Hai guys!

Kali ini aku nulis untuk #Bloggers’ Challenges. 

Makna jarak dalam hubunganmu (bisa untuk keluarga, teman dan pasangan). 

Topik ke-44 yang diberikan oleh Dwita ini terbilang santai. Karena, aku hanya perlu mendefinisikan makna itu ke dalam diriku sendiri. 

Sejujur-jujurnya, aku adalah orang yang tidak mempermasalahkan jarak (secara fisik) dalam sebuah hubungan. Bahkan, dulu aku pernah berpikir, “Memangnya kenapa kalo jauh?”

“Apa yang salah dari LDR? Yang paling penting kan komunikasi dan keyakinan dua hati tersebut untuk saling mencintai dan komitmen.”

“Jarak yang jauh secara fisik bukan berarti memang jauh juga di hati kan?”

“Walaupun jauh, kan ada masanya ketemu.”

Ternyata, seiring berjalannya waktu, pikiran seperti itu bisa dianggap naif. Karena, nyatanya, jarak memang bisa membuat kita merasa jauh bahkan asing.

“LDR pasti putus. Jarang ada yang bertahan.”

“Aku nggak bisa LDR-an. Rasanya kayak antara ada dan tiada.”

Ucapan-ucapan seperti itu membuatku berpikir ulang dalam menanggapi permasalahan yang satu ini. 

Nah, dalam posting-an ini, aku akan membagi-bagi makna ‘jarak’ dalam tiga kategori: keluarga, teman, dan pasangan seperti yang Dwita minta. 

1. KELUARGA

Aku sama sekali tidak merasa ada jarak antara aku dan orang tua. Bagiku, sejauh apapun aku berada, mereka tetap lekat di hatiku. 

Untuk keberadaan jarak jauh, aku merasakannya pertama kali saat aku mulai berkuliah di Medan. Ternyata, jarak yang jauh membuat rindu. Untuk mengobatinya, aku biasa menelpon dan meng-sms mereka. Jika rindunya kelewat parah, aku pulang ke rumah, syukurnya jarak Medan-Berandan tidak terlalu jauh dan biayanya tidak mahal, jadi, aku bisa pulang dua minggu atau sebulan sekali. 

Kemudian, dua tahun yang lalu, ayahku meninggal. Jarak di antara kami sudah tak terbilang lagi. Beda dunia. Namun, karena beliau ada di hatiku dan aku menyayanginya, jarak itu tidak terasa. Memang, sesekali aku merindukannya. Yang bisa kulakukan hanya berdoa dan kadang menangis mengingat kenangan-kenangan kami. 

Melalui beberapa tahun ini, sejak aku mulai merantau hingga sekarang, aku punya tekad di dalam hati. Sebisa mungkin, aku nggak mau terlalu jauh dari keluargaku, terutama mamak. Syukurnya, mamakpun nggak tahan jauh dariku, hehe. Jadi, kami sehati, sama-sama suka dekat-dekat dan peluk-peluk. Untuk itu, kami sama-sama saling mengusahakan untuk bertemu, karena kondisi fisik dan kesehatan, lebih sering aku yang pulang ke Berandan daripada mamak ke Medan.

Kesimpulan: aku nggak mau jauh-jauh dari orang tuaku.

2. TEMAN DAN SAHABAT

Seperti yang sudah kukatakan di atas, sebenarnya aku merasa nggak masalah jauh dari teman dan sahabat. Bagiku, mereka tetap di hati. 

Namun, pada kenyataannya, aku sering kehilangan teman-teman karena jarak kami semakin menjauh. Adanya jarak secara fisik misalnya beda kelas, sekolah, kuliah ataupun tempat kerja menimbulkan jarak di hati. 

Terkadang, karena jarak tersebut, rasanya segan untuk sekedar mengobrol lewat sosial media atau chat. Saat bertemu pun agak canggung karena merasa sudah banyak yang berbeda. 

Namun, ada juga hubungan pertemanan yang berhasil. Aku tetap berkomunikasi dengan beberapa teman SD, SMP, SMA, dan kuliah. Mereka inilah yang bisa kusebut sebagai sahabat. 

Sahabat: aku mengakuinya sahabat, dia menganggapku sahabatnya juga. 

Jika sebuah hubungan itu memang persahabatan, aku yakin bahwa jarak bukannya pemisah di antara kami. Mungkin kami jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing namun kami akan saling merindukan dan berusaha untuk bisa bertemu. 

Kesimpulan: jarak memang bisa memisahkan antara aku dan teman, namun tidak pada sahabat. 

3. PASANGAN

Kebetulan, aku sudah lama tidak pacaran, wkwkwkkwk. 

Dulu, aku pernah pacaran dengan seorang cowok yang kukenal dari olimpiade. Waktu itu aku masih SMA. Kami beda sekolah dan beda kota, alhasil kami hampir nggak pernah ketemu.

Terus, kenapa bisa jadian, Wa?

Karena walaupun nggak ketemu, kami komunikasi dengan baik. Saling mencintai, saling membutuhkan, saling merindukan (tolong jangan muntah, wkwkkwkwk). 

Komunikasi kami benar-benar sederhana, sms dan sesekali telponan tapi itu nggak jadi masalah. 

Hingga kami masuk kuliah. Satu kota namun beda kampus. Di sini mulai terjadi keretakan. Beda prinsip, beda prioritas, dan perasaan mulai berubah. Akhirnya kami putus dan menurutku itu bukan karena jarak secara fisik. 

Eh, tapi nggak tahu juga ya, kalo aku satu kampus sama dia apa kami tetap awet, wkwkkwk. 

Sudahlah, nggak perlu dibahas lebih lanjut.

Nah, itu tadi kan pacaran. Sepertinya, aku sih nggak masalah kalo pacaran jarak jauh. Tapi, aku pengennya sekarang yang seriusan aja, nggak usah pacar-pacaran lagi. 

Taaruf, cocok, lamar, nikah. 

Nah, kalo dia udah jadi pasanganku yang sah, a.k.a kekasih hati a.k.a belahan jiwa a.k.a suami tercinta, kayaknya aku nggak mau LDR-an. 

Nggak mau jauh-jauh. Maunya dekat-dekat aja. Satu rumah. Dekat di mata dekat di hati, biar bisa peluk-peluk, wkwkwkwkk.

Aduh, nulisnya aja udah baper.

Intinya seperti itu. Aku pengennya sih dia nggak usah jauh-jauh. Tapi, yaaa, bukan berarti aku sama sekali nggak bisa nerima seandainya kami harus menghadapi LDR juga (misalnya dia lagi kerja ke luar kota). Tergantung situasi dan kesepakatannya lah. 

Kesimpulan: kalo untuk pasangan, sebaiknya dekat di mata dan harus dekat di hati. 

Oke, itu saja yang bisa kuceritakan mengenai hubungan dan makna jarak bagiku.

Kesimpulan akhir:

Jarak secara fisik? Oke. Bisa nego.

Jarak di hati? Oh big no!

Terima kasih sudah membaca tulisan nggak jelas ini, wkkwkwk. 

Iklan