Hai guys!

Seperti biasa, aku tiba-tiba kepo tentang teori motivasi, jadi iseng-iseng searching di Google. Aku coba baca beberapa blog, tapi nggak ada yang menarik.. Lalu aku teringat akan sebuah artikel berbahasa Indonesia yang kubaca beberapa tahun lalu.

Artikelnya oke banget. Judulnya: Apasih Yang Bikin Kita Termotivasi? 

Artikel ini ditulis oleh bang Wisnu, seorang tentor kece dari Zenius Education. Menurutku, Zenius.net/blog itu salah satu blog paling perlu dibaca oleh para pelajar dan pendidik Indonesia.

Ecieee, promonya mantap banget yaa. Tapi, seriusan deh, karena aku sendiri ngerasa kayak dapat pencerahan tiap baca artikel-artikelnya. Blog ini termasuk salah satu blog yang paling aku stalking, wkwk.

Nah, di situ, bang Wisnu membahas tentang level-level motivasi berdasarkan teori Edward Deci dalam bukunya Self-Determination. 

Zenius.net

Saat aku mulai kehilangan motivasi, aku bakal searching di Google dengan menggunakan keyword: motivasi zenius, dan taraaa.. Aku bisa baca artikel ini lagi dan lagi.

Karena penasaran sama teori asli Edward Deci, akupun terpaksa searching lagi di Google menggunakan keyword berbahasa Inggris (biar lebih afdol sumbernya), tapiii…

Aku malah nyasar ke tulisan Tim Elmore, seorang founder dan president di sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang pengembangan kepemimpinan bernama Growing Leader, yang ada di Psychology Today. Tulisannya berjudul: Six Level of Motivation in Students.

Setelah membaca tulisannya, aku penasaran sama organisasi Growing Leader dan meluncur ke website-nya. 

Kemudian, aku nemu gambar:

Akibat embel-embel download gratis buku, akupun klik tulisan download now.. 

Ehh, malah dialihkan ke tulisan ini: In Other Words: Learning the Art of Communicating with the Next Generation.

Ada sih free ebook-nya tapi harus subscribe email dulu.

Awalnya, aku nggak mau baca artikel itu. 

Lelah adek kalo men-translate-nya, (jurusan apa kau rupanya, Wa? wkkwkwk). 

Tapi, kalimat pembukanya menarik banget…

Aku setuju banget dengan kalimat tersebut. Kita hidup di era informasi namun bukan era komunikasi. Maksudnya, saat ini informasi berhamburan namun interaksi dan komunikasi yang kita lakukan makin sedikit, ckckk.

Aku jadi penasaran dengan keseluruhan isinya.. Dan karena aku lagi males mikir (alesan sih, sebenarnya karena nggak begitu paham kalo baca pake bahasa Inggris) akupun copy kalimat di situ, kemudian paste di aplikasi Google Terjemahan yang ada di hp. 

Di aplikasi itu, aku biarin si speaker ngomong teksnya dan aku dengerin baik-baik pengucapan dari aplikasi itu sambil melatih listening dan reading, lalu aku ulang lagi sambil baca terjemahannya sambil dengerin si mbak bicara pake bahasa Inggris aksen Amerika yang lucu karena datar banget. 

Semua kalimatnya berisi, tapi, yang menarik bagiku adalah fenomena kesenjangan pola pikir pelajar dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah yang terjadi di luar negeri. Aku jadi terinspirasi untuk menuliskannya di blog ini.

#

P.s: P untuk pelajar dan S untuk sekolah.

Pertama

P: pemikir dengan otak kanan

S: menyampaikan dengan otak kiri

Kedua

P: memperoleh pengalaman dari alam/merasakan pengalaman langsung

S: belajar secara pasif/belajar hanya di dalam kelas secara teori

Ketiga

P: belajar dengan mengunggah sesuatu/mengekspresikan diri mereka

S: mengajar dengan menggunakan materi yang diunduh/berpatok pada materi yang terbatas

Keempat

P: pembelajaran musik dan seni mampu membuat siswa mempertahankan informasi/lebih mudah belajar lewat musik dan seni

S: kelas musik/seni sering dipotong/dianggap tidak penting

Kelima

P: keinginan untuk mempelajari hal-hal yang relevan dengan kehidupan

S: fokus mengajar untuk tes selanjutnya

Keenam

P: kreativitas sebagai motivasi utama

S: kurikulum/tes dijadikan acuan

#

Ketika aku baca enam poin di atas, aku terkekeh.

Ngerasa geli.

Ya elaaah, ternyata itu masalah pendidikan secara global yaa.

Yaaa, walaupun jelas level pendidikan di Indonesia berbeda jauh dengan Eropa ataupun Amerika sana.

Dari poin pertama, antara otak kiri dan otak kanan. Bener banget kan? Dulu (sampai sekarang sih), aku sendiri merasa tertekan karena di sekolah lebih menekankan aspek kognitif (yang lebih merujuk pada otak kiri). Jarang banget, siswa dibiarkan mengembangkan kecerdasan otak kanannya, belum lagi kita biasa didikte. 

Kalo di Indonesia, sepertinya kita masih bener-bener fokus terhadap penyampaian materi secara konvensional (terutama di sekolah-sekolah negeri di daerah-daerah kecil). Sedangkan di sana, mungkin kalimat ini merujuk pada porsi otak kiri dan otak kanan yang belum seimbang. 

Poin kedua, pelajar itu cenderung menyukai praktek karena mereka bisa merasakan sendiri pengalaman belajar (learning by doing) tapi, seringnya sekolah memenjarakan pelajar dengan duduk cantik di kelas, membuka buku, mendengarkan guru, menulis catatan dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. 

Terbayang kembali 16 tahun aku belajar seperti itu.. Aku bertanya-tanya, gimana dulu aku ngejalaninnya ya?

Poin ketiga sepertinya berkaitan dengan sosial media yang saat ini sangat digandrungi para pelajar dan anak muda. Pelajar kini terbiasa untuk membicarakan, mengunggah dan mengekspresikan dirinya sedangkan sekolah masih menuntut pelajar untuk mengunduh materi (dari beberapa bacaan, pelajar di luar negeri biasa diberi dan mengumpulkan tugas secara online). 

Dalam hal ini, sekolah di Indonesia masih berfokus pada materi yang ada dalam buku teks atau LKS dan sesekali meminta siswa membuat makalah (yang biasanya diambil dari artikel-artikel blog di internet a.k.a copas). 

Poin keempat, pembelajaran akan lebih mudah dipahami lewat seni dan musik (atau cara-cara lain yang kreatif), namun, kedua hal itu sering diabaikan dan dikurangi jam pelajarannya. Dengan kata lain, kedua hal itu kalah penting dengan materi-materi berat. 

Poin kelima, mempelajari hal-hal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari bisa dikatakan adalah impian setiap pelajar. Aku sendiri selalu bertanya-tanya, apa sih gunanya belajar A? Untuk apa dipelajari kalo nantinya akan dilupakan? Namun, sekolah masih berfokus pada nilai, tes dkk. 

Um, sebenarnya, kalo di Indonesia sendiri, khususnya berdasarkan pengalamanku, yang dijadikan acuan guru hanyalah menyampaikan materi yang perlu disampaikan dengan harapan siswa bisa menjawab ujian dengan baik namun jika hasil tidak memuaskan yaa terpaksa guru harus memolesnya lagi. Artinya, tes juga tidak berarti banyak. 

So, untuk apa belajar? Ntahlah

Poin keenam, kreativitas vs. aturan dalam kurikulum. Pelajar cenderung menyukai sesuatu yang berkaitan dengan kreativitas namun lama-kelamaan kreativitas tersebut memudar seiring kuatnya kendali dari kurikulum yang berlaku. Sehingga pelajar hanya datang ke sekolah dengan membawa tubuhnya, pikirannya mengelana ntah ke mana. 

#

Dari poin-poin di atas, jika digeneralisasikan, seperti yang kukatakan di atas, bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia dan di luar negeri mirip-mirip (hanya beda level sedikit). 

Aku sengaja mencatat penemuan ini di blog supaya aku nantinya bisa kembali membaca tulisanku.

Untuk sekarang, tulisan ini dibuat hanya sebagai catatan saja karena aku masih mencari solusi atas permasalahan-permasalahan umum yang terjadi di kelas/sekolah.

Ini adalah PR yang berat..

Terima kasih sudah membaca.. 

Iklan