Ada beberapa hal yang dapat memicu rasa kesal. Hal yang menyebalkan/menjengkelkan ini sifatnya personal. Artinya, belum tentu orang lain juga merasakan kejengkelan yang sama terhadap hal tersebut. Istilahnya pet peeves. 

Pertama kali, aku mengetahui terma ini, saat aku mengikuti 30 days of writing challenge di bulan November 2016. Topik hari ketiga berbunyi, “what are your top three pet peeves?”

Dengan bodohnya aku justru membuat tulisan berjudul 3 hewan yang tidak disukai. 

Aku menerjemahkannya secara literal (pet: hewan peliharaan, peeve: menjengkelkan) dan terjemahan tersebutpun salah total secara struktur, wkwkwk. 

Nggak usah ditanya malunya gimana saat seorang teman yang juga ikut tantangan itu menjelaskan maksud idiom tersebut. 

Memang sih, isi posting-annya nggak salah. Toh, hewan-hewan (bukan hewan peliharaan, wkwkwk) yang kutulis di situ emang nyebelin. Tapi ada satu paragraf yang rasanya sangat memalukan jika dibaca ulang. 😭

Itulah salah satu contoh kebodohan (tidak riset terlebih dahulu) masa lalu yang tetap dipertahankan (supaya jadi pembelajaran di masa kini), wkwkk. 

Padahal, jika mengetikkan di Google keyword semisal: apa itu pet peeves? Maka hasilnya langsung keluar dengan gamblang.

#

Nah.. Beberapa hari ini aku sering tiba-tiba kesal. 

Kesalnya itu sebentar, namun berulang. Puncaknya malam ini.

Aku baru pulang ke kos. Aku sedang bersantai saat aku mendengar suara air melimpah-limpah dari kamar mandi dekat lorong kamarku.

Keran airnya tidak ditutup padahal penampungnya bukan bak, melainkan ember kecil. 

Dengan tergesa-gesa aku berlari ke kamar mandi tersebut, menutup keran. 

Akupun buru-buru mengecek bak air di kamar mandi utama. Syukurlah, air di bak itu belum melimpah. Fyi, ada dua kamar mandi di kosku, satu di lorong kamarku, satu lagi kamar mandi utama di dekat dapur. 

Sesaat, saat mendengar suara air melimpah dari keran yang dibuka lebar, ada emosi yang menggelegak di kepala.

Aku benci sekali jika air dibiarkan melimpah seperti itu. 

Kenapa kerannya harus dibuka jika memang tidak mau menungguinya hingga penuh? 

Sering sekali aku mendapati hal ini terjadi.

Rasa-rasanya, saat hal itu terjadi, aku sanggup memaki-maki.

Emosi seperti ini juga muncul saat aku sedang di tempat wudu. Jika kebetulan orang di dekatku membuka keran air secara full, namun bukannya langsung mengambil wudu (membuka jilbab terlebih dahulu, menggulung lengan baju dan lengan celana panjang, atau masih bercerita dengan kawannya), rasanyaaa.. Waaahh.. Luar biasa kesal!

Aku pengen teriak, “Heh.. Itu air lhoooo. Betapa banyak orang yang kesulitan mendapat air bersih.”

Aku masih ingat betul, ada seorang mahasiswi yang berkelakuan seperti itu. 

Dia buka keran air. Air dibiarkan mengalir begitu saja sedangkan dia sibuk bercerita dengan kawannya. Aku menatapnya terang-terangan, lalu kawannya merasakan tatapanku. Dia berkata pada si mahasiswi tadi.

“Cepatlah ambil wudunya, atau tutup dulu kerannya.”

“Ahh, biarlah. Kan aku bayar uang kuliah. Bukan gratis aku kuliah di sini. Kampus yang bayar ini.”

Blaaaaaarrr.. Aku memejamkan mata sejenak, menarik nafas, menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa lalu tanpa babibu kututup keran air si mahasiswi tadi. Lantas, pergi dari tempat wudu itu tanpa menoleh. 

Biarlah mereka berpikir seperti apa.

Pernah juga, beberapa hari yang lalu di tempat kos teman. Keran dibiarkan hidup oleh temanku A karena B juga mau ambil wudu. Nah, karena masih capek, dia masih berat mau gerak.

“Matikan dulu air itu.”

“Nggak apa-apa. Kan bayar air bapak kos.”

Waahh.. Jawaban seperti ini lagi.

Aku terdiam. Ada banyak sekali yang mau terucapkan tapi takutnya jadi berantem kami.

“Matikan dulu lah. Sayang airnya. Salat dulu. Inipun udah telat kali kita salat.”

Syukurnya di nggak menjawab dan langsung bergegas ke kamar mandi. Kalo nggak, mungkin aku bakal bangkit dan mematikan keran tersebut lalu ngomel-ngomel lebih panjang sama dia. 😬

Hmm.. Bukan masalah siapa yang bayar. Bukan masalah sedikit/banyak yang tumpah. Bukan itu. Ini tentang dunia yang sedang mengalami krisis (air salah satunya).  

Penjelasan (data dan fakta) mengenai krisis air ini bisa dibaca (di aplikasi iPusnas) dalam Selidik National Geographic berjudul Air, Memberi Minum Dunia yang Dahaga yang ditulis oleh Michael Burgan. 

Dr. Peter H. Gleick memberi sedikit gambaran mengenai krisis air tersebut dalam kata pengantarnya.

#

Sejak mengenal kata mubazir saat masih kecil, aku punya ketakutan sendiri jika aku membuang/menyia-nyiakan sesuatu. 

Mubazir itu kawan setan.  

Ngeri jika memikirkannya. Untuk itu, aku berusaha sekali untuk menahan diri agar nggak mubazir dimulai dari hal sederhana seperti makanan, air, listrik. 

Aku berusaha keras untuk nggak membuang makanan yang ada di piringku. Lebih baik ambil sedikit, baru tambah jika ingin lagi. 

Aku berusaha untuk nggak membiarkan air bak melimpah-limpah dengan menunggui hingga penuh.

Aku merasa marah pada diriku sendiri jika lupa mencabut charger hp dari stop kontak atau lupa mematikan lampu kamar saat bepergian lama.

Baru-baru ini, aku menangis karena melihat iklan salah satu merek pasta gigi yang menggambarkan bahwa satu liter air yang disia-siakan saat hendak menggosok gigi di depan wastafel bisa menjadi bahan untuk membuat bubur yang mampu menyenangkan dan mengenyangkan orang-orang jompo. 

Aku bukannya sok benar.

Ahh.. Ntahlah. Tak bisa kujelaskan perasaan ini. 

#

Hal lain yang menjengkelkan bagiku adalah orang yang sedang merokok di tempat umum dan orang yang membuang sampah sembarangan. 

Kayaknya nggak perlu kujelaskan alasannya, ya kan?

Baiklah. Sekian luapan kekesalanku malam ini. 

Inti posting-an ini:

Aku mau share pengertian pet peeves dan pentingnya mencari tahu tentang kata-kata yang ingin digunakan dalam tulisan.

Aku sedang jengkel hingga membuat posting-an ini.

Tidak mematikan keran dan membiarkan air melimpah itu ternyata bisa sangat mengganggu orang lain.

Kita perlu hemat air dan listrik. 

Jangan buang sampah sembarangan.

Jangan menyia-nyiakan air.

Bagi perokok, kurangi kebiasaan merokok di tempat umum terutama jika ada orang yang tidak merokok. Kalo sama-sama perokok, ya silakan saling membunuh. πŸ˜†

Terimakasih sudah membaca. Maaf jika ada yang tersinggung, itu antara sengaja dan tidak sengaja. πŸ˜‚

Kamu punya pet peeves juga? Kamu bisa cerita di kolom komentar. 

Iklan