Hai guys!

Tulisan ini cuma sekedar celoteh aja. Nggak begitu penting, eh, tapi penting juga sih dibaca oleh orang yang ada niat menjual sesuatu atau memang seorang penjual.

Kenapa judulnya pembeli yang mengalah pada penjual? 

Yaaah, karena kalo judulnya penjual yang mengalah pada pembeli, itu udah biasa, wkwkwkkwk. 

Kan dalam dunia jual-beli udah terkenal banget istilah, ‘pembeli adalah raja’. Jadi, kalo penjual ‘mengalah’ yaaaa, memang lazimnya seperti itu. 

Tapiiiiii, bukan artinya aku merendahkan posisi penjual ya. Bukan itu maksudnya. 

Dalam kehidupan sehari-hari bahkan di drama Korea atau di sinetron Indonesia, kalimat ‘pembeli adalah raja’ menempatkan posisi penjual lebih rendah daripada pembeli. 

Pembeli: raja: superior.

Penjual: pelayan: inferior.

Sehingga, sering kita temui fenomena di mana pembeli melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan (memarahi, membentak, memaksa, dsb) lantaran gelar ‘raja’ yang ia peroleh karena posisinya sebagai pembeli. 

Mungkin, penjual, merasa lelah dan muak dengan hal itu. 

Namun, perlu disadari bahwa sikap orang beda-beda. Tetap ada yang baik, namun ada juga yang buruk. Kesalahan kita adalah menyamaratakan semuanya. 

Eh, maksudnya apa? 

Sering sekali aku bertemu seorang penjual yang keburu pasang muka ketus saat aku ingin membeli sesuatu. Mungkin karena aku masih muda, kali ya. Atau karena aku kurang penting? Mungkin si penjual berpikir aku hanya lihat-lihat saja dan pertanyaanku akan mengganggunya. Mungkin juga dia berpikir aku ini sama menyebalkannya dengan pembeli sebelumnya, jadi dia melampiaskan rasa kesalnya pada pembeli lainnya. 

Yaa, masalah muka ketus ini memang mengganggu sekali. 

Sebagai pembeli, jika kebetulan bertemu penjual seperti itu, rasanya kesal dan menyesal. Kenapa harus beli di situ? Lain kali, nggak usah ke situ lagi.

Di waktu lain, sering juga aku bertemu dengan penjual yang memberikan barang kualitas lebih buruk dari yang dipajang. Saat diprotes, ia bilang, “sama aja ini.” Dan ketika aku minta ganti, dia ngomel-ngomel. Lah, sebenarnya aku ini dianggap apa buuu?

Atau, saat aku ingin membeli sebuah barang merek A berwarna B, lantas aku diberikan barang dengan merek A namun warna Z. Saat dia sudah mengguntingnya, lalu aku menyadari hal itu dan mengatakannya, ada yang meminta maaf padaku dan mengambilkan barang yang kuinginkan, namun ada juga yang menatapku seolah aku konyol. ‘Cuma beda warna aja dipermasalahkan’ tertulis di keningnya. Hufft.

Contoh lainnya, saat aku memesan makanan. 

Aku: Bu, nggak pedas ya. 

Dia: Yayayaya (dengan wajah tidak begitu peduli).

Aku: Jangan pedas ya bu (aku mengulanginya lagi aaat dia mulai memasakkan untukku).

Lalu, saat makanan dihidangkan dan mulai dicicipi, ternyata dia lupa pesanku tadi. Lantas, bagaimana denganku? 

Aku nggak tahan makan makanan pedas dan saat aku mewanti-wanti, dia berdecak tak senang menganggapku heboh. 

Harusnya, aku minta ganti kan? 

Padahal aku tipe pembeli yang sangat segan ke penjual. Aku nggak mau menyusahkan mereka. Terkadang, saat aku merasa bahwa makanan tersebut masih bisa kumakan walaupun sambil menahan air mata karena pedas, aku putuskan untuk tidak mempermasalahkannya. 

Atau saat aku memesan jus tidak pakai es dan sedikit gula, namun saat dihidangkan, jus itu menggunakan es dan gula yang banyak seperti jus biasa. Mungkin hal ini sepele bagi orang lain, tapi tidak denganku. Bukan karena aku sok atau bagaimana, hanya saja, aku tidak bisa menikmatinya, padahal sesuatu dibeli untuk dinikmati, ya kan? 

Hingga saat ini, aku masih tipe pembeli yang segan pada penjual. 

Terkadang, aku masih terkejut dan belum terbiasa jika sedang berkumpul dengan teman dan saat mereka tidak suka dengan makanan tersebut atau jika hidangan tak sesuai dengan pesanan mereka berani memprotes dan meminta ganti dengan pesanan yang benar. Padahal itu memang berhak dilakukan, ya kan? 

Kadang juga, saat aku mengunjungi penjual langgananku membeli lauk, dia bercerita bahwa cabe yang dia pakai ternyata cabe gunung yang super pedas. Mau tak mau aku mengatakan bahwa dia harus memasukkan cabe lebih sedikit dari pada biasa di makananku karena sebelumnya aku kepedasan saat makan di kos.

Aku: Kak, jangan pedas ya.

Dia: Iya, pedas ya? Cabe gunung ini. Banyak yang kepedasan tapi suka.

Aku: Iya kak, pedas kali. Yang kemarin itu.

Dia: Lha, kenapa nggak balik. Kan bisa kakak masak yang baru?

Aku: Nggak apa-apalah. Tapi lain kali kalo saya yang pesan, kakak udah tahu jangan pedas ya. 

Saat menemukan penjual yang seperti itu aku merasa bersyukur bahwa dia baik dan merasa menyesal karena kesalahannya. 

Yah, rasanya melelahkan saat bertemu penjual yang meremehkan pembeli dan merasa senang saat bertemu penjual yang menghargai pembeli. 

Karena pengalaman-pengalaman itu, aku menuliskan tentang hal ini. 

Mungkin saja, ada penjual yang membaca tulisan ini. Aku ingin mengatakan bahwa ada pembeli yang segan pada penjual. 

Ada pembeli yang tidak mempermasalahkan kesalahan penjual asalkan penjual tidak bersikap ‘kasar’. 

Ada pembeli yang tidak menuntut banyak pada penjual namun hanya ingin ucapannya didengarkan dengan seksama.

Ada pembeli yang merasa tidak nyaman jika air muka si penjual keruh.  

Karena, bagaimanapun pembeli adalah pembeli yang berhak mendapatkan yang terbaik sesuai dengan yang ia keluarkan. Dan karena penjual merupakan salah satu pekerjaan yang membutuhkan keseriusan, kesabaran dan ketulusan. 

Memang benar banyak penjual yang mengalah pada pembeli, namun ada juga pembeli yang mengalah pada penjual. Yang perlu dilakukan adalah saling menghormati dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Iklan