Hai guys!

Seperti judul di atas, aku akan membahas, mengulas dan mengkritik sebuah cerpen berjudul AKU DIANO, karya Prasetyo Aji Laksono. 

Kenapa aku me-review cerpen ini? 

Karena agenda kopdar #Blogger’s Challenges kali ini adalah review cerpen. Jadi, hari Minggu, 16 April 2017, ABC ngumpul di Lapangan Merdeka, tepatnya sih di Mc. Donald-nya (kayak basecamp, soalnya udah 3 kali kopdar di sini, wkwkkwk).

Kamis malam, Dwita, selaku PJ kopdar kali ini, memberi link-link di grup Line berisi cerpen-cerpen yang bisa dipilih oleh kami. Aku pilih cerpen Aku Diano karena urutan pertama dan agak penasaran, siapa sih Diano itu? Apa kisahnya? Siapa Prasetyo Aji Laksono itu? 

Yayaya, alasan semacam itu. Dan pas aku klik link-nya, ternyata cerpen ini diterbitkan oleh Sastranesia (aku nggak pernah baca cerpen di situ, tahunya cuma lakonhidup, wkkwk). Dan cerpen ini sangat pendek! Jadi, cocok untuk dibantai, eh, dibaca, ya kan? 

Sebenarnya aku nggak pernah nge-review cerpen dan saat searching di Google, juga nggak dapet contohnya. Karena itu, aku mengulasnya seperti permintaan Dwita saja: sinopsis, unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, kelebihan dan kekurangannya. 

Aku mulai ya. 

WARNING: REVIEW INI SANGAT SUBJEKTIF.

JUDUL: Aku Diano

Komentar:

Sekilas, judul ini cukup menarik walaupun pasaran (baik dalam cerpen, novel, drama hingga film) karena menggunakan nama tokoh sebagai judul. Secara pribadi, aku tertarik dengan nama Diano, siapa dia? kenapa harus Diano? Apa yang terjadi pada hidupnya hingga dijadikan tokoh utama? 

Ketika membaca judulnya, aku menebak tokoh ini pasti cowok dan memang benar. Kalo cewek ya namanya Diana, hahaha. Mungkin mereka sodaraan ya? 

Lalu, apakah akhirnya rasa penasaranku akan namanya itu terpuaskan?

Jawabannya, tidak! Nama Diano tidak bermakna apa-apa. Tidak ada penjabaran mengenai makna di balik nama tersebut. Bahkan, ketika aku cari arti nama di Google pun nggak ketemu. Mungkin Diano beneran sodaranya Diana?

Dan seandainya nama Diana dikaitkan dengan Diano, arti kata di atas (seperti dewi bulan, ketuhanan, menyenangkan dsb) juga tidak menempel pada tokoh Diano dalam cerpen tersebut. 

RINGKASAN CERITA:

Diano, seorang laki-laki berumur 20 tahun baru saja menjalani operasi amputasi kaki karena mengalami kecelakaan. Dia ditabrak oleh motor dan kedua kakinya terlindas ban saat mengejar layang-layang putus. Dia sedih dan merasa nggak ada gunanya lagi untuk hidup (karena tidak bisa main sepak bola, sesuatu yang sangat dia cintai). Dia sempat berpikir ingin bunuh diri pakai pisau buah, tapi nggak jadi karena dia takut mati. Alasannya, masih banyak dosa dan pengen taubat dulu. 

Karena masih dalam perawatan di rumah sakit, dia nggak punya kerjaan lain selain berpikir dan merenung. Kemudian, adiknya membawakan buku kesukaannya berjudul Syarat Pertama Menjadi Orang Besar adalah Membumi. Diano nggak suka baca buku, tapi buku itu satu-satunya yang menarik dan sering dia baca ulang. Menurutnya buku itu inspiratif dan quotable (hampir semua kalimatnya bermakna). 

Dia akhirnya menghabiskan waktu dengan membaca buku itu. Dia juga menyadari bahwa adiknya sangat sayang padanya karena adiknya rajin menjenguk dan membuat kejutan-kejutan yang membuatnya terharu. Seminggu setelah dia dirawat, adiknya datang ke rumah sakit dan memberinya sebuah buku dengan kalimat mutiara yang ditulis rapi, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. 

Kalimat itu menyadarkan bahwa walaupun dirinya lumpuh, dia masih tetap bisa bermanfaat bagi orang lain. Dia memikirkan sesuatu yang bisa dia lakukan dan akhirnya menemukan tekad baru: ia mau menulis buku tentang kisah seseorang dalam meraih mimpinya tanpa kenal lelah. 

Komentar:

Berdasarkan ringkasan yang kubuat, premis ceritanya lumayan oke kan? Cowok yang hidupnya hancur karena kecelakaan dan ia memutuskan untuk menerima kenyataan dan punya tekad untuk jadi penulis sebagai cara untuk bangkit. Cerpen ini bahkan dilabeli sebagai cerpen keluarga, cerpen inspiratif dan cerita mahasiswa UI (LOL!) oleh penyedia situs. 

Yang jadi permasalahannya bagiku adalah caranya mengemas cerita tersebut. 

Selesai membacanya, aku merasa: BIASA SAJA. 

Oke, kalo mau jujur reaksi pertama yang kupikirkan, “Udah, gini aja ceritanya? Intinya apa? Duhh, duhh..” Ahh, seharusnya aku print cerpen ini biar enak dicoret-coret, wkwkk.

Mungkin kalian harus baca dulu cerpen lengkapnya supaya paham apa yang kumaksud. Ini dia link-nya, silakan baca: Aku Diano.

Walaupun ceritanya ditulis dalam sudut pandang pertama, Diano sebagai aku, namun aku justru lebih fokus kepada kebaikan-kebaikan adiknya (yang hingga akhir tak disebutkan namanya). 

Selain itu, aku menemukan beberapa kesalahan seperti deberi (diberi), terjerembab (terjerembap). 

Beberapa kalimat terlalu sering diulang-ulang seperti: tidak tanggung-tanggung di paragraf awal atau masalah kaki yang diamputasi.

Kemudian, ada beberapa kalimat yang tidak efektif (bisa dipangkas dan dipadatkan kalimat-kalimatnya) karena tidak mengubah arti sama sekali. Maksudnya, kata yang dipilih tidak spesial, biasa-biasa saja jadi tidak perlu dipanjang-panjangkan. Namun, mengenai ini, sebenarnya tergantung penulis, mungkin memang begitu caranya menyampaikan kisah. 

Mengenai hobinya, sepak bola, aku pikir ia akan menceritakan sedikit tentang aktivitasnya itu, misalnya saja dia atlet sepak bola di sekolah yang akan mengikuti pertandingan penting. Seandainya diceritakan sedikit tentang betapa pentingnya sepak bola dalam hidupnya, mungkin akan lebih terasa feel depresinya. Aku justru merasa bahwa sepak bola hanya tempelan saja agar cocok dengan kondisinya yang baru diamputasi. 

Dari narasi di atas, aku juga bertanya-tanya, sebenarnya dia ditabrak di mana? Di tengah jalan baru terpelanting ke pinggir jalan? Apakah deskripsinya tepat? Dan lucunya, umur Diano 20 tahun, artinya seorang pemuda yang udah memasuki usia dewasa, tapi ngapain dia ngejar layangan putus? 

Kemudian, yang paling kupermasalahkan adalah buku yang diceritakan pada cerpen ini.

Jujur, aku mencari informasi buku ini di Google karena penasaran dengan ulasannya. Seinspiratif apa sih? 

Tapi, aku tidak menemukan buku tersebut di Google. Apa cuma fiktif? 

Menurutku tidak penting diceritakan buku itu didapat dari penulisnya langsung serta dibubuhi tanda tangan. Atau tentang lusuhnya keadaan buku tersebut karena tertindih buku pelajaran. 

Kenapa? 

Karena itu tidak mempengaruhi isi cerita, dihapus pun tidak jadi masalah. 

Yang lebih penting adalah nama penulis dan sedikit cuplikan isi buku yang katanya ‘sangat menarik hingga membuat orang seperti dirinya yang tak suka membaca, membuat pengecualian bahkan melabeli buku favorit’.

Jika aku penulisnya, mungkin aku akan memilih judul buku yang benar-benar ada, misalnya Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Negeri 5 Menara-nya Ahmad Fuadi, The Alchemist milik Paulo Coelho, Orang Jujur Tidak Sekolah karya Andri Rizki Putra, yang ceritanya memang berkaitan dengan keterbatasan diri namun mampu menggapai cita-cita.  Atau sekalian saja buku Life Without Limits karya Nick Vujicic. Fyi, Nick Vujicic dikenal sebagai motivator internasional karena sejak lahir ia tidak memiliki tungkai dan kaki namun ia bisa melakukan banyak hal melebihi orang normal, cocok banget sama isi ceritanya kan?

Setidaknya, pembaca bisa menaruh perhatian ke situ dan setuju bahwa buku tersebut perlu mendapat porsi beberapa kalimat dalam cerpen karena sangat membantu tokoh Diano untuk bangkit. 

Kemudian, di akhir cerita, sebagai penyelesaian masalah, Diano bertekad untuk menjadi penulis agar bermanfaat. 

Nah, seandainya ending-nya ingin dibuat seperti itu, akan lebih baik jika di awal diceritakan bahwa dia juga suka menulis atau membaca atau menyalin kata-kata inspiratif dari buku (selain sepak bola) karena pembaca bisa diberi ‘ clue’ dan tidak merasa heran jika di akhir cerita hal itu disinggung kembali. 

UNSUR INTRINSIK

Tokoh: Diano, adik, ayah, ibu dan dokter

Tempat: rumah sakit

Alur: Campuran

Komentar: 

Seperti yang kukatakan di atas, tokoh Diano tidak terlalu dominan dalam kisah ini. Aku sendiri lebih tertarik pada adiknya, walaupun sang adik juga hanya sedikit diceritakan bahkan namanya pun aku tidak tahu. Selain itu, tokoh ayah dan ibu hanya diceritakan menangis dan sedih melihat kondisi Diano. Dokter pun tidak berbicara apa-apa, hanya dijelaskan dalam narasi si aku.

Latar tempat hanya di rumah sakit, walaupun dalam flashback sedikit menyinggung jalan raya. Begitu juga dengan alur, dominan maju karena Diano menceritakan yang ia lalui dan rasakan sejak kecelakaan hingga seminggu setelahnya, namun ada kilas balik saat menjelaskan insiden kecelakaan.

UNSUR EKSTRINSIK

Komentar:
Aku tidak bisa memberi komentar apa-apa karena aku juga baru membaca karya Prasetyo ini. Aku tidak bisa menebak apa motivasi yang membuatnya menulis cerpen ini ataupun membahas tentang latar belakang pendidikan penulis. 

KESIMPULAN:

Cerpen ini sangat sederhana dan mudah dibaca dalam sekali duduk (cocok dengan definisi cerpen). Walaupun berlabel inspiratif, aku secara pribadi tidak merasakan apa-apa. Sebenarnya, walau premisnya umum, tapi cukup menarik jika disajikan dengan lebih baik. Efektifitas kalimat atau pemilihan deskripsi benar-benar penting. Intinya, cerpen ini masih bisa diedit lagi agar lebih maksimal. 

Namun, ada juga yang bisa diapresiasi dari cerpen ini, misalnya kehadiran seorang adik/keluarga mampu menguatkan kita ketika mengalami masalah/musibah. Membaca buku bisa mempengaruhi dan memotivasi kita. Bunuh diri bukan penyelesaian masalah. Dan yang paling penting, jangan mengejar layangan putus!

By the way, anyway, bus way, setelah baca cerpen ini sejujurnya aku tertantang untuk remake (buat cerita dengan premis yang sama menggunakan gaya bahasaku sendiri). Tapi, boleh nggak ya? 

Akhir kata, aku minta maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan (mana tahu si penulis membaca review ini) atau ada pembaca lain yang sakit hati (?). Aku juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah membaca posting-an ini. 

Jika kalian membaca review ini dan juga cerpennya secara utuh, mungkin kalian mau memberi komentar di kolom yang disediakan di bawah ini. 

Iklan