Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA beberapa tahun lalu, bisa dikatakan hasratku untuk menulis cerpen menurun drastis. 

Aku mulai suka menulis sejak SD. Menulis diari. Di masa SMP, aku suka menulis puisi alay dan cerita panjang yang berbau cinta-cintaan, keluarga dan persahabatan. Saat SMA, aku mulai lebih suka menulis cerpen, tetap dominasi cinta. Kalian bisa baca cerita selengkapnya di posting-an aku dan menulis

Awal kuliah aku membuat blog wawhacuza.blogspot.co.id dengan tujuan memublikasikan sekaligus mengarsipkan cerpenku

Kata orang, kita menulis berdasarkan apa yang kita baca. Aku membaca cukup banyak buku (novel) dari banyak penulis, namun saat menulis cerpen, aku nggak tahu tulisanku masuk jenis/aliran mana jika berbicara tentang “sastra”. 

Bagiku sastra itu indah, rumit, dan bermetafora. Sedangkan cerpenku nggak berbunga-bunga. Cerpenku juga nggak mengeksplor budaya daerah. Saat membaca cerpen di lakonhidup, aku ngerasa cerpenku nggak ada sedikitpun menyerempet gaya-gaya sastrawan di situ. 

Saat diskusi dengan teman-teman FLP, ada yang bilang gaya tulisanku mirip Tere Liye. Tapi, aku agak nggak percaya, soalnya menurutku tulisan Tere Liye itu keren. 

Ada juga yang bilang aku menulis ala teenlit. Kayaknya sih iya, wkwk.

Mungkin hal ini yang membuatku merasa tulisanku tidak termasuk kategori cerpen. Namun, kalo bukan cerpen, lantas apa? Toh, aku bercerita dan ceritaku pendek. Wkwkwk. 

Walaupun kukatakan bahwa hasratku untuk menulis cerpen itu berkurang drastis, aku masih menulis cerpen (ala aku). Memang sempat berhenti beberapa bulan karena aku muak menulis tentang cinta yang picisan, namun setelah aku menemukan target baru (menulis cerpen yang bisa mempersuasi orang untuk memikirkan apa yang kupikirkan), aku kembali menulis. 

Cerpen-cerpen karyaku dalam dua tahun ini benar-benar sederhana seperti cerpen Nana’s stories dan cerpen di blog ini. Sebenarnya, aku nyaman dengan cara menulis cerpen yang seperti itu, namun….

Beberapa hari yang lalu sahabatku, Dwita, bercerita bahwa dia punya proyek bersama temannya untuk menulis antologi cerpen. Mereka mengajak teman-teman yang lain, termasuk anak #Bloggers’Challenges untuk ikut. 

Aku tertarik, namun ragu. 

AmruArif dan Nadya setuju untuk ikut. Dwita memasukkan mereka ke grup whatsapp khusus untuk membahas antologi tersebut. Akunya kegatelan minta gabung, hahaha. Akhirnya, aku resmi ikutan proyek itu. 

Setelah berdiskusi dengan teman-teman lainnya untuk menentukan tema, aturan dan deadline, aku galau.

Seperti apa yang nantinya cerpen-cerpen mereka?

Aku nulis tentang apa ya?

Gimana kalo tulisanku kacang banget padahal aku banyak berkicau di grup itu?

Kekhawatiran seperti itu muncul karena cerpen yang kali ini mau kutulis tujuannya untuk dibukukan bersama tulisan orang lain sedangkan selama ini cerpenku…..

Apalagi ada penulis cerpen yang udah pro dalam proyek ini. 

What must I do? 

Adakah yang bersedia membaca cerpen-cerpenku dan berdiskusi memberi saran padaku?

Iklan