Siang tadi, saat aku baru saja hendak memasang headset di telinga untuk mendengarkan lagu demi mengiringi perjalanan Medan menuju Pangkalan Berandan, tiba-tiba seorang anak perempuan yang duduk di sampingku menawarkan roti. 

Sebenarnya aku nggak begitu tertarik untuk makan roti saat itu, tapi karena dia sudah mengumpulkan nyali untuk menepuk pundakku dan memberi senyuman ramah sambil menyodorkan bungkusan rotinya, akupun mengambil satu.

“Terima kasih ya.”

“Ya, sama-sama, kak.”

Aku kira percakapan akan berhenti sampai di situ, namun ternyata, dia kembali bersuara.

“Kakak mau ke mana?”

“Ke Berandan, dek.”

“Oh ya, kakak di Medan kuliah ya?”

Iyaa, kok tahu?”

“Nebak-nebak aja, aku lihat kakak baca buku, jadi aku pikir kakak anak kuliahan. Kakakku juga lagi kuliah dan dia suka baca kayak kakak.” Dia menunjuk buku yang ada di pangkuanku.

Memang ada stereotip bahwa yang baca buku itu cuma anak kuliahan, ya? Aku baru tahu. 

“Boleh lihat bukunya, kak?”

“Oh, boleh.” 

Akupun memberikan buku tersebut ke tangannya. Syukurnya, judul buku yang lagi kubaca terlihat agak intelek, menurutku, hehehe, Membimbing Anak Terampil Berbahasa karya Syakir Abdul Azhim. 

Buku itu baru saja kubeli sebelum pulang ke Berandan. Tadi pagi, aku sempat pergi ke bazar buku Islami dan menemukan buku ini, ntah kenapa, judulnya menarik minatku. Aku sedang tertarik untuk mempelajari tentang Language Acquisition (pemerolehan bahasa pada anak) dan rasanya buku ini cocok untuk dibaca. 

Kebetulan, harganya cuma Rp. 9.000. Memang bukunya cukup tipis, nggak sampai 100 halaman. Tapi, untuk ukuran buku Islam terjemahan, tentu aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membelinya. 

Aku baru membaca kata pengantarnya, yang berisi tentang keresahan bahwa penggunaan bahasa Arab mulai tergerus oleh bahasa lainnya di negeri Arab. Aku sendiri bisa membandingkannya dengan keadaan bahasa Indonesia yang sekarang makin terasa kurang elit ketimbang bahasa Asing. Untuk itu, perlu ada pemahaman dan didikan dari orang tua untuk mengembangkan kemampuan anak dalam belajar bahasa sejak kecil. Agar orang tua bisa membimbing anaknya untuk berbahasa yang baik, orang tua perlu banyak membaca supaya tahu teori dan bisa mempraktekkannya. 

“Kakak masih kuliah tapi kok bacaannya tentang membimbing anak? Kakak udah mau nikah ya?”

Oh my god! Anak-anak zaman sekarang pertanyaannya w.o.w banget ya. 

Aku lihat ibunya menyenggol lengannya. Ternyata, percakapan kami didengar oleh ibunya. “Jangan ganggu kakak itu, dek.”

“Banyak kali pertanyaannya? Maaf ya, dek.” Ibu itu tersenyum padaku.

“Nggak apa-apa, bu.”

Walaupun anak itu bisa dikatakan menggangguku ketika ingin dengar lagu sambil baca buku, tapi aku cukup senang dengan kehadirannya. Jarang ada orang yang mengajakku bicara di dalam timtak seperti ini.

“Yaa, mumpung lagi ada waktu luang, dek. Lagian, kalo pas mau nikah atau pas hamil baru baca bukunya, ntar keteteranlah. Kalo sekarang kan, kakak bisa pelan-pelan memahaminya, kalo nggak ngerti, bisa dibaca berulang-ulang, jadi lebih enak dipraktekkan nanti.”

“Oh gitu ya. Jadi, kita harus belajar dari sekarang. Aku juga suka baca buku, kak.”

“Baguslah. Harus dipertahankan itu dek. Kita harus banyak baca buku kalo pengen ilmunya nambah.”

“Iya kak, tapi kawan-kawanku jarang ada yang suka baca. Mereka suka nonton TV sama main FB.”

“Nggak usah pala diikuti yang kayak gitu dek. Oh ya, adek kok suka baca?”

“Di rumah banyak buku, mamak suka baca jadi aku ikutan suka baca.”

Hmm, dari awal dia nawarin aku makanan sambil tersenyum, aku memang udah ngerasa kalo anak ini dididik dengan baik. Berbagi itu adalah hal yang sulit, ya kan? Menawarkan makanan pada orang di dekat kita saat kita hendak makan bisa dikatakan adab sopan santun, kan?

Selain itu, anak ini terlihat cukup cerdas melihat dari caranya bertanya. Kemampuan bertanya juga merupakan salah satu bukti bahwa ia mampu berpikir kritis. Ditambah lagi, dia punya hobi membaca yang dibiasakan dari rumah. Benar memang, bahwa pendidikan paling utama itu berasal dari rumah. 

Aku jadi ingat dengan murid-murid PPL-ku yang menganggap baca itu melelahkan. Mungkin karena di rumah mereka, tidak ada kebiasaan membaca dan anggota keluarganya tidak begitu perhatian terhadap buku. 

“Iya, dek. Dari kecil, kalo saya lagi baca buku, dia suka ngambil buku saya dan baca-baca sendiri.” Ibunya malah curhat padaku ketika anak itu sibuk membuka-buka halaman buku yang kupinjamkan tadi.

Aku tersenyum. Sebenarnya, dalam hati, ada dorongan kuat untuk kampanye membaca, wkwkwkkwk. Maksudnya, aku pengen menghasut si ibu supaya mendukung kegemaran anaknya dalam membaca dengan menyediakan sumber-sumber bacaan anak-anak. Karena, walaupun aku sejak kecil juga sudah biasa membaca, tapi buku-buku bacaanku nggak sesuai dengan usia, jadi, saat udah besar gini, ngelihat buku anak-anak rasanya baper.

Aku juga pengen membahas tentang teori para behavioris yang percaya dengan eksperimen rangsangan menghasilkan respon. Orang tua perlu merekayasa lingkungan anak dan memberi rangsangan yang cukup agar anak terstimulasi untuk melakukan sesuai yang kita inginkan.

Dalam kasus ini, si ibu sudah melakukannya, ntah sadar atau tidak. Si ibu membiasakan diri untuk membaca di depan sang anak sehingga sang anak termotivasi untuk ikut membaca. Jadi, cara tepat supaya anak termotivasi untuk membaca, bukan dengan menyuruhnya membaca, tapi membiarkannya meniru kita yang suka membaca.

Kalau anak disuruh-suruh membaca atau disuruh belajar sedangkan orang tua tidak mencontohkan hal serupa, terbentuk pemahaman bahwa, ahh mamak-ayahku aja nggak gitu, ngapain aku ngelakuinnya?

Tapi, aku mah apa atuh, cuma mahasiswa biasa yang belum pernah ngurus anak, jadi aku yakin ibu ini lebih ngerti masalah psikologi anaknya. 

“Adek kuliah di mana? Jurusan apa?” Ibu itu bertanya padaku.

Akupun menjawab pertanyaan beliau dengan suara lirih, agak kurang pede, hehe.

“Wah, nanti jadi guru lah ya. Saya juga guru.”

“Oh yaa bu? Ibu dulu kuliah di mana?”

Lalu, kami menghabiskan beberapa menit untuk membahas tentang dunia perkuliahan. Beliau banyak cerita tentang bagaimana perjuangannya untuk mendapat nilai dari dosen-dosen yang terkenal “killer”.

“Jadi, selama kuliah, ada nggak pengalaman menarik pas di kelas?”

“Maksudnya, bu?”

“Yaaa, gimana ya jelasinnya. Maksud saya, kamu pernah nggak ngerasain pas dosen ngajar itu seru banget caranya sampe pengen niru?”

“Hm, maksudnya pengalaman berkesan dan tak terlupakan ya, bu?”

“Yaa, bisa seperti itu.”

Aku terdiam. 

Pengalaman apa? Apa ada yang menarik? Kapan ya dosenku menginspirasi? Hmm, kalo ditanya pas zaman SMA, pernah. Tapi, kalo kuliah……..

Belum sempat aku menemukan jawabannya, anak itu mengembalikan buku tadi padaku. 

“Kakak suka baca buku-buku apa?” Pertanyaannya menyela pikiranku.

“Buku? Apa ajaaa sih, yang penting enak dibaca. Oh ya, adek kelas berapa sekarang?”

“Kelas 2 SMP, kak.”

Kelas 2 SMP? Aku kira dia masih anak SD kelas 6 gitu. Mungkin karena tubuhnya mungil dan sikapnya yang mau tahu banyak hal. Biasanya, anak mulai hilang rasa ingin tahunya dan bersikap lebih tertutup saat memasuki jenjang SMP. Anak ini pengecualian. Pikirannya agak berbeda dari anak-anak seusianya yang kukenal. 

“Kamu sendiri suka buku apa?” 

“Kalo pas kecil, aku suka baca majalah Bobo sama cerita nabi-nabi. Kalo sekarang aku lagi suka baca Tere Liye sama Habiburrahman.”

Wah, daebak! Aku aja baru mulai baca novel itu pas awal kuliah, ckckkck.

Berarti ibunya benar-benar menyediakan akses supaya dia tetap membaca buku. Untung aku tadi nggak sempat ngomong macem-macem sama si ibu, haha. 

Tak lama kemudian, mereka menyetop timtak lalu turun. 

“Makasih ya kak. Daaaaah..” Dia melambaikan tangannya padaku dari luar timtak.

“Duluan ya, dek.” Ibunya ikut tersenyum padaku.

Aku membalas lambaian tangannya sambip tersenyum. Ketika timtak kembali melaju, aku menghela nafas. 

Padahal ini cuma percakapan biasa, namun menguras emosi dan pikiran. 

Aku jadi bertanya-tanya, apa dulu aku juga sebijak itu saat masih kecil?

Hmmm, aku banyak belajar dari anak itu dan ibunya. Perjalanan kali ini terasa mengasyikkan. 

Iklan