Hai guys!

Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalamanku mempelajari bahasa Inggris selama ini.

Bukan karena kisah ini inspiratif, atau aku ngerasa bahasa Inggrisku bagus karena (kebetulan) kuliah di program studi pendidikan bahasa Inggris atau semacamnya.

Aku hanya ingin mendokumentasikan kenanganku mengenai aku dan proses belajar bahasa Inggris yang kualami selama ini. 

Mana tahu, suatu hari nanti aku lupa, aku bisa kembali mengecek tulisan ini. 

Karena, semakin lama sesuatu berlalu, semakin pudar ingatanmu. 

Aku rasa, 22 tahun sudah cukup lama kan? 

Bahkan aku perlu mengorek-ngorek kembali ingatanku yang sudah diarsipkan, wkwkkwk.

So, it will be a long story. An ordinary story from an ordinary girl. 

*

Suatu hari saat PPL, aku mengajar di kelas VII-4. Setelah menyapa siswa dan memaksa mereka mengulangi jawaban-jawaban mereka hingga berulang kali dengan harapan mereka akan memahami dan terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat sederhana itu, akupun bertanya apakah ada PR atau tidak.

Murid: Ya, ada miss.

Aku: Buka bukunya, mau saya lihat dulu. 

Aku memeriksa kerjaan mereka dan yaah, banyak di antara mereka yang tidak mengerjakannya. 

Mau marah? Tidak ada gunanya. Malah bisa merusak mood.

Akupun mengambil spidolku dari kotak pensil serta penghapus kelas yang ada di atas meja lalu bergerak ke arah papan tulis.

Aku: Oke, apa soal nomor satu? 

Mereka pun membacakannya. Karena malas menulis soal dalam bahasa Indonesia, aku langsung membuat bahasa Inggrisnya. 

Aku: Coba cek yang kalian kerjakan ya. Harus jujur. Nanti saya periksa pas kasi nilai. Saya tahu lhoo, kalo ada yang benerin atau ngisi diam-diam. Oh ya, kalo jawaban kalian salah, tulis jawaban benarnya di bawah soal itu, jadi kalian tahu yang benarnya gimana. 

Setelah selesai mengerjakan 10 soal, aku membalikkan tubuh namun agak terkejut. Seorang siswa yang seharusnya duduk di meja belakang, kini duduk di meja paling depan. Tangannya menahan dagu, ia menatapku dengan serius. Lalu dia geleng-geleng kepala.

Aku: Kenapa? Ada yang salah?

Aku menghampirinya lalu melihat buku latihannya.

Aku: Kok nggak diperiksa? Ngapain aja dari tadi?

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah berkata yang lain.

Dia: Nggak miss, tadi lihatin miss. Heran aja.

Aku: Heran kenapa?

Dia: Miss kok pintar kali?

Aku: Haa? Pintar?

Aku ngerasa bingung dengan ucapannya.

Dia: Ituu, kok bisa jawab soalnya tanpa bawa buku. Pas kami bacakan soalnya langsung miss bahasa Inggris kan. Kok bisa miss? 

Oooooh. Ternyata itu..

Aku ingin mengelak dari pertanyaannya tapi dia kembali mencecarku dengan pertanyaan yang sama.

Aku: Kalo di kuliah, masih banyak teman miss yang lebih pintar dari miss. Saya bisa ngerjainnya karena saya sudah pelajari ini.

Dalam hati aku menambahkan, “Yaa ini soal kan aku yang buat, masa iya aku nggak tahu jawabannya. Lagian, ini kan masih dasar banget soalnya untuk pelajaran SMP.”

Aku: Nanti, kalo kamu belajar sungguh-sungguh, kamu juga bisa ngelakuin ini seperti saya. 

Setelah itu, pelajaran kulanjutkan. 

*

Itu adalah salah satu percakapan yang tidak kulupakan selama mengajar di PPL. 

Sederhana sekali. Namun, aku cukup terkejut, karena ketika aku masih jadi pelajar dulu, aku sepertinya nggak pernah menunjukkan hal seperti itu pada guruku. Memuji dan bertanya tentang caranya belajar. 

Dari kejadian itu, aku juga semakin menyadari bahwa apa yang menurut kita biasa, mungkin saja luar biasa bagi orang lain. Artinya, kita tidak boleh menyepelekan apapun yang kita lakukan hanya karena kita berpikir itu ‘sudah biasa’.

Namun, bukan berarti kita harus membanggakan diri atau sejenisnya. 

Hal-hal seperti ini membuatku makin menyadari bahwa pengalaman sekecil apapun harus ditulis. Walau hanya berformat diari (catatan harian). Karena, seiring berjalannya waktu, ingatan itu akan tertutup oleh ingatan yang paling baru. 

Aku jadi teringat bahwa hampir semua orang hebat yang kukenal dan kubaca karyanya, mulai menulis catatan harian sejak kecil. Soe Hok Gie, Pramoedya Ananta Toer, Soekarno, Hatta, Djamin Ginting, dsb. 

Lewat catatan-catatan itu mereka belajar dan mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman mereka. 

Tulisan, adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan, ya kan? Sebuah peradaban baru diakui jika ditemukan tulisan-tulisan mengenainya. 

Aku masih ingat saat membaca buku biografi Ny. Likas, istri alm Djamin Ginting (pahlawan yang terkenal di Sumatera Utara) yang ditulis oleh Hilda Unu Senduk. DG suka sekali menulis buku harian. Saat perang terjadi, buku hariannya lah yang lebih dulu ia selamatkan dibanding harta benda yang lain. Ia bahkan pernah menangis ketika kehilangan beberapa buku hariannya. 

Ahh, aku jadi teringat, sebenarnya aku ingin sekali teman-temanku (khususnya yang sekelas dan sejurusan denganku) untuk menulis pengalaman belajar mereka selama ini. Aku ingin membacanya. 

Mungkin aku bisa mulai dari anak #Bloggers’ Challenges? Hmm, mas Arif, mas Boy, Hera, Dwita, Nadya, Lusty, dan Betha. Kira-kira mereka mau nggak ya?

Baiklah, aku mulai saja cerita intinya ya. 

*

Mungkin, sejak kecil, kemampuanku yang paling menonjol adalah suka mempertanyakan (memprotes) sesuatu, membaca cerita dan menulis. Menulis di sini, awalnya karena aku suka tulisanku yang (menurutku) lumayan cantik sehingga aku sering menyalin tulisan yang mamak contohkan hingga berlembar-lembar. 

Baca postingan: aku dan menulis.

Lalu, aku mulai menulis diari akibat kontaminasi sinetron dan film remaja (di mana tokoh-tokoh cewek biasanya menulis diari atau surat untuk orang yang dicintainya). Untuk masalah akademik, aku mulai menulis karangan saat SD. Aku ikut lomba menulis tentang Ki Hajar Dewantara. 

Baca postingan: mungkin aku pernah berkompetisi?

Dulu, bagiku, bahasa Indonesia adalah bahasa satu-satunya. Aku mendengar, membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, walaupun ayahku suku Nias dan mamakku Jawa. 

Jika mendengar orang berbahasa yang lain, kepalaku pening, wkwkkwk. Dan kebetulan, lingkunganku hampir seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia.

Jadi, bisa dikatakan bahasa pertamaku adalah bahasa Indonesia. 

Suatu hari, di kelas 6 (sepertinya), hadirlah seorang guru baru. Dia mengajar bahasa Inggris. 

Asing sekali. 

Aku bahkan nggak ingat apa yang kupelajari dan suasana belajar bahasa itu. Tahu-tahu aku sudah lulus SD dengan nilai yang cukup baik. 

Akupun mendaftar ke SMPN 1 di daerahku. Sebenarnya, aku pengen ke SMPN 2 karena kata orang-orang itu lebih populer. Namun, mamakku bilang SMPN 1 saja, karena mamak lulusan SMP itu. Katanya, SMPN 2 baru-baru saja populer. Akupun masuk SMPN 1 dan setelah mengerjakan soal penempatan kelas, aku ditempatkan di kelas VII-3. Setelah melihat kondisi fisik sekolah, aku rasa SMP-ku itu lebih keren daripada SMP tetangga, haha. Btw, kenapa aku membahas ini?

Aku lanjutkan.

Bencana dimulai.

Saat SD, walaupun tidak begitu pintar, tapi aku lumayan menonjol dan jadi tempat contekan. Setidaknya, aku bisa mengikuti semua pelajaran walau agak kesulitan di Matematika. 

SMP terasa agak berbeda.

Teman-teman dekatku di SD sudah punya teman baru dan membentuk kelompoknya sendiri. Selain belajar, pembahasan paling hits ya tentang cowok. 

Permasalahanku muncul dalam belajar. Guru menerangkan, lalu memberi soal. Kami harus menyelesaikan dan mengumpulkan jawabannya. Pelajaran Matematika dan Fisika benar-benar bikin depresi. 

Aku heran, kenapa aku nggak bisa ngerjakannya, sedangkan yang lain bisa? Aku coba untuk mengerti, tapi nggak ngerti juga. Fyi, aku punya trauma dalam belajar hitung-hitungan, jadi yaaahh.. You know lah, alasan klise.

Selain pelajaran eksakta, pelajaran lain bisa kuikuti. Apalagi cara belajarnya didominasi metode CBSH (catat buku sampai habis). 

Namun, ada satu pelajaran lagi yang menjadi momok mengerikan. 

Yak, bahasa Inggris. 

Aku tidak ingat bagaimana dan apa saja yang dipelajari di kelas itu. Hanya saja, ada satu momen yang paling tidak bisa dilupakan dan sangat berbekas di ingatan. 

Tidak seperti pelajaran lainnya, pelajaran bahasa Inggris punya sesuatu yang berbeda. Jika di pelajaran lain, guru meminta kami mencatat, mengerjakan soal dan mengumpulkan jawaban agar dinilai, atau sesekali meminta kami menulis jawabannya di papan tulis (dengan bekal buku tulis di tangan) yang masih bisa diakali. Ada satu yang tidak bisa dielakkan, yaitu, ujian lisan bahasa Inggris. 

Suatu hari, kami disuruh menghapal sebuah teks pendek (sepertinya teks deskripsi). Salahku, karena aku lupa ujian itu. Namun, saat diingatkan kawan, aku mulai menghafal dengan serius. 

Bagiku, sesederhana apapun teksnya, tetap sulit. 

Aku tidak bisa mengingat keseluruhan teksnya karena aku betul-betul tidak memahami makna teks itu.

Aku tidak bisa mengucapkan bahasa Inggris itu dengan pelafalan yang benar. Bahkan membacanya dalam bahasa Indonesia saja sudah sulit apalagi mengingat pelafalan bahasa Inggrisnya yang tidak sesuai tulisan. 

Contohnya saja, I (saya) dibaca ai. He (dia laki-laki) dibaca hi. School (sekolah) dibaca skul. Beautiful (cantik) dibaca byutiful dsb. 

Karena tugasnya hafalan, artinya aku harus hafal mati hingga titik komanya. 

Jika aku lupa satu kata, maka kata selanjutnya juga ikut buyar. 

Aku juga tidak bisa mengarang kalimat lain karena tidak mengerti apa-apa. 

Belum lagi, aku punya masalah dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, face to face. Terlalu gugup dan takut.

Ah, pokoknya bencana.

Giliranku dipanggil. Akupun maju ke depan. Dia mulai mendengarkan.

Sejak kalimat pertama, aku sudah melakukan kesalahan. Lupa urutan kata. Lalu, salah pelafalan. 

Dia pun mengoreksi ucapanku, berniat membantu, tapi, justru membuyarkan kata-kata selanjutnya. 

Aku masih mencoba untuk mengucapkan hafalanku, tapi, nggak ada sense-nya. 

Salah. Gagal total.

Akupun terdiam. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku, berbisik, “Kamu ini perempuan macam apa? Ngapain aja, menghafal gitu aja nggak bisa! Banyak kali yang kamu urusin di rumah sampe nggak bisa hafal? Kenapa teman-temanmu bisa?”

Kira-kira seperti itu. 

Aku merasa seperti menginjak tumpukan kaca. Merasakan sakit dan ketakutan. Batinku sudah histeris, namun yang bisa kulakukan hanya diam. 

Aku tipe anak yang sensitif. Aku takut kaca. Aku takut dihina. Aku takut diremehkan. Aku menjadi negatif. 

Aku lihat teman-temanku yang lain sibuk menghafal. Mungkin karena aku diam saja dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dia menyuruhku duduk.

Di tempat duduk, temanku bertanya, lalu kujawab dengan wajah biasa, “Ya gitulah, susah. Nggak bisa selesai.”

Kawanku pun maklum karena diapun kesulitan dan kami tidak membahasnya lagi.

Hanya saja, diam-diam, aku merasa benci semuanya. Aku benci diriku, aku benci guruku itu, aku benci bahasa Inggris. 

Aku nggak tahu apakah hanya aku yang diperlakukannya begitu, atau ada temanku yang lain juga. 

Yang aku pikirkan saat itu, “Kenapa kau nggak bisa melihat kesungguhan dan usahaku untuk menghafalnya? Kenapa kau harus mengatakan hal itu? Kenapa aku harus menghafalnya? Apa gunanya? Kenapa.. Kenapa.. Kenapa?”

Tahukah dia bahwa saat aku lulus SD, aku hanya tahu beberapa kosa kata:

School: sekolah

Beautiful: cantik

I love you: aku cinta kamu

Cuma itu..

Jadi, ketika aku berusaha menghafal kalimat-kalimat lengkap, tahu susahnya seperti apa?

Sejak saat itu, aku anti dengan bahasa Inggris. Aku nggak mau mengerjakan soal-soal dengan serius, hanya mengandalkan contekan dari kawan. Saat ujian, aku juga tidak memaksakan diri untuk belajar, hanya mengerjakan yang kuketahui (dan itu tidak banyak). Aku tidak mau membuka buku bahasa Inggris kecuali saat jam pelajarannya. Saat hasil ujian keluar dan nilaiku selalu di bawah 50, aku justru tertawa-tawa bersama kawan karena nilai kami nggak beda jauh. 

Di rumah, tanpa tahu kejadian itu mamakku menyuruhku les bahasa Inggris. Aku tolak. Aku nggak mau ketahuan bodoh. Dan aku nggak mau dikatakan bodoh juga di les.  

Kelas 2 SMP, mamak kembali menyuruhku les. Awalnya aku masih menolak, tapi karena aku tahu kawan dekatku les di tempat itu juga dan aku tahu kemampuannya nggak beda jauh denganku. Aku merasa ada teman, haha. 

Akupun mendaftar bersama mamakku.

Admin: Mau masuk tingkat apa?

Aku: Tingkat yang paling rendah.

Admin: Primary one ya.

Aku: Itu, yang pre-primary? (menunjuk level paling bawah dari brosur).

Admin: Sama aja dengan primary one, cuma isinya anak-anak SD. Kamu SMP kan?

Aku: Nggak apa-apa. Yang penting dari tingkat paling bawah.

Mamak: Primary one aja, mamak dulu juga dari situ.

Admin: Iya, nggak usah takut. Itu pelajaran dasar kok. 

Setelah selesai mendaftar aku langsung disuruh masuk kelas karena aku daftar sebulan setelah les dimulai. 

Dengan malu dan takut aku muncul di depan pintu, berbicara dengan guru di kelas itu lalu disuruh duduk. 

Saat itu, pelajaran sudah dimulai lebih dari setengah jam, jadi waktunya mengerjakan soal. 

Melihatku yang masih bingung, beliau berinisiatif mengulang sedikit pembelajaran.

Guru: Jadi, sebelum mengerjakan soal, kita ulangi lagi ya.

Aku merasa tersanjung dengan perlakuan itu. Dia tahu aku ingin tahu dan dia mengarahkan siswa lain agar tidak menyadari bahwa dia mengulang pelajaran itu karena aku. 

Aku menatap papan tulis, tertulis Singular (S) dan Plural (P).

Guru: Singular (baca: singgyular), plural (baca: plurel). Semuanya, ayo ikuti.

Murid-murid berteriak dengan PD. Suara mereka menggema penuh semangat.

Beliau kembali mengulang-ulang ucapan tersebut dan meminta kami mengulanginya lagi hingga aku benar-benar bisa mengucapkannya dengan fasih. Akupun ikut berteriak. 

Guru: Oke, apa itu singular? 

Murid: Tunggal. 

Guru: Plural?

Murid: Jamak.

Guru: Apa itu tunggal? Apa itu jamak?

Murid: Tunggal itu satu. Jamak itu banyak.

Guru: Bagus. Jadi, apa bahasa Inggrisnya buku?

Murid: Book.

Guru: Kalau buku-buku?

Murid: Books. 

Guru: Jadi, bahasa Inggris itu nggak sulit kan? Kalau bahasa Indonesia, kita perlu nulis ulang kata-kata yang jamak. Kalau di bahasa Inggris, cuma tambahkan -s di kata yang jamak itu.

Aku memperhatikan apa yang tertulis di papan tulis. Mencatatnya dengan cepat.

Setelah menjelaskan beberapa hal lainnya, ia meminta kami mengerjakan soal yang sudah ditulis di papan tulis. 

Dia menghampiriku.

Guru: Udah ngerti?

Aku mengangguk.

Guru: Bisa ikut ngerjain soalnya?

Aku: Bisa.

Guru: Oke, saya tunggu ya. 

Akupun mulai mengerjakan 10 soal tersebut. Sibuk membuka kamus dan memperhatikan catatan di papan tulis. Membandingkan. 

Saat dinilai, aku mendapat 80. 

Aku terkejut dengan nilai itu.

Untuk pertama kalinya, nilai bahasa Inggrisku melewati 50. Dan itu di hari pertama les!

Aku mulai berpikir, “Mungkin aku nggak sebodoh itu. Mungkin nanti aku bisa. Besok harus dapat 100.”

Aku pulang ke rumah dengan pengalaman baru. 

Aku terselamatkan oleh guru yang baik. 

Di les, aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Aku rajin mengingat kosa kata, mengerjakan soal, aku juga sudah bisa didiktekan dengan bahasa Inggris walaupun hanya teks-teks sederhana. 

Bagaimana dengan bahasa Inggris di sekolah? 

Yah, jelas aku masih kepayahan karena tingkat kesulitannya berbeda. Di les aku belajar materi-materi sederhana seperti noun (kata benda), adjective (kata sifat)  adverb (kata keterangan), simple present tense dsb. Sedangkan di sekolah, guru kelas VIII (beda dengan guru muda yang ngajar aku kelas VII) menyuruh kami belajar past tense, future tense bahkan menyinggung perfect tense. Belum lagi kami harus menerjemah teks-teks yang ada di buku dan mengerjakan soal-soal reading-nya. 

Pokoknya, aku masih payah bangetlah di sekolah dan teman-temanku yang lain juga merasa seperti itu. 

Hanya saja, bahasa Inggris tidak semengerikan itu. 

Beberapa pertanyaan yang sering muncul dalam pikiranku:

Apa memang cuma di les yang belajarnya enak? Apa pelajaran bahasa Inggris di sekolah harus sesulit itu? 

Siswa mungkin bisa mengerjakan tugasnya namun tidak mengerti apa yang dia buat dan itu akan berlalu begitu saja tanpa lengket di otak. Apa memang begitu? 

Kalau bahasa Inggris seperti mimpi buruk dan setidakberguna itu, kenapa harus dipelajari? Toh, tidak semua orang akan keluar negeri. Tidak semua orang akan bertemu bule. Bahasa Inggris hanya untuk UN (yang dibantu dengan kunci jawaban). Aku bukannya meremehkan bahasa Inggris, tapi itulah yang terpikir saat aku masih anak-anak dulu. Bahasa Inggris untuk apa? 

*

Aku ikut les hanya sampai tingkat elementary one. Ijazahnya hanya sampai primary two.

Fyi, tingkatannya: pre-primary, primary one, primary two, elementary one, elementary two, edvance one dan edvance two. 

Jadi, aku les bahasa Inggris hanya satu setengah tahun di kelas 8 dan awal kelas 9. 

Kenapa aku berhenti? 

Alasannya sangan sederhana: guru elementary one terkenal “killer”. Jadi, setelah aku les di kelasnya, aku tidak berani ambil ujian karena bakal ujian lisan dengannya, hahaha. 

Parah banget mentalnya, wkwkkwk. 

Aku melewati SMP dengan tenang dan damai. 

Salah satu hal yang kupelajari dari pengalaman ini adalah: guru jangan sampai membuat murid membenci atau takut bahasa Inggris/pelajaran. Peranan guru sangat berpengaruh dalam memotivasi siswa. 

Selain itu, sebaiknya guru melakukan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Pre-test itu bisa dilakukan dengan menyenangkan misalnya games. Sebanyak apa kosa kata yang mereka tahu, tenses yang dikuasai, pelafalannya, apakah mereka tahu perbedaan dan posisi kata kerja, kata sifat, kata ganti, kata keterangan dalam bahasa Inggris. Karena siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. 

*

Di SMA, guru bahasa Inggris kelas X adalah guru yang terkenal tegas dan……

Setelah mengajar tenses dan mengerjakan soal-soal di buku, kami diminta membuat drama per kelompok. 

Saat itu, aku kebagian drama Malin Kundang. Aku membuat teks bahasa Indonesia lalu kami terjemahkan ke bahasa Inggris. Kami latihan beberapa hari dan saat pelajaran, kami akan mementaskannya. 

Drama adalah hal yang baru. Sang guru bahkan meminta beberapa kelompok untuk membaca novel (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Siti Nurbaya). Lewat tugas itu, kami jadi tahu garis besar isi novel tersebut.

Setiap kelompok diberi waktu pentas 2 jam pelajaran. Meja dan kursi akan disusun di pinggir dan dibentuk huruf U. Kamipun menonton pertunjukan mereka. 

Di akhir drama, guru akan memberi komentar terhadap penampilan mereka. 

Sebenarnya, melakukan drama atau latihan berbicara seperti itu penting dan perlu sering-sering dilakukan. Karena banyak manfaatnya. Siswa men-setting keadaan dan percakapan, melatih kemampuan bicara dan pelafalan serta meningkatkan kepercayaan diri.

Tapi, drama yang kami lakukan itu banyak juga tidak bagusnya. Pertama, waktu pelajaran banyak terpakai (jika satu kelompok pentas selama 2 jam pelajaran, 6 pertemuan untuk 6 kelompok).

Kedua, naskah yang kami tulis tidak diperiksa terlebih dahulu. 

Ketiga, pengucapan tidak diperbaiki saat selesai tampil.

Keempat, karena ini penampilan kelompok, maka orang yang kurang bisa bahasa Inggris akan mendapat porsi percakapan yang sedikit, sedangkan nilai yang diberikan per kelompok (jarang melihat individunya). 

Kelima, guru malah lebih tertarik mengomentari mimik serta kostum ketimbang kemampuan speaking siswa.

Keenam, masih kelihatan jelas subjektifitas, siswa yang disukai tidak dikritik walaupun penampilannya biasa saja dan tidak banyak berbicara sedangkan yang tidak populer akan dikritik habis-habisan. 

Selain itu, kami juga pernah diminta menampilkan debat. Satu kelompok 6 orang dengan pembagian 3 pro dan 3 kontra. Kami harus membuat setting seolah-olah kami berdebat padahal itu sudah ditulis sesuatu naskah yang diatur masing-masing kelompok. Tujuannya: tampil lebih baik dari kelompok lain. 

Sisi baiknya, kami mempelajari hal baru dalam speaking. Biasanya hanya percakapan sederhana atau drama singkat maupun panjang. Kini kami mulai belajar berdebat. 

Sisi buruknya, lagi-lagi naskah kami tidak diperiksa. Siswa lain yang menonton sama sekali tidak paham apa yang kami ucapkan bahkan kami sendiri tidak tahu berbicara apa kecuali yang membuat teksnya. Waktu yang terpakai cukup banyak. Dan parahnya, kami tidak tahu apakah alur debat yang kami lakukan itu benar atau tidak. Argumentasinya kuat atau lemah. 

Yang dikomentari hanyalah ekspresi yang kami keluarkan serta kefasihan berbicara (ntah pelafalannya benar atau tidak) wkwkwkkwk. 

Setelah kami melalui kelas yang cukup berat dengan banyak praktek, saat pembagian raport, masih ditemui siswa yang punya porsi penampilan banyak namun tidak terlalu populer di mata sang guru, dan ternyata nilainya di bawah KKM. 

Permasalahan penilaian cukup menarik perhatianku saat itu, tapi aku tidak bisa mengutarakannya karena tidak ada yang bertanya dan mau mendengarkan. 

Kelas XI, guruku tetap sama dengan guru drama itu. Kami lagi-lagi diminta membuat drama. Drama jadi agak membosankan dan tidak begitu menarik mengingat yang kami alami sebelumnya. Namun, seperti siswa lain pada umumnya, walaupun ada yang suka belajar kami tetap lebih suka jika tidak belajar, maka drama adalah hal yang sangat cocok dengan keadaan tersebut. 

Kami hanya perlu tampil sekali dalam 6 pertemuan. Artinya, 5 pertemuan lainnya kami hanya menonton drama teman dan tidak belajar sama sekali (anggap saja tidak belajar karena kami tidak memperhatikan banyak hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris, hanya ikut menikmati pertunjukan drama). 

Yang perlu dilakukan hanya mengikuti permintaan guru dan tidak membuat masalah agar nama tidak ditandai. 

Kelas XII, aku diajar oleh seorang guru yang pintar dan baik. Beliau lulusan sastra Inggris yang mengambil akta IV agar bisa mengajar. 

Seingatku, kami belajar teks sesuai genre. Beliau fokus pada buku LKS (lembar kerja siswa). 

Membaca teks dan mengerjakan soal. Agak membosankan. Namun, sejujurnya aku mengakui beliau sangat pintar. Beliau membaca teks dengan fasih, meminta kami menerjemahkannya, lalu beliau memperbaikinya dan mengulangi terjemahan tersebut dengan lebih baik. Menuntun kami mengerjakan soal reading dengan baik (yang selalu berhubungan dengan teks yang berkaitan). 

Dalam membahas soal beliau memberi alasan-alasan logis, kenapa A bisa A dan bukan B. Mana yang lebih baik antara A dengan B. Mungkin karena kami juga dipersiapkan untuk menghadapi UN.

Selain itu, terkadang beliau membuat games. Menyusun lirik lagu. Mendengarkan lagu dan mengisi kolom kosong di antara lirik tersebut. Beliau juga meminta kami untuk retell story (menceritakan ulang sebuah cerita). 

Beliau juga cerita tentang pengalamannya kuliah. Tugas mewawancarai bule. Nonton film barat dan membuat review serta berdiskusi film dengan teman-temannya. Mempelajari sejarah bahasa Inggris. 

Karena beliau, aku ingin kuliah di jurusan sastra Inggris. 

Aku ingin sepintar ibu itu. Persis seperti yang dipikirkan muridku tadi kan? Yang takjub karena aku mampu mengerjakan soal-soal yang sulit dikerjakannya tanpa melihat buku. 

Aku ingin belajar sastra Inggris, namun cita-citaku menjadi guru. 

Dulu, aku tidak sadar bahwa guru itu ada spesifikasi mata pelajarannya. Jadi, ketika aku curhat dengan beliau, beliau mengatakan, “Sebaiknya kamu ambil pendidikan bahasa Inggris jika memang ingin jadi guru. Di situ juga kamu tetap akan belajar sastra walaupun tidak banyak. Lagian, kuliah di pendidikan itu ilmunya double. Dapet sastranya, dapet ilmu mendidiknya.”

Memilih jurusan untuk kuliah memang sulit bagi banyak siswa SMA. Aku merasakannya sendiri. Selama ini aku sekolah karena harus sekolah. Aku tidak tahu harus melakukan apa jika tidak pergi ke sekolah. Aku juga merasa malu seandainya tidak melanjut jenjang pendidikan karena remaja seusia yang kukenal semuanya bersekolah. Nilai-nilai raport dan ujianku juga cukup baik (jangan ditanya dari mana asalnya) sehingga aku nggak punya alasan untuk nggak sekolah. 

Saat SMA, aku masuk jurusan IPA. Katanya, IPA bebas memilih. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Saat kelas XIII, aku baru tahu bahwa jika ingin kuliah, ada beberapa jalur yang bisa ditempuh. Salah satu yang paling mudah adalah undangan.

Seandainya nilai bagus dan undangan lulus, maka aku tidak perlu dites lagi, haha. Syukurlah, saat itu aku masuk 10 besar jadi aku diberi kesempatan. 

Saat disuruh memilih jurusan, alm. ayah ingin aku coba kedokteran karena beliau pikir aku lumayan bagus di Biologi. Tapi, aku sendiri nggak mau. Aku bahkan nggak mau kuliah di fakultas yang ada pelajaran eksaktanya. 

Aku ingin ambil bahasa Indonesia, Psikologi atau dokter gigi namun mamak nggak setuju. Akhirnya, aku pilih bahasa Inggris. 

Aku masih mau sastra Inggris, namun akhirnya pendidikan bahasa Inggris. Tapi, masalahnya, guru yang mengurus jalur undangan mengatakan bahwa aku harus ambil jurusan IPA dan bahasa Inggris berada di ranah IPS. 

Sial! Untung saja, saat pengisian formulir secara online tidak diperhatikannya. Aku mendaftar kedokteran gigi, kesehatan masyarakat, pendidikan bahasa Inggris dan pendidikan Biologi. 

Aku berdoa semoga hanya pendidikan bahasa Inggris yang lulus karena nilai IPS-ku cukup tinggi. 

Tapi ternyata, nggak ada yang lulus, wkwkkwk.

Saat pengumuman undangan keluar, aku sudah keburu mendaftar jalur SNMPTN Tulis dengan pilihan: kedokteran gigi, ilmu komputer dan pendidikan bahasa Inggris.

Aku agak histeris. Kenapa memilih pilihan nggak tahu diri? 

Mau daftar ulang tapi nggak ada uang untuk beli pin di bank.

Syukurlah, aku lulus pendidikan bahasa Inggris. 

Dan… Sepertinya aku harus mengakhiri posting-an sampai di sini karena ini sudah panjang bangeeeeet. 

Terima kasih sudah membaca!

Iklan