Jam setengah 3 dini hari aku terbangun dari tidur. Mungkin karena udaranya dingin (aku nggak begitu tahan dingin) dan selimut udah ntah di mana-mana (akhir-akhir ini suka gitu padahal biasanya aku nggak lasak tidur).

Cek hp yang dicas, trus ke kamar mandi. Buang air kecil, wkwk. Mungkin karena kena air, otak langsung aktif mikir. Ada desakan untuk nulis tentang pendidikan. Teringat topik #Bloggers’Challenges ke-50 yang dikasi Trias mengenai pro kontra biaya pendidikan di Indonesia. Oh.. iya, belum kutulis padahal udah lewat lebih dari dua minggu. 

Mau dibawa tidur lagi, tapi otak terus mikir. Ah, salat tahajud dulu la, mumpung kebangun ini. Setelah itu, mau tidur, tapi kepala masih panas. Ini harus do action kalo mau tenang. Akupun menghidupkan lampu kamar dan meraih hp, buka wordpress. 

Bengong.

Apa aku kerjain topik #BC ke-50 itu ya? Tapi, tapi, belum ada strukturnya. Belum tahu apa aja yang mau ditulis.  Coretan di buku tentang topik itu masih acak banget.

Akhirnya, aku memutuskan untuk searching dulu di Google berkaitan dengan landasan hukum pendidikan Indonesia. Aku ingat banget ada pasal yang membahas pendidikan karena saat SMP selalu disuruh hafal UUD 1945 tiap pelajaran PPKN. Di Google, keluar artikel yang membahas tentang pasal 31 UUD 1945 hasil amandemen kelima. 

Aku nemu tulisan di blog Santonoalvin’s blog yang berjudul UUD 1945 pasal 31. Penulis nggak hanya membeberkan tentang ayat-ayat yang ada di pasal 31, tapi dia juga nulis tentang masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan Indonesia. Aku merasa keresahan kami agak-agak sama, soalnya aku juga pernah nulis tentang hal itu di posting-an Masalah dalam Pendidikan Indonesia untuk #BC ke-17

Jadi, saat baca tulisan Santonoalvin itu, aku banyak setuju. Di situ dia nulis berdasarkan pandangan dan pengalamannya pribadi, jadi aku bisa ngebayangin situasi pendidikan yang dia rasakan. 

Kemudian, aku baca satu bagian yang tiba-tiba bikin aku pengen ketawa. Ketawa lucu. Ketawa miris. Ketawa malu. 

Karena bagian yang ku-capture di atas, aku jadi bernostalgia tentang beberapa momen antara guru, siswa dan kamus. 

Naaah, jadinya aku memutuskan untuk bercerita spesifik mengenai hal itu saja di posting-an kali ini. 

#

Masalah pentingnya kamus ini baru bener-bener kusadari ketika masuk kuliah (poor me!). Aku kuliah di program studi pendidikan bahasa Inggris. Saat SMA, walau tahu kamus itu diperlukan dalam pembelajaran bahasa Inggris, namun tingkat urgensinya nggak sebesar itu. 

Guru nggak benar-benar minta kami untuk punya kamus. Punya dan bawa kamus itu seperti anjuran saja. Mungkin memang guruku pernah menekankan pentingnya kamus, namun aku sendiri hampir nggak pernah bawa kamus. Fyi, dulu kamus yang kupunya juga cuma kamus sekian milyar, wkwkwk. 

Kenapa aku jarang bawa kamus? 

Pertama, karena itu nggak mendesak. Toh, aku bisa minjem sama teman. 

Kedua, jarang banget ada momen kami harus pake kamus. 

Ketiga, guru sering menerjemahkan teks-teks untuk memudahkan kami memahami bacaan. Sesekali nanya arti sebuah kata, namun jika kami nggak tahu, beliau akan memberitahu. 

Keempat, kamusku kalah elit sama kamus teman-temanku, haha. 

So, kamus itu nggak penting-penting amat menurutku saat itu.

Selain itu, aku memang suka baca, tapi agak males baca kamus bahasa Inggris. Kalo KBBI dan ensiklopedia aku suka tapi nggak punya, jadi aku baca itu saat di perpustakaan sekolah.

Nah, saat ngambil mata kuliah Speaking I, aku diajar oleh dosen muda ganteng, kece, seksi. Beliau memaksa kami untuk bawa kamus, minimal Oxford pocket. Kamus itu dianggap sebagai tiket masuk kelas, kalo nggak bawa kamus nggak boleh masuk kelas. Atau kalo si dosen lupa saat awal perkuliahan, sepanjang pembelajaran beliau bakal jalan keliling ke meja-meja kami sambil nerangkan materi dan memeriksa kamus. Kalo di meja nggak ada kamus, beliau langsung mencecar si mahasiswa dengan pertanyaan bahasa Inggris seperti minta arti sebuah kata yang nggak familiar sehingga mahasiswa kelimpungan, setelah itu beliau bakal nyindir-nyindir si mahasiswa karena nggak bawa kamus. “Kalo kamu bawa kamus, kamu bisa cari langsung arti katanya, ya kan?” 

Selain itu, dosen Reading I yang sudah tua dan senior juga selalu nanya ke kami arti-arti dan pengucapan bahasa Inggris yang benar berdasarkan kamus. Namanya juga reading material, otomatis banyak banget kosa kata yang baru dan nggak dipahami. Kayaknya si dosen sengaja milih artikel-artikel yang bahasanya rumit. 

Mulanya beliau minta dibacakan kalimat lengkap, kemudian nanya arti, kalo mahasiswa bisa jawab, beliau minta kami ngucapinnya dengan pelafalan yang benar. Biasanya, ada aja kata-kata yang nyangkut karena kami nggak tahu cara bacanya. Trus, beliau bilang, “Coba cari pelafalan yang benar di kamus.”

Dan karena cara baca di kamus pake IPA (International Phonetic Alphabet) yang simbolnya itu njelimet, kami sering salah ucap terutama huruf vokal. Nah, beliau baru ngajarin cara bacanya setelah kami bergagu-ria, wkwkkwk. 

Nggak hanya di dua matkul tersebut, dosen lainnya juga selalu ngomong pentingnya kamus dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Karena urgensi kamus sangat tinggi, kamipun beramai-ramai pergi ke titi gantung (nama pasar buku terkenal di Medan) untuk membelinya. Aku? Beli yang pocket aja, soalnya ukurannya kecil, ringan dan nggak bikin tas berat (diktat-diktat perkuliahan, laptop, buku dan minuman, adek harus nanggung berat tas berapa kilo, bang). 

Itulah orang Indonesia, kalo nggak dipaksa, jarang tergerak sendiri. Jangan tiru bagian ini ya, pembaca.

Namun, pembelian kamus ini nggak sia-sia karena seperti yang kubilang tadi, para dosen tahu cara langsung (implicits) dan eksplisit (explicits) untuk membuat mahasiswanya minimal terpaksa bawa dan baca kamus. Oke, tidak semua dosen, hanya beberapa saja.

Yang paling terasa itu masalah definisi kata. 

Kayaknya tahu, tapi ternyata nggak tahu. MALU.

Yaa, kalo SD, SMP, SMA kan kita biasanya pake kamus bahasa Inggris-Indonesia (sebatas translate), namun kalo Oxford kan bahasa Inggris-bahasa Inggris (definisi) dan itu agak nyebelin di awal-awal tahun. 

Wong, akunya nggak tahu arti satu kata makanya gunain kamus, eh, artinya juga pake bahasa Inggris, kalimat pula lagi itu. Podo wae. Nambah-nambah susahnya. #amatir

Tapi, tapi.. Karena semester-semester awal digencet seperti itu, kosa kata bahasa Inggrisku meningkat lho. Dulu, baca teks genre di LKS aja capek kali translate-kannya, setelah kuliah, baca artikel-artikel bahasa Inggris nggak depresi-depresi banget. 

Itu juga pentingnya momen dalam perubahan #tsaaaah. Karena saat itu masih newbie, masih polos dan masih banyak takutnya, jadi sense untuk belajar seriusnya lebih dapet. Coba kalo udah semester tua baru digencet, nggak tahu deh apa bakal seefektif itu juga hasilnya (emang udah efektif, Wa? Wkwkwkk).

Selain Oxford, kami juga instal aplikasi Merriam-Webstern Dictionary di hp android. Ini lebih praktis lagi. Tinggal buka hp, ketik kata, baca arti, trus bisa dengerin pelafalannya walaupun aplikasinya agak berat. 

Tapi bedalah sensasi nyari kata di kamus cetak sama kamus elektronik. Lebih terasa perjuangannya kalo pake kamus cetak dan lebih banyak ketemu kata-kata baru saat mencari kata yang diinginkan. 

Oke, inti ceritanya dalam kasusku, dosen-dosenku berhasil membuatku untuk menyadari pentingnya kamus dalam belajar bahasa Inggris. 

#

Tapi, cerita tentang kamus tak berakhir sampai di situ. 

Saat PPL di tahun 2015, aku merasakan kembali urgensinya kamus namun dari sudut pandang seorang guru. 

Sebenarnya kamus itu nggak begitu penting kalo murid-muridnya pintar, tahu sekian ribu kata, minimal kata-kata sehari-hari dan kata-kata yang umum ditemukan dalam teks-teks bahasa Inggris. 

Tapi, aku ngajarnya anak SMP kelas 7 di sekolah negeri daerah, yang bahkan siswanya nggak tahu arti kata I (saya), you (kamu), love (cinta) walaupun mereka tahu I love you itu artinya aku cinta kamu. HAHAHA. 

Kalo disuruh nulis mungkin ada di antara mereka yang nulis ai lof yu.

Depresi banget rasanya, wkwkwkk.

Gimana siswa bisa memahami teks-teks sederhana kalo perbendaharaan katanya sangat sangat minim? Jangankan teks, satu kalimat aja perlu mereka artikan secara literal (kata per kata). Butuh waktu berapa jam untuk selesai mencari kata-kata tersebut di kamus? Belum lagi, mencatatnya, mengingatnya kemudian mencocokkan antara pertanyaan dan jawaban yang berserakan di teks? 

Saat itu juga aku tersadar bahwa memang tuntutan pendidikan khususnya bahasa Inggris yang diminta pemerintah nggak tepat sasaran. 

Saat aku masih galau-galaunya dengan permasalahan itu, Rosi, teman satu prodi denganku, ditempatkan di kelas 8 membuat terobosan yang belum kupikirkan. 

Dia ngajar pake pendekatan galak-galak seru gitu. Jadi, dari awal udah pake gaya tegas dan buat aturan siswa wajib bawa kamus. Kalo nggak bawa, bayar denda 500 rupiah untuk kas pelajaran bahasa Inggris yang bakal digunain untuk mendukung aktivitas belajar, misalnya fotokopi materi tambahan. 

Hal ini dipertegas dengan caranya yang casciscus berbahasa Inggris walaupun siswanya nggak ngerti. Tujuannya supaya si murid nggak sepele sama dia. Menit-menit pertama masuk kelas, dia langsung periksain meja murid satu-satu, ada kamus atau nggak. Karena siswa nggak mau kehilangan uang jajan, cara ini cukup ampuh. 

Sedangkan aku? 

Ntahlah. Hahahaha. 

Syukurnya, guru pamongku nyuruh siswa untuk beli kamus. Dan walaupun aku nggak setegas Rosi, tapi aku selalu minta siswa bawa kamus.

Murid-murid yang mau belajar, hampir semuanya bawa kamus yang udah mereka beli. Sedangkan sisanya, hanya Tuhan dan mereka yang tahu. 

Aku sebagai gurunya, melakukan pendekatan personal. Saat berkeliling dan mendapati siswa yang nggak bawa kamus, aku akan bertanya, eye to eye, kenapa dia nggak bawa kamus. Jika alasannya nggak punya, aku menyarankannya untuk membeli (karena faktor ekonomi keluarga dan pola pikir orang tua) dengan mengutarakan betapa pentingnya kamus tersebut untuk membantunya belajar. 

Biasanya, siswa yang ditegur secara pribadi, minggu-minggu selanjutnya bawa kamus. 

Masalah kamus nggak hanya sampai di situ saja. Selain nggak punya uang untuk beli kamus, masalah lain yang diam-diam mereka rasakan adalah banyaknya siswa yang masih belum tahu cara menggunakan kamus.

Awalnya aku heran, kenapa siswa lebih suka pake kamus bergambar. Kupikir karena teori tentang daya visual anak dan kecenderungan anak dalam belajar lebih menyukai warna dan gambar, tapi ternyata hal itu juga disebabkan oleh ketidakmengertian mereka dalam menggunakan kamus. 

Jadi, seandainya diminta cari bahasa Inggris “buku”. Mereka secara otomatis nyari bagian kamus bergambar, membuka halaman demi halaman mencari gambar buku di antara puluhan gambar lainnya ketimbang membuka kamus berdasarkan abjad. Kalo nggak ketemu gambarnya, mereka nggak bakal tahu apa bahasa Inggrisnya. 

Masalah dalam bentuk contoh kasus nyata dan solusi praktis permasalahan kamus ini udah pernah kutulis di posting-an Aku, Murid dan Kamus.

Karena pengalaman tersebut, aku sampe kepikiran pengen buat klub belajar menggunakan kamus bagi anak SD dan SMP awal, wkwkwkkwkwk. 

Kayaknya guru-guru perlu ngetes siswanya deh perihal kamus ini. Guru SD wajib mengajarkan, sedangkan guru SMP dan SMA perlu melakukan pre-test karena permasalahan kamus ini termasuk masalah dasar dalam belajar bahasa Inggris. Dengan catatan, jangan membuat siswa merasa terpojokkan dan paling bodoh jika nggak bisa menggunakannya. Guru bisa menggunakan metode dan strategi belajar yang menyenangkan, misalnya ada momen di mana guru minta siswa untuk bawa kamus dan berlomba untuk mencari pengertiannya. Pilih kata-kata yang sulit dan nggak familiar  sehingga mereka memang harus cari artinya di kamus. 

#

Momen di atas sudah menggambarkan urgensi penggunaan kamus kan?

Nah, sekarang aku akan masuk ke inti posting-an.

Omaigat, udah sepanjang ini dan baru masuk intinya? Wkwkwkwkk

Nah, dari pemaparan di atas, aku berharap kita sama-sama setuju bahwa penggunaan kamus itu memang penting khususnya dalam pembelajaran bahasa. 

Guru yang menyadari pentingnya keberadaan kamus, akan menyarankan, menganjurkan bahkan memaksa siswanya untuk (minimal) membawa kamus saat belajar. 

Itu hal yang wajar dan perlu dilakukan.

Namun, ada 3 poin penting yang perlu aku tekankan di sini. Hal itu kusadari tepat saat aku membaca bagian capture di atas. 

PERTAMA

Bahwa ada beberapa respon yang terjadi di benak para siswa terkait masalah ini khususnya “pemaksaan” membawa kamus.

Satu, siswa bisa saja ikhlas dan sadar untuk membawa dan menggunakannya dengan baik.

Dua, siswa bisa saja merasa takut sehingga membawa kamus.

Tiga, siswa sepele.

Dan berbagai respon lainnya.

KEDUA

Sebagai guru, kita tidak bisa mengendalikan pikiran mereka dalam merespon instruksi guru (poin pertama), namun kita bisa menunjukkan betapa pentingnya keberadaan kamus bagi siswa sepanjang pembelajaran. Jika mereka menyadari betapa pentingnya keberadaan kamus, mereka akan termotivasi untuk membacanya. 

Ironisnya, guru bahasa Inggris sering mengabaikan penggunaan kamus padahal ia juga yang menyuruh bahkan memaksa siswa untuk membawanya (kamus sebagai pelengkap saja). Untuk itu, guru perlu merancang kegiatan pembelajaran yang memang menekankan eksistensi kamus.

KETIGA

Persis seperti yang diutarakan dalam capture di atas, walaupun terkesan sepele, guru perlu membawa kamus ke dalam kelas dan sesekali menggunakannya. Hal ini bukan karena ia tidak tahu kosa kata, namun sebagai cara untuk mempengaruhi alam bawah sadar siswa, bahwa ia juga melakukan apa yang ia perintahkan. Menjadi contoh bagi siswanya. Guru juga bisa meminjamkan kamusnya pada siswa namun bukan untuk membuat mereka ketergantungan. 

Buat mereka berpikir, “Guru yang pintar saja membawa kamus ke kelas, masa aku yang seperti ini?”

#

Sekian celotehku di posting-an ini. 

Akhir kata, semoga banyak guru  yang baca (terutama guru bahasa Inggris).

Terima kasih sudah membaca.

Kamu punya momen tentang kamus? Menurutmu, apakah kamus itu penting untuk belajar bahasa Inggris? Kalau iya, kenapa?

Atau kamu ngerasa bahwa kamus itu nggak penting bagi pelajar? Kamu bisa share pengalamanmu di kolom komentar ๐Ÿ˜

Iklan