keren. Lalu mereka sama-sama menuliskan opini mereka dalam tulisan. 

Dari sinilah aku menarik kesimpulan bahwa TWTC berkaitan dengan kebenaran relatif. Apa yang menurut kelompok A benar, belum tentu juga benar oleh kelompok B. Karena, TWTC itu berdasar pada opini/pendapat. 

Namun, terkadang, ada juga TWTC yang memiliki nilai kebenaran universal, misalnya, orang yang membentak orang tua akan kehilangan hormat dari orang lain. Biasanya, TWTC yang memiliki kebenaran universal itu jika berkaitan dengan ajaran agama.

Yang jadi masalah adalah TWTC yang berindikasi menjadi kebenaran relatif. 

Yayaya, rumit kan?

Pernahkah kita merasa bahwa orang mencap kita tanpa mengenal diri kita lebih dalam? 

Jika yaa, dan kita merasa itu sebuah masalah, maka hal pertama yang harus kita perhatikan adalah bagaimana pandangan orang-orang di sekitar kita terhadap diri kita?

Apa kelebihan kita? Apa kekurangan kita? 

Apa yang disukai dan tidak disukai?

Setelah kita mengetahuinya, kita bisa memutuskan akan melakukan apa. Bisa saja ucapan mereka itu benar dan membuat kita tersadarkan. Namun, bisa juga ucapan mereka salah dan tidak perlu didengarkan atau kita merasa perlu memperbaharui ingatan mereka terhadap image kita dengan menunjukkan hal-hal positif.

Untuk itu, berhati-hatilah pada kekuatan the wisdom of the crowds. 

Sebagai individu, kita perlu evaluasi diri. Sebagai makhluk sosial, kita perlu menjaga ucapan.

Karena, apa yang kita ucapkan, jika disetujui banyak orang akan berkembang menjadi the wisdom of the crowds -Wawa 

Iklan