Di semester 5, ada mata kuliah TEFL (Teaching English as Foreign Language). Sesuai namanya, aku akan belajar tentang bagaimana mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah. 

Aku antusias sekali saat mengisi kartu rencana studi (KRS) setelah dosen pembimbing akademik (PA) memberi penjelasan secara singkat mengenai apa saja yang kira-kira akan aku pelajari dalam satu semester. Misalnya, apa perbedaan English as Foreign Language (EFL) dan English as Second Language (ESL), bagaimana tingkat motivasi siswa dalam belajar, tipe-tipe guru, peran-peran guru hingga masalah perangkat pembelajaran. 

#

Hari ini hari pertama masuk kelas TEFL tersebut. Aku memilih duduk di bangku depan. Guru SMA-ku pernah berkata, “kalau kita memang niat belajar, kita harus duduk di bangku paling depan, paling dekat dengan guru sehingga bisa mengamatinya dengan leluasa dan mendengarkan ucapannya dengan fokus.” 

Sebenarnya aku nggak begitu peduli dengan ucapan guruku itu, namun karena ini hari pertama, aku memang lebih suka duduk di bangku depan karena hari pertama selalu penting untuk menilai sang dosen. 

Bagiku, kesan pertama dari seorang guru/dosen sangat penting. Biasanya, penilaian di hari pertama lah yang paling mempengaruhi tingkat konsentrasi dan hormatku pada mereka. Bukan hanya dari penampilan fisiknya, tapi aku mengamati caranya berbicara. Fasih atau tidak? Kata-katanya terstruktur atau tidak? Penjelasannya masuk akal atau tidak? Aturan-aturan apa saja yang dia berlakukan dan kenapa ia memberlakukannya? Pokoknya banyak sekali yang harus diamati dan dianalisis di hari pertama belajar (apapun pelajarannya).

Selain itu, aku juga percaya bahwa tak hanya guru yang harus meninggalkan kesan pada siswanya, namun siswa juga harus melakukan hal yang sama. 

Banyak guru yang secara sadar atau tidak, sudah melakukan penilaian sejak awal pertemuan. 

Karena itu, tadi malam aku sengaja mencari artikel-artikel di Google mengenai EFL. Aku harus punya gambaran sedikit mengenai mata kuliah ini. Dan karena hal itu juga aku duduk di bangku paling depan. 

Seandainya beliau memberikan pertanyaan basa-basi, aku bisa langsung memberikan respon. Hal ini aku lakukan agar beliau mengingat namaku sejak pertama bertemu. Setidaknya, aku harus berusaha untuk membentuk pandangannya terhadapku, bahwa aku salah satu mahasiswa yang tertarik dengan mata kuliahnya. 

#

Pukul 08.55 WIB, ruang kelas yang akan kami pakai sudah kosong sehingga kami bisa masuk dan duduk cantik sebelum sang dosen masuk. Pukul 09.05 WIB, beliau masuk. Artinya, beliau mungkin orang yang suka konsep tepat waktu. 

Beliau menyapa dan memperkenalkan diri. Setelah itu mengabsen kami satu per satu. 

Seperti biasa, beliau menjelaskan kontrak kuliah. Apa hak dan kewajiban beliau sebagai dosen serta hak dan kewajiban kami sebagai mahasiswa. Selain itu, beliau juga menjelaskan konsep penilaian. 

Kampus kami memang menerapkan sistem penilaian formatif (penilaian berkelanjutan/ongoing assessment). Artinya, akan ada 4 ujian per 4 minggu pembelajaran, kemudian nilai akan diakumulasikan menjadi nilai akhir. 

Ujiannya tidak selalu berbentuk tes, bisa makalah atau presentasi.

Aku mendengarkan dengan tekun dan mencatat hal-hal penting karena sejak bangun pagi tadi aku berniat untuk menuliskan kejadian hari ini di blog sebagai dokumentasi.  

Setelah itu, beliau pun mulai bertanya.

“Apa itu English as Foreign Language?”

“Bahasa Inggris sebagai bahasa asing.” Jawab kami serentak.

Beliau sedikit tersenyum. Ekspresinya geli.

“Ya, EFL itu bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Selain itu, ada juga ESL, bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Yang saya tanyakan, apa maksudnya? Kenapa ada EFL dan ESL, apa bedanya?”

Kelas mendadak hening. 

Aku tersenyum sambil mengamati teman-teman yang lain. Menunggu kira-kira satu menit, lalu aku mengangkat tangan. 

“Ya, silakan.”

“Perbedaan keduanya bisa dilihat dari penggunaan kata ‘foreign’ dan ‘second’. Di Indonesia, bahasa Inggris masih dianggap bahasa asing. Artinya, bahasa yang tidak familiar. Bahasa yang hanya digunakan dalam kondisi tertentu misalnya saat belajar di sekolah pada jam pelajaran bahasa Inggris saja. Jarang sekali orang Indonesia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, artinya penggunaan bahasa Inggris terbilang penting. Bahasa Inggris digunakan dalam kehidupan sehari-hari berdampingan dengan bahasa pertama. Contohnya bahasa Inggris di Malaysia. Mereka menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat berbelanja di pasar.  Mereka bahkan mencampur antara bahasa Melayu dengan bahasa Inggris dalam berkomunikasi sehari-hari.”

“Ya, bagus. Penjelasan yang menarik. Siapa nama kamu?” 

“Nana.”

Beliau mengamati kertas absensi, mencari namaku dan memberi sebuah tanda. 

“Siapa yang ingin memberikan pendapat lainnya?”

Beberapa teman yang lain mulai angkat suara. 

Oke, misi pertama selesai. Syukurlah aku duluan yang mengangkat tangan dan menjelaskan. Betapa parahpun penjelasanku, akan dimaklumi, karena aku orang pertama yang memberi pendapat, haha. 

“Jadi.. Dari diskusi tadi, kita bisa melihat perbedaan yang signifikan antara EFL dan ESL. Posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing akan mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar, juga mempengaruhi cara guru dalam mengajar. Tentu berbeda cara mengajar bahasa Inggris di Malaysia dengan di Indonesia. Bahkan, antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa asing bahasa tersebut bagi sang pembelajar.”

“Waktu yang tersisa tinggal 15 menit lagi. Saya akan menjelaskan tugas untuk minggu depan.”

“Tugas untuk minggu depan ada dua. Pertama, buat tulisan mengenai perbedaan ESL dan EFL serta hubungannya dengan pengajaran bahasa Inggris di kelas berdasarkan diskusi tadi dan jurnal terkait hal tersebut. Minimal satu halaman A4. Kedua, silakan baca materi mengenai motivasi belajar, minggu depan akan kita diskusikan bersama.”

“Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Selamat pagi.”

#

Well, ini cerpen. Tulisan ini berdasarkan fakta dicampur imajinasiku. 

Iklan