Hari ini adalah hari kelima sejak aku masuk SMA. Tidak ada hal yang menarik, tapi belum membosankan. 

Katanya, masa SMA itu masa paling indah. Benarkah? 

Hmm, aku belum bisa berkata apa-apa karena aku belum punya banyak pengalaman. 

Bel pergantian pelajaran baru saja berbunyi. Aku menatap ke luar jendela, mengamati situasi sekolah ini. 

Sekolah ini adalah sekolah negeri satu-satunya di daerahku. Tidak terlalu besar. Di depan kelas ada sebuah pendopo, beberapa siswa tampak sedang duduk di situ sambil menikmati jajanan yang mereka beli di kantin. Enak sekali, guru mereka tidak masuk ke kelas dan mereka bebas berkeliaran seperti itu.

Haha, aku lucu, ya kan? 

Pergi ke sekolah, namun lebih suka jika tidak belajar. Tapi, kurasa banyak pelajar yang berpikir sepertiku jika mengingat hampir semua siswa selalu bersorak senang jika guru berhalangan masuk ke kelas.  

Lamunanku terhenti saat melihat seorang wanita muda berjalan melewati pandanganku. Ia melihatku menatap ke luar kelas, hanya sepersekian detik, lalu ia berjalan menuju pintu kelas. 

Pasti guru bahasa Indonesia karena ini mata pelajaran kelasku selanjutnya dan sepertinya dia guru baru. 

Kenapa dia datang, sih? 

Kenapa guru yang ngajar di kelasku ini rajin-rajin sekali? Sejak hari pertama, semua guru masuk tepat waktu.

Tapi, ya sudahlah. Ini kan masih minggu pertama. Paling-paling kami hanya melakukan perkenalan, seperti biasa. Lagian, ini dua jam terakhir. Mungkin setelah sedikit berceramah, dia mengizinkan kami untuk tidur daripada membuat keributan. 

“Selamat siang. Perkenalkan nama saya Ayu. Mulai hari ini saya akan mengajar pelajaran bahasa Indonesia.”

Namanya Ayu, tapi wajahnya biasa saja. Yah, walaupun tampak segar karena masih muda. 

Mari kutebak, apa yang akan dia ucapkan.

“Baiklah. Karena hari ini hari pertama, saya ingin berkenalan dengan kalian. Tak kenal maka tak sayang. Jika tak kenal maka kenalan. Silakan sebutkan nama, hobi, alamat, asal sekolah.” Aku tersenyum kecil saat memikirkan permintaan semua guru yang masuk beberapa hari ini. 

“Baiklah,” bu Ayu mulai membuka mulutnya, “Saya rasa semuanya sudah saling kenal kan? Jadi, saya ingin kita bermain sebuah game, You know me or not.”

Sial! Cuma kata pembukanya aja yang sama. 

Aku mulai menatap wajah teman-teman satu kelas. 

Asing.

Kenapa harus dites segala? Dia pikir gampang ngingat nama 39 siswa lainnya? Kami kan baru satu kelas selama 5 hari. Aku saja baru tahu beberapa nama anak cowok di kelas ini. Anak cewek? Yaa ampun, mereka banyak banget dan heii, untuk apa ngingat mereka secepat itu, nanti juga ada saatnya, kan. Misalnya, saat tugas kelompok. 

Aku mendengar yang lain juga mulai ribut, saling bertanya pada teman semeja. 

Oke, jika situasinya seperti ini, aku harus menghindar dari tatapan bu Ayu. Aku menekuni buku tulis seolah ada cerita menarik tertulis di situ. Setahuku, guru lebih suka menunjuk siswa yang menatap matanya. 

“Ya, kamu.. Yang duduk di dekat jendela.”

Dekat jendela? Mau tak mau aku mendongak dan tatapan kami bertemu. 

“Saya?” aku menunjuk diriku sendiri.

“Iya, kamu yang tadi asyik membaca buku. Silakan berdiri.”

Akupun berdiri.

“Siapa nama dia?” bu Ayu menunjuk seorang cewek yang duduk di meja pertama barisan kedua.

Cewek itu memutar tubuhnya ke arah belakang. Tatapan kami bertemu. Ia tersenyum. Sepertinya dia bendahara kelas, tapi aku nggak ingat namanya.

Sial! Siapa sih namanya? 

“Nggak tahu, bu.”

Aku melihat wajah cewek itu berubah. Senyumnya pudar.

“Oke. Kalo dia?” bu Ayu menunjuk seorang cewek yang duduk di seberang mejaku. 

Ya Tuhan. Cewek ini sempat mengajakku berbicara beberapa kali karena tempat duduk kami sangat dekat. Tapi, aku tetap nggak tahu. 

Tatapan kami bertemu. Tak seperti si bendahara, dia tidak tersenyum. Wajahnya tampak ragu-ragu seperti cemas bahwa aku juga nggak mengingat namanya.

Baiklah. Baiklah. Aku akui aku parah banget! Sekarang, tolong hentikan hal ini, bu Ayu! Aku menatap bu Ayu dengan tatapan memelas. Namun, beliau sepertinya ingin menyiksaku lebih lama. Ia masih menunjuk beberapa orang lagi dan yaaah, aku tetap menggeleng. 

Cukup untuk membuatku menjadi cowok paling payah dan brengsek. Kenapa? Karena beberapa dari mereka memang pernah berbicara padaku. 

Kenapa bisa hal sepele seperti ini membuatku benar-benar malu? 

“Silakan duduk.”

Ha? Kenapa cuma disuruh duduk? 

Ya, aku senang sih, tapi sejujurnya aku berharap bu Ayu menyuruh si bendahara dan cewek-cewek itu mengucapkan namanya. 

Sungguh, aku sedang tertarik untuk mendengar perkenalan dari mereka. Aku janji, aku bakal ingat mereka. 

Namun, bu Ayu malah meminta Dimas, sang ketua kelas untuk berdiri.

“Nana.. Vika.. Rini.. Sena.. Dila..”

Aku khusyuk memperhatikan cewek-cewek yang disebut oleh Dimas. Sepertinya dia benar, karena mereka tersenyum. 

Dimas memang ketua kelas yang bisa diandalkan. Padahal dia baru diangkat jadi ketua kelas 3 hari yang lalu, namun dia mengingat nama teman sekelasnya. 

Apa mereka satu sekolah? Apa mereka saling mengenal sebelum ini? 

Tapi, seingatku, Dimas salah satu cowok yang datang dari sekolah antah-berantah. 

Lalu, bu Ayu meminta seorang cewek yang duduk di meja depan paling ujung untuk berdiri. 

Bu Ayu menunjukku. Cewek itu menatapku. Ntah kenapa aku merasa harus sedikit tersenyum saat dilihat seperti itu. Mungkin agar terlihat ramah? 

Wajahnya berkerut. Dia tampak berusaha mengingat namaku. Aku seperti menatap cermin saat melihat ekspresinya. Mungkin wajahku juga seperti itu saat tadi tidak bisa menjawab.

Akhirnya dia menggeleng. Aku merasa agak susah bernafas. Kecewa? Padahal, aku lumayan ganteng lho, masa dia nggak tahu namaku? 

Lalu, bu Ayu meminta seorang cewek yang duduk di bangku paling belakang untuk berdiri. Lagi, lagi, bu Ayu menunjukku. 

Sepertinya bu Ayu suka padaku. Kenapa dia selalu menunjukku? 

Aku menatap cewek itu. Dia juga menatapku. Aku masih berharap dia tahu namaku. Maksudnya, aku lumayan dekat dengan Dimas sang ketua kelas! Biasanya kan teman ketua kelas itu terkenal juga.

Dia juga menggeleng. 

Lagi, aku merasa ada seberkas kekecewaan. Inikah rasanya terabaikan? Tidak dikenal? Tidak diingat? 

Bu Ayu meminta si bendahara untuk berdiri lalu dia menunjuk ke arahku.

Si bendahara melihatku sebentar lalu dia memalingkan wajahnya saat aku balas menatapnya. 

“Adit.” 

Kemudian, dia menyebutkan beberapa nama cewek dan cowok yang ditunjuk bu Ayu.

Aku menunduk. Aku benar-benar merasa malu. 

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali memperhatikan permainan tersebut sambil berusaha mengingat wajah dan nama teman-teman yang lain. Sulit memang, namun tidak sepayah yang kubayangkan. Aku mulai bisa mengingatnya walaupun harus mengaitkan sesuatu pada mereka, misalnya posisi tempat duduk. 

“Oke, saya rasa cukup. Nah, apa manfaat dari permainan ini?”

“Kita bisa lebih termotivasi untuk mengingat nama teman kita,” jawab Dimas.

“Kita bisa menunjukkan bahwa kita kenal dengan orang lain,” jawab Nana. 

“Kita bisa menunjukkan kepedulian lewat hal-hal kecil.”

“Kita jadi tahu siapa yang nggak memperhatikan kita,” jawab si bendahara.

Aku tahu dia membicarakan aku. Sepertinya aku melukai harga dirinya. 

Ntah ada angin apa, aku mengangkat tangan dan mulai berbicara, “Kita jadi menghargai sebuah nama. Ternyata mengingat nama itu penting.”

“Ya, bagus sekali. Kalian tahu kenapa saya melakukan hal ini?” Dia menatap kami. 

Aku yakin pasti ada yang mereka pikirkan, namun kami serentak memutuskan untuk diam. 

“Sesuatu akan lebih berharga jika kita sudah merasakan manfaatnya. Saya yakin, beberapa hari ini guru selalu nyuruh kalian kenalan kan? Tapi, karena kalian nggak merasakan langsung efek dari kegiatan itu, kalian jadi sepele. Ah, nanti juga bisa. Ah, nanti kenal sendiri. Lama-lama juga bisa. Alasan-alasan seperti itu hanya akan membuat kalian tidak berkembang.”

“Saya akan kasih tahu kalian beberapa fakta menarik tentang perkenalan. Pertama, kesan pertama akan selalu melekat pada ingatan seseorang.”

“Kedua, jika kesan pertama itu tidak menyenangkan, kalian butuh waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya.”

“Ketiga, cara tepat memperbaikinya adalah menjadi teman dekatnya dan meyakinkan bahwa penilaiannya itu tidak benar dengan tindakan-tindakan kita.” 

“Keempat, biasanya, saat di lingkungan baru di mana kita tidak mengenal orang lain, seberapa cepat dan seberapa banyak orang yang kita ajak kenalan dan ngobrol, merekalah yang akan akrab dengan kita. Karena, setelah beberapa hari, orang-orang mulai membentuk kelompoknya masing-masing. Mencari orang yang memiliki kesamaan dalam cara berpikir dan bertindak. Jika kita melewatkan kesempatan itu, maka akan sulit untuk akrab dengan mereka.”

“Kelima, walaupun semua yang saya katakan itu terdengar menakutkan. Namun jangan khawatir. Setiap kamu ajak seseorang bicara dengan sopan dan tutur kata yang baik, mereka pasti kan merespon.”

Kenapa ucapannya menohok sekali?

“Selanjutnya.. Karena buku cetak belum ada, saya mau kalian menulis.”

Oke, aku kembali menebak apa yang akan dilakukan bu Ayu. Walaupun tadi perkiraanku salah, kali ini aku yakin, tebakanku benar. 

Bu Ayu akan menyuruh kami membuat karangan tentang liburan atau pengalaman saat SMP di kertas selembar. 

Aku yakin itu. Karena, guru bahasa Indonesia selalu begitu. Tiap liburan semester atau tahun ajaran baru, mereka pasti menyuruh kami untuk buat karangan seperti itu kalo sedang tidak tahu mau melakukan apa. 

“Saya minta kalian ambil kertas dua lembar dan tuliskan nama serta kelas.”

Tuh kan.

“Kemudian, saya mau kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan dengan jujur.”

Eh? Pertanyaan? Dia ngasi soal di hari pertama pelajaran?

“Pertama, kenapa kamu sekolah?”

Eh? Kenapa bersekolah? 

“Kedua, kenapa kamu melanjut ke SMP?”

“Ketiga, kenapa kamu memilih SMA daripada SMK?”

“Keempat, kenapa kamu memilih jurusan IPA?”

“Kelima, apa cita-citamu?”

Aku menatap kertasku. Membaca ulang pertanyaan tadi. Apa-apaan ini? Dia nyuruh kami buat esai? 

“Jawabnya tidak perlu rumit. Cukup utarakan apa yang kalian pikirkan dan rasakan.”

Kenapa aku sekolah? 

Ya, kalo aku nggak sekolah, terus aku ngapain? Nganggur di rumah? Nggak mungkin kan? Sekolah itu kan wajib untuk kami. Katanya wajib SD, SMP dan SMA. Kalo nggak sekolah, aku nggak bakal dapat jajan juga. Ih, di rumah pasti suntuk bangetlah. 

Nggak mungkin aku nulis seperti yang aku pikirkan ini kan? 

Kenapa aku melanjut ke SMP? 

Hm, karena aku udah tamat SD, jadi harus lanjut SMP kan? Nggak banget kalo sekolah cuma sampe SD doang. Lagian, walaupun nggak banyak uang, orang tuaku masih mampu bayarin sekolah. Malah menurut mereka sekolah setinggi-tingginya itu penting supaya masa depan cerah. 

Kenapa aku memilih SMA daripada SMK?

Karena SMA itu lebih elit daripada SMK. SMK di sini anaknya nggak beres semua. Begajulan. Biasanya mereka itu nggak lulus ke SMA ini, atau nggak pengen kuliah. SMK di sini pun nggak ada yang negeri. Pokoknya pilihan terakhirlah. Oke, oke, ada juga yang pengen bisa cepat kerja supaya nggak memberatkan orang tua. 

Kenapa aku milih jurusan IPA?

Ya karena IPA itu lebih keren. Anak IPA kan nanti bisa ambil jurusan IPA dan IPS. Semua orang bilang gitu, ya kan? Anak IPS itu males belajar, gurunya juga lebih bagus yang IPA, katanya sih. Aku juga nggak tahu. Kemarin, aku pengen ambil IPS, tapi kata orang tuaku lebih bagus IPA. Ya, karena aku nggak bodoh-bodoh banget, yaudah masuk IPA juga nggak apa-apa. 

Apa cita-citaku? 

Hm.. Apa ya? Aku nggak pernah benar-benar mikirinnya sih. Kalo dulu ditanya orang, biar agak bagus aku jawabnya polisi atau tentara. Tapi sebenarnya aku nggak pengen-pengen banget. Eh, tapi kadang aku jawab dokter atau pengusaha, soalnya keren kan, banyak uang gitu. 

Aku nyaris ingin tertawa atas apa yang kupikirkan. Apa aku tulis seperti itu saja?

Tapi, malu lah kalo jawabnya sesantai itu. 

Lagian, ternyata sulit juga untuk jujur ya? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku bisa bereaksi jujur. Biasanya cuma respon dalam pikiran doang, seperti saat ini. 

Kalo dipikir-pikir, kenapa aku nggak pernah memikirkan pertanyaan-pertanyaan sesimpel ini ya? Selama ini aku mikirin apa aja sih? 

TK, SD, SMP lanjut SMA. Kira-kira aku udah pergi ke sekolah lebih dari 10 tahun, tapi aku nggak punya alasan yang bagus untuk melakukan semua ini. 

Karena harus?

Karena orang tua bilang seperti itu?

Karena orang-orang di sekelilingku juga sepertinya melakukan hal yang sama? 

Aku menatap teman-teman sekelasku. Memang banyak anak yang lumayan pintar di kelas ini, tapi kalo untuk masalah motivasi dan semangat belajar, kayaknya kami sebelas-dua belas. Soalnya, kami sering ngantuk saat belajar, males-malesan, lebih suka baca komik atau novel, diam-diam ngidupin musik di hp pake headset atau main hp, kirim broadcast dan chatting-an sama teman-teman yang lain. 

Kalo ada yang bilang masa SMA itu masa yang indah, kayaknya sampe saat ini aku belum pernah dengar ada orang yang memasukkan belajar sebagai salah satu contoh momen indahnya, ckckkck.

“Sudah siap?” Suara bu Ayu membuyarkan renunganku.

“Belum buuu..” 

“Sebentar lagi bel pulang. Tugas itu jadi PR saja ya. Kalian bisa diskusi dengan teman, atau orang tua. Bisa juga cari referensi dari baca buku dan di Google, tapi saya ingin kejujuran kalian. Minggu depan saya akan panggil beberapa orang untuk menceritakan jawabannya.”

Aku menelan ludah. Sepertinya aku harus mengerjakannya dengan serius. Mungkin saja minggu depan aku diminta maju ke depan dan membacakan jawabanku. 

Ah, aku bakal malu untuk kedua kalinya kalo sempat jawabanku nggak bagus. Dan yang paling penting, sejujurnya aku agak penasaran dengan jawaban yang nantinya aku tulis setelah cari-cari bahan.

Oke, hari ini aku dapat dua PR. Menghafal nama teman-teman sekelas supaya nggak dianggap sombong atau hmm, lebih tepatnya berkenalan dengan mereka dan memikirkan jawaban 5 soal ini. 

Iklan