Hai guys!

Kali ini aku ingin membicarakan tentang reward and punishment dalam proses pengajaran di kelas. 

Kalo dari judul, kayaknya topik ini serius banget ya, padahal sejujurnya hingga saat ini aku belum pernah benar-benar membaca literatur yang berkaitan dengan reward and punishment.

Aku cuma punya gambaran sederhana saja dan belum sempat untuk menggali lebih dalam. Namun, bukan berarti tulisan ini nggak punya dasar dan makna sama sekali.

Intinya, aku ingin menuliskan apa yang kupikirkan mengenai reward and punishment berdasarkan pengalaman pribadi dan aku berharap jika ada calon guru atau guru yang membacanya, tulisan ini bisa bermanfaat juga bagi mereka. Karena, menurutku hal ini bisa saja luput dari perhatian kita, para pendidik. 

#

Mungkin pertama kali aku mendengarkan reward and punishment dalam dunia pendidikan adalah ketika aku belajar di kelas EYL (English for Young Learner). Di kelas itu, aku mendapat beberapa pengetahuan baru seputar mengajar terutama pada anak-anak.

Mengajar anak-anak tidak seperti mengajar remaja atau orang dewasa. Mereka punya konsentrasi yang gampang teralihkan dan cenderung hanya ingin bermain-main. Untuk itu, mengajar bahasa Inggris dengan cara menyenangkan, penuh permainan dan tantangan adalah kunci utama.

Aku sendiri lupa bagaimana caraku belajar ketika masih kecil. Ironisnya lagi, aku juga merasa bahwa aku belum pernah merasakan belajar bahasa yang menyenangkan. Lantas, bagaimana aku bisa berdiri di hadapan anak-anak, merekayasa kegiatan pembelajaran yang menyenangkan jika aku sendiri tak memiliki gambaran dan pengalaman mengenai hal itu? 

Jadi, aku menemukan fakta-fakta menarik di kelas saat dosen bercerita tentang pengalamannya dalam meneliti pembelajaran bahasa untuk anak-anak. 

Salah satu hal yang paling sering dilakukan guru saat mengajar adalah menggunakan reward and punishment. Kedua hal ini dilakukan guru baik secara sadar maupun tidak sadar. Hal ini juga berlaku hampir di semua mata pelajaran di jenjang apapun. Namun, yang paling kentara adalah saat mengajar anak-anak.

Reward itu bisa sangat sederhana seperti pujian, pemberian bintang, mencatat nama anak-anak yang aktif, memberikan poin atau skor tambahan hingga memberikan hadiah dalam bentuk fisik seperti permen, buku, pulpen hingga uang jajan. 

Sedangkan punishment umumnya diberlakukan dalam bentuk pengurangan bintang, menandai nama, hingga mengurangi nilai bahkan terkadang ada guru yang menyindir atau mempermalukan siswa di depan umum. 

Keduanya adalah konsep yang menarik dan perlu dicoba oleh guru. Namun, pemberlakuan hal ini bisa berefek positif dan juga negatif tergantung situasi dan kondisi dari pihak guru dan murid itu sendiri. 

Ada anak yang jadi ketagihan dengan pujian atau hadiah, jika tidak ada reward yang sesuai, ia bisa kehilangan motivasinya dalam belajar. 

Ada anak yang tidak terlalu tertarik dengan konsep itu dan memilih untuk jadi biasa-biasa saja.

Ada anak yang benci jika mendapat hukuman dan itu membuatnya terpuruk. 

Aku sendiri pernah mengalami tiga hal tersebut saat belajar. 

Yang sangat penting untuk guru perhatikan saat menerapkan konsep reward and punishment itu adalah instruksi yang jelas, keadilan dan konsistensi. 

Sebagai contoh:

1. Seorang guru ingin meninggalkan kelas. Ia berkata kepada seluruh siswa bahwa ia meminta ketua kelas untuk mencatat nama-nama anak yang ribut ataupun yang berani keluar kelas. Saat kembali, ketua kelas menyerahkan 10 nama. Sang guru menyimpan kertas tersebut. Namun, sang guru tidak menegur anak-anak yang bersangkutan ataupun memberikan hukuman. 

Jika hal itu terjadi beberapa kali, pemikiran seperti apa yang mungkin muncul dalam pikiran siswa lainnya? 

Secara tidak sadar, beberapa pemahaman masuk ke kepala siswa-siswa tersebut. 

Tidak apa-apa ribut. 

Tidak apa-apa jika nama dicatat. 

Tidak ada bedanya jika kamu melakukan hal yang baik ataupun buruk.

Walaupun tidak semua siswa berpikir seperti itu, namun bibit-bibit itu pasti tumbuh secara tak sadar. 

2. Seorang dosen menyuruh mahasiswanya untuk membuat sebuah makalah. Tidak boleh plagiat dan harus dikumpul tepat waktu. Setelah tugas itu dikumpulkan, sang dosen tidak pernah membahas tugas tersebut. Ada beberapa anak yang meng-copy paste artikel blog di internet. Ada yang telat mengumpulkan tugasnya. Saat pengumuman nilai, ternyata, anak yang meng-copy paste nilainya sama bahkan lebih tinggi daripada anak yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh. 

Jika hal itu sering dialami oleh mahasiswa, pemikiran seperti apa yang akan terbentuk?

Tidak masalah copas.

Tidak ada bedanya.

Ngapain susah-susah yang penting tugas dikumpul.

Parahnya, pemikiran tersebut akan berimbas pada hal lain. Bayangkan jika mahasiswa tersebut nantinya menjadi dosen? 

#

Untuk itu, sesederhana apapun instruksi (perintah) dari seorang guru, murid akan selalu memperhatikannya terutama saat ia masih sangat muda dan belum punya pengalaman yang banyak. Jika sekali dua kali tidak ada bukti, maka siswa akan membentuk pemahaman bahwa itu hanyalah sekedar ancaman yang tak berarti apa-apa. 

Bahaya, kan? 

Untuk itu, kita perlu berhati-hari menerapkan reward and punishment ini. 

Iklan