Saat lagi asyik-asyiknya dengerin lagu di Joox, tiba-tiba aku mendengar mamak membacakan sebuah tulisan yang di-share di grup Whatsappnya. 

Kabar duka untuk kita umat Islam Nandang Burhanudin, Wartawan Palestina membocorkan strategi pemerintah zionis Israel untuk menebar VIRUS AIDS disetiap pembalut wanita.

Produk tersebut akan ditulis: “Made in Kingdom of Saudi Arabia,” namun sebenarnya produk Israel. 

Targetnya adalah: 

1. Membunuhi wanita-wanita Arab dan umat Islam yang sangat subur melahirkan anak-anak. 

2. Memperburuk citra muslimah, karena ternyata terkena virus HIV/AIDS dalam keluarga yang menghormati norma-norma Islam. Dimana lazimnya kaum hawa saat ini, selalu menggunakan pembalut saat haid. Ketika itulah virus akan menebar dan bercampur darah saat digunakan dalam waktu yang melebihi 30 menit. Akhirnya virus HIV-pun akan menjangkiti pengguna.

Semoga Allah melindungi kita semua. Amin…

Jangan lupa kalau beli barang dengan barcode 729 jangan dibeli, itu made in Israel, BOIKOT!!


Tolong bantu Share berita ini. Thanks. Untuk para laki-laki infokan kepada saudara atau teman perempuan.

Keningku mengerut mendengarkannya. 

Pikiranku langsung merespon, “Lagi lagi berita hoax.”

Tanpa dicegah, pikiranku kembali membuka ingatan terkait pelajaran Biologi terutama saat membahas tentang sel dan virus (kelas 1), sistem imunitas (kelas 2) dan genetika (kelas 3) . Aku juga teringat dengan buku-buku yang kubaca mengenai HIV/AIDS saat SMP. 

“Memangnya semudah itu virus HIV/AIDS menyebar?”

Setahuku, HIV/AIDS menyebar lewat kontak langsung seperti terkena cairan darah pengidap, melakukan hubungan badan dengan pengidap, ibu yang terinfeksi ke janinnya serta penggunaan jarum suntik bersama pengidap. 

Dulu, aku sempat khawatir kalo HIV/AIDS bisa ditularkan dari gigitan nyamuk, namun hal tersebut belum terbukti dalam penelitian terkait penularan HIV/AIDS.

Sebenarnya aku bisa aja mengabaikan pesan tersebut, tapi ntah kenapa tanganku gatal untuk mencari penjelasan lebih dalam mengenai hal ini. Soalnya aku kan perempuan, sering juga pake pembalut instan saat haid, udah lama nggak belajar Biologi (pas belajar pun nggak semuanya dipahami). So, for make sure, aku searching di Google.

Berikut link penjelasannya, silakan baca artikelnya jika ingin menambah pengetahuan:

https://kesehatanmuslim.com/hoax-menanam-virus-hiv-pada-pembalut-wanita/

http://hoaxataunyata.blogspot.co.id/2016/03/benarkah-virus-hiv-ada-di-pembalut.html?m=1

Setelah baca artikel-artikel tersebut, aku semakin yakin berita itu hoax.
Kemudian aku nanya sama mamak, “Siapa mak yang share?”

Mamakpun menjawab “Si Fulan.”

Oalah.. Padahal beliau adalah guru Biologi. Mungkin beliau sedang khilaf.

“Yaudah mak, itu beritanya nggak bener ya. Jangan percaya.”

Aku pengen jelasin panjang lebar sama mamak, tapi nggak yakin juga bakal didengerin soalnya kan bahas-bahas tentang karakteristik sel virus, sistem imunitas dsb itu membosankan bagi banyak orang. 

“Yaa, mamakpun nggak berani nyebar-nyebar berita kalo belum jelas takut jadi fitnah juga cuma mamak bilang aja sama Wahidah soalnya kan Wahidah anak mamak.”

“Iya mak, baguslah kalo gitu.”

*

Kejadian ini membuatku sadar bahwa ternyata ada manfaat belajar Biologi saat masih sekolah dulu.

Dulu aku sering sebel kenapa belajar Biologi secara teori itu membosankan? Kenapa nggak belajar Biologi berdasarkan kasus-kasus dalam kehidupan sehari-hari?

Sebagai contoh, kenapa belajar sistem pernafasan itu harus selalu mulai dari organ-organ pernafasan, contoh-contoh pernafasan, lalu contoh penyakit pernafasan di mana siswa diminta untuk menghafal penjelasan di buku teks? 

Coba kalo pendekatannya diganti, guru minta siswa untuk cari orang-orang terdekat yang punya riwayat penyakit di saluran pernafasan dari yang ringan seperti batuk, pilek, flu hingga kanker paru-paru, kemudian, setelah siswa menyadari bahwa ternyata banyak orang di sekitarnya yang mengidap oenyakit tersebut, timbul kesadaran untuk memahami sistem pernafasan itu sendiri. Hal yang harus dilakukan, hal yang sebaiknya tidak dilakukan, bagaimana mencegah penyakit tersebut serta penanganannya. Bisa dibayangkan pembelajaran lebih menyenangkan (setidaknya untuk anak-anak sepertiku yang punya minat tinggi dalam belajar Biologi).

Tapi yaaa, belajar teori juga ada manfaatnya kok, soalnya aku jadi agak mudah memahami artikel-artikel kesehatan karena udah “punya dasar”.

Contohnya saat membaca kalimat ini:

Aku langsung ingat pelajaran Biologi di kelas 1 SMA saat membahas tentang virus bahwa memang benar virus itu hanya bisa bertahan jika berada di dalam sel saja karena virus sepenuhnya bergantung pada inang, jika ia keluar, maka ia akan mati.

*

Sepertinya aku udah cerita panjang banget di posting-an ini. Intinya, berita tersebut hoax, jadi jangan percaya. 

Selain itu, hal yang ingin kutekankan dalam posting-an ini adalah jika mendapat satu kabar atau berita, sebaiknya kita cari tahu dulu kebenarannya sebelum di-share ke orang lain karena kebanyakan orang langsung menerima informasi secara bulat-bulat. 

Kemudian, aku juga nggak langsung nge-judge orang yang nyebarin itu “gimana-gimana” ya, bisa aja orang tersebut khilaf, analisisnya kurang, atau memang mempercayai hal tersebut dan menyebarkannya dengan tujuan mulia (seperti memberitahu ke orang-orang terdekatnya agar mereka terhindar dari kerugian), dsb, karena aku juga dulu pernah gampang percaya dan gampang men-share informasi yang disebarkan orang lain.

Kalo sekarang? Aku baca aja kiriman orang, kalo rajin aku searching di Google, kalo nggak yaa didiamkan aja, wkwkwk.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat. 

Iklan