Hai guys!

Beberapa hari ini aku menghabiskan waktu di rumah sakit.

Bukan. 

Bukan aku yang sakit, tapi mamakku. Doakan yaaa.

Jadi, aku sebenarnya belum mood untuk nulis. 

Padahal selama ini aku nggak pernah mau ngakuin kalo nulis itu dipengaruhi oleh mood juga. Sampai sekarang pun nggak, walaupun emang saat ini rasanya agak berat untuk nulis. 

Tapi, aku nggak mau menumpuk hutang di #Bloggers’ Challenges. Jadi, aku akan kerjakan tantangan dari mas Arif. 

Seperti judul di atas, mas Arif minta kami untuk nulis tentang:

Things that put you down and things that fix them.

Hal-hal yang terkadang membuat kita merasakan sakit atau sedih dan hal-hal yang menyembuhkannya. Kira-kira seperti itu aku memaknainya. 

#

Bercerita tentang rasa sakit atau perasaan terluka, sejujurnya saat ini aku sedang tidak menemukan perasaan seperti itu. Maksudnya, aku sedang tidak terpuruk dan sedang tidak ingat perasaan menyakitkan seperti itu (dan semoga nantinya juga tidak merasakan hal-hal seperti itu). Jadi, agak sulit mencari-carinya.

Setelah diingat-ingat, inilah hal yang pernah membuatku terpuruk:

Diremehkan/disepelekan

Menurutku setiap orang nggak bakal suka kalo diremehkan dan disepelekan, termasuk aku. 

Contohnya seperti apa, Wa?

Menurutku, aku termasuk orang yang jarang (bahkan menghindari) membicarakan sesuatu yang nggak kuketahui. Maksudnya, aku nggak asal cakap aja walaupun kadang aku nampaknya becanda (eh, tapi aku jarang becanda deng). Tapi, ada orang-orang yang karena melihat latar belakangku (mungkin dia pikir nggak sesuai dengan yang kuucapkan, misalnya anak bahasa ngomongin masalah politik atau sains) dan menganggapku nggak punya pengalaman, lantas menyepelekan apa yang kukatakan. 

Aku termasuk orang yang sensitif sebenarnya, namun jika dihadapkan pada situasi seperti itu, aku bakal berusaha mengabaikannya. Memang awalnya, “nyuuuttt”.. Tapi aku berusaha logis dan mencerna argumennya (kalo dia nggak punya argumen oke, aku biasanya jelasin konteks yang kumaksud), kalo ternyata argumennya ada benarnya, aku mau mengakuinya (aku kan suka diskusi). 

Kalo dia cuma mau ngeremehin aja, yaaahh… Biasanya aku jadi males gitu sama dia… tapi nggak memperpanjang masalah sih.

Kadang kala, kalo momennya memang lagi nggak pas banget, aku juga bisa defensif.. Tapi aku berusaha menghindarinya karena aku nggak mau kami jadi saling balas menyakiti, eaaaaakkkk..

#

Jika ada hal yang membuatku terpuruk, tentunya ada juga hal yang membuatku tenang, yaitu:

Dipeluk

Aku ini termasuk anak yang cengeng. Kalo ngerasa sedih, aku nggak bisa nahan diri untuk nggak nangis. Tiba-tiba air mataku jatuh gitu aja. Nyesek.

Nah, saat itu bagusnya aku nggak usah diajak ngomong karena nangisnya bisa makin deras sampe sesak nafas, hahaha.

So, diapain dong, Wa?

Dipeluk aja.

Sejak kecil, kalo aku sedih, sakit atau ketakutan biasanya mamak langsung peluk aku. Misalnya saat aku diejek orang, sakit gigi, atau saat tengah malam mati lampu dan hujan deras disertai petir.

Kalo dipeluk itu rasanya damai banget. Jadi ngerasa disayangi dan dipahami gitu, wkwkkwkwk. 

Yah, intinya aku suka dipeluk kalo lagi down. 

Kalo sedihnya pas sendirian, biasanya aku nangis sambil istigfar. Selain itu, supaya nggak memperpanjang kesedihan, aku milih salat, tidur atau baca buku.

Menerima permintaan maaf

Ada yang bilang, “memaafkan namun bukan melupakan.”

Itu memang benar. Kalo hati udah keburu disakiti, pasti ada bekasnya. Namun, ntah kenapa kalo misalnya aku disakiti sama orang terus dia minta maaf, aku nggak bisa nggak memaafkannya. Rasa sakitnya seperti sembuh seketika. 

Karena aku tahu, meminta maaf itu bukan hal yang mudah. Ada ego yang ditekan. Ada kesadaran akan kesalahan yang dilakukan. Ada rasa kasih yang nggak membiarkan hubungan baik menjadi retak. 

#

Nah, itulah yang bisa kutuliskan di posting-an ini. 

Gimana denganmu? Apa hal yang membuatmu terpuruk dan hal yang menyembuhkannya?

Btw, terima kasih sudah membaca. 

Iklan