Hai guys!

Sebelumnya aku mau bilang kalo judulnya kayak iyaa iyaaaa banget, padahal isinya semacam catatan harian. But, it’s important for me and I think I should write it.

#

Kemarin malam, setelah kopdar Bloggers’ Challenges (BC), Fiqri, pemilik blog chairulfiqrisiregar.wordpress.com, ngasi tahu kalo hari ini dia bakal main ke Unimed. Dia nanya siapa yang kira-kira bisa ketemuan dengannya karena dia pengen diskusi masalah blog dan seputar tulis menulis. Kebetulan aku udah pernah janji padanya untuk berbagi pengalaman tentang utak atik tampilan blog wordpress saat dia baru gabung di BC beberapa minggu yang lalu. Walaupun aku udah pernah buat tulisan mengenai hal itu di posting-an Utak Atik Blog, Gimana Caranya? aku ngerti bahwa praktek langsung itu pasti lebih seru. 

Sekitar pukul 2 siang, aku sempat ketiduran lalu terbangun saat azan ashar. Aku buru-buru cek hp yang sedang dicas, mengaktifkan data seluler dan chat dari Fiqri masuk. Buru-buru aku mandi, salat dan pergi ke kampus. Kami janjian di gedung perpustakaan lama.

Sesampainya aku di perpustakaan lama, aku nyari-nyari si Fiqri di lantai 1, tapi dia nggak kelihatan. Aku chat dia dan dia bilang dia ada di lantai 2.

Lho? Kok anak ini bisa main-main ke lantai 2 sih? Itu bukan tempat yang biasa dijamah mahasiswa? 

Aku agak bingung gitu harus gimana, secara aku nggak pernah main-main ke situ.

Emang kurang pergaulan banget yaa, hahaha.

Saat aku masuk ke ruangan tersebut, aku disambut dengan sangat hangat oleh orang-orang yang ada di situ. WOW, speechless. Kami bersalaman, saling bertukar nama sambil tersenyum, lalu aku disuguhi air minum!

Ternyata teman-teman Fiqri itu mahasiswa Unimed juga, anak PPKN. Ada juga yang magang.

Wah.. Wah.. Mahasiswa bisa nongki sambil wifian gratis di tempat “eksklusif” begini yaa? Akunya ngapain aja selama ini? wkwkkwkwk. 

Setelah aku tanya-tanya si Fiqri, ternyata ruangan itu dijadikan semacam kantor HAM di Unimed, tepatnya disebut Pusham (Pusat Studi Hak Asasi Manusia).

Yayaya, masuk akal sih. Aku juga lihat beberapa plakat-plakat penghargaan seputar HAM dipajang di lemari, juga poster-poster HAM di dinding. 

Sebenarnya aku pengen kepo-kepo gitu, tapi malu, hahahha. 

Jadi, aku dan Fiqri mulai membahas tentang blognya. 

Dia login di wordpress dan aku ngasi tahu tentang hal-hal penting yang perlu dia tahu tentang blog.

Kami sempat coba beberapa tema, sayangnya waktu cepat berlalu. Saat azan magrib, kamipun memutuskan untuk pindah lapak ke mesjid, mau salat.

Setelah salat, kami berencana untuk lanjut ngobrol sambil makan di sekitar gedung MMTC. Kami bicara banyak hal, mulai dari kegiatan kopdar kemarin, alasan-alasan kenapa aku membentuk Bloggers’ Challenges, bagaimana melatih diri untuk menulis dan konsisten dalam menulis, buku-buku yang menarik minat, kegiatan sehari-hari hingga membahas tentang pendidikan.

Fiqri berpendapat bahwa pendidikan (dalam arti sempit yaitu bersekolah) di Indonesia belum terlaksana dengan baik. Pendidikan belum bisa dinikmati oleh semua orang. Masih banyak orang-orang yang tidak bisa bersekolah atau terpaksa putus sekolah. Memang ada dana pendidikan, namun biaya pendidikan masih sangat mahal. Dia juga tak ragu mengatakan bahwa hal ini terjadi karena kesalahan pemerintah. 

Sebagai contoh, anak-anak pengamen di jalanan, mereka tidak bisa merasakan pendidikan karena tidak memiliki biaya yang cukup. Walaupun uang sekolah gratis, namun mereka perlu biaya lainnya seperti uang baju seragam, buku dan alat tulis, serta hal-hal lainnya yang tidak bisa mereka penuhi sebagai modal untuk belajar di sekolah. 

Aku setuju, namun aku juga punya pendapat lain. Jika aku mengesampingkan peranan pemerintah dalam pendidikan, sebenarnya yang jadi masalah utama dalam pendidikan Indonesia adalah banyaknya anak-anak yang tidak memiliki motivasi untuk belajar dan tidak berusaha untuk mendapatkan pendidikan. Fakta ini aku dapatkan dari cerita teman-temanku yang sudah mulai mengajar dan juga saat aku melaksanakan PPL. 

Kira-kira beginilah percakapan kami.

F: Pendidikan itu harus bisa dinikmati oleh semua orang. Minimal wajib belajar 9 tahun. Ini salah pemerintah karena pendidikan masih mahal. Uang sekolah gratis, tapi yang lainnya? Mereka butuh seragam, buku, dll.

Aku menerima pernyataan itu karena aku sendiri tahu hal itu benar-benar terjadi. Memang ada yang kesulitan dalam mempertahankan sekolah akibat masalah keuangan. Hanya saja, aku belum pernah mencari tahu tentang alokasi dana pendidikan Indonesia sehingga aku nggak bisa merespon apa-apa. Aku hanya pernah dengar saat papiku (seorang guru SD) bercerita bahwa saat ini pendidikan lebih mudah didapatkan karena adanya dana-dana bantuan dari pemerintah (abaikan saja masalah korupsi yang merajalela).

W: Oke, tapi coba bandingkan antara anak yang sekolah dan tidak sekolah?

F: Aku nggak punya data pastinya tapi kalo dipersentasikan 70:30. 70 untuk anak yang bersekolah dan 30 untuk yang tidak bisa bersekolah. 

W: Artinya, masih lebih banyak orang yang mendapatkan pendidikan, kan?

F: Tapi nggak seharusnya seperti itu. Seharusnya semua orang bisa mendapatkan pendidikan.

W: Iya, benar. Nah, sekarang kalo kakak bilang bahwa selain salah pemerintah, ada hal lain yang menjadi masalah dalam pendidikan Indonesia. Kalo misalnya kakak bilang bahwa motivasi untuk belajar dan memperoleh pendidikan itu yang rendah, gimana?

Kami diam sejenak. Wajah Fiqri seperti tidak setuju namun ia juga memikirkan hal tersebut.

W: Contohnya gini, saat kakak PPL di sebuah sekolah negeri di daerah, murid-muridnya bisa dibilang nggak mau belajar. Mereka (nggak semua, namun banyak anak laki-laki) nggak mau ngerjain tugas bahkan nggak mau ngerjain ulangan yang diberikan. Lalu, kakak iseng ngajak seorang siswa ngobrol. 

Aku: Pelajaran apa yang disukai?

Siswa: Nggak ada, miss.

Aku: Ah, masa nggak ada sih? Kalo miss dulu suka bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Biologi.

Siswa: Nggak ada.

Aku: Masa? Olahraga misalnya?

Siswa: Oh, aku sukanya jam istirahat.

Aku: Istirahat? Itu bukan pelajaran lho! Kalo kayak gitu, ngapainlah kamu sekolah?

Siswa: Supaya dapet jajan miss dan nggak perlu di rumah bantuin orang tua. 

W: Itu kejadian nyata lho. Bayangkan, anak yang dikasi kesempatan untuk bisa belajar di sekolah, mikirnya seperti itu. Padahal dia dibiayai dan dapat uang jajan. Jadi, kalo menurut kakak, selain masalah biaya pendidikan yang mahal, kakak lebih cenderung melihat motivasi ini sebagai masalah utama. 

Sebenarnya aku ingin menjelaskan mengenai banyaknya siswa-siswa “mapan” yang menyia-nyiakan pendidikan yang mereka terima. Mereka nggak suka belajar dan nggak menyadari makna pendidikan itu sendiri karena aku dan teman-teman juga pernah seperti itu. Hal ini pernah kutuangkan dalam cerpen Kelas Bahasa yang Tak Terlupakan

Aku ingin menekankan juga bahwa hal ini bisa dikatakan kesalahan orang tua. Maksudnya, anak-anak tidak memiliki motivasi belajar karena orang tua, keluarga dan lingkungannya tidak membuatnya ingin belajar dan memahami manfaat belajar. Aku juga pernah menyindir tentang bagaimana apatisnya orang tua terhadap pendidikan sang anak di cerpen Hal yang Dilakukan Ibuku dan Tidak Dilakukan Ibu Teman-temanku. 

Namun, kami tidak berdebat sebanyak itu karena akan memakan banyak waktu dan butuh data-data pendukung. 

F: Artinya, sebenarnya nggak ada yang salah dan yang benar. Kedua-duanya terjadi di dunia nyata. Aku melihat fenomena itu karena kebetulan aku dekat dengan anak-anak jalanan dan pengamen dan kakak juga mendapatkan fakta lain dari pengalaman kakak. 

W: Yaa..

Percakapan kami terhenti saat ada dua anak pengamen datang ke meja kami. Mereka menyanyi dengan iringan alat musik seperti gendang. Ntah apa yang mereka nyanyikan, aku nggak tahu lagunya dan aku juga nggak bisa menangkap lirik yang mereka ucapkan. Lalu Fiqri mengajak mereka bicara.

Inti dari percakapan itu adalah:

1. Satu anak sekolah dan satunya lagi tidak

2. Anak-anak itu mengamen supaya bisa beli minuman-minuman gelas dan jajan

3. Orang tuanya tidak tahu bahwa mereka mengamen

4. Mereka sering pulang malam dan dimarahi orang tuanya, namun hal ini dibiarkan terulang begitu saja

Dan ada satu pertanyaan Fiqri yang paling kuingat.

F: Jadi, kenapa adek nggak sekolah?

P: Males dia (jawab si anak yang sekolah dan anak yang nggak sekolah itu senyum-senyum malu)

Untuk pertama kalinya, aku melihat langsung bagaimana interaksi antara anak pengamen dengan pengunjung. Selama ini, aku ingin bertanya seperti itu namun tidak kulakukan karena berbagai alasan. 

Ternyata, mereka bisa ditanya-tanya juga. Apa lain kali aku berani bertanya-tanya seperti itu?

F: Aku ngerti apa yang kakak ceritain tadi. Iyaa, anak itu malas sekolah.

W: Yaa, mungkin awalnya karena nggak ada biaya, namun memang keinginannya pun kurang. Kadang, mereka hanya merasa malu kalo orang tahu mereka nggak sekolah dan walaupun mereka sekolah, bisa aja nggak begitu antusias. Apalagi, kalo ngamen itu kan ada uang yang dihasilkan, sedangkan belajar, belum nampak hasilnya saat itu. 

Kami pun membahas beberapa hal lainnya sebelum pulang. Menurutku, kejadian hari ini cukup menarik dan perlu untuk dituliskan. Aku punya banyak pengalaman baru yaitu pergi ke tempat baru bersama orang yang baru kukenal dan membahas banyak hal dengan bebas, terbuka dan penuh kejujuran. 

Kami juga sepakat untuk menulis tentang hari ini di blog masing-masing, terutama masalah percakapan dengan pengamen tadi. 

Nah, bagianku udah selesai, hahahhahha. Tinggal nagih ke Fiqri, wkkwkwk.

Bagaimana dengan kalian? Apa kalian punya pengalaman yang sama? Atau diskusi lainnya yang lebih menyenangkan? Silakan share ya di kolom komentar. 

Oh yaaa, aku juga udah pernah nulis masalah pendidikan Indonesia saat topik #Bloggers’Challenges, silakan cek link ini ya. 

Terima kasih sudah membaca. 

Iklan