Hai guys!

Yuk.. Yuk.. Yang berencana punya anak silakan mampir, hihihi.

Sebenarnya aku mau tidur tapi tiba-tiba aku terpikir tentang bagaimana supaya anak suka membaca dan menulis. Pertanyaan ini sering muncul di pikiranku terutama saat aku sedang bersama teman-teman. Menurut teman-temanku, aku termasuk salah satu orang yang suka baca dan terlalu antusias jika berhubungan dengan membaca (buku) atau menulis (cerita di blog). Sedangkan menurutku sendiri, aku ini nggak ada apa-apanya dibanding para pecinta dan penikmat buku lainnya. 

Nah, tadi siang aku ketemu teman di kampus dan ntah kenapa momen itu semacam trigger (pemicu) bagiku untuk memikirkan lagi pertanyaan tersebut.

Gimana sih supaya anak suka baca dan menulis? 

Dalam posting-an kali ini aku nggak bakal beberin teori membaca (reading) ataupun menulis (writing) dari para ahli. Aku hanya akan bercerita sesuai dengan pengalaman yang aku dan teman-teman alami.

Penasaran? 

Please, jawab yaaa.. 😁

Yuk, disimak!

#

Saat otakku bertanya pertanyaan semisal, “Bagaimana merangsang anak supaya suka membaca dan menulis?” 

Aku biasanya mengabaikan hal itu.

Kayak udah punya anak aja, huuhu.

 Tapi, lucunya pertanyaan ini muncul terus menerus sampe bikin gregetan sendiri.

Lucunya lagi, aku berusaha untuk baca teori tentang itu tapi yaaa.. belum dapet aja yang klik di hati. 

Hingga suatu hari aku mendengar ucapan teman-temanku.

“Aku kalo udah baca dikit aja ngantuk. Capek. Langsung tertidur.”

“Iya, mual kalo disuruh baca. Kalo nggak karena tugas, males kali.”

“Aku baca kalo banyak gambarnya. Kalo nggak bergambar, aku enek.”

Kuakui kalo baca diktat atau buku-buku non-fiksi butuh konsentrasi dan motivasi yang lebih tinggi apalagi kalo paragrafnya panjang-panjang. Tapi, banyak juga temanku yang baca tulisan pendek aja tetap males. 

Hmmm…

Banyak emang alasannya dan aku nggak mau menjabarkannya di posting-an ini. 

Pernyataan-pernyataan di atas membuat aku tiba-tiba tersentak. Ada sebuah kesadaran yang menyeruak ke pikiranku. 

Eh, jangan..jangan…

Akupun mencoba memastikan dugaanku…

Kawan A: Anak ini suka kali baca sama nulis lah. Heran aku nengoknya. Kita kalo baca dikit aja capek, ya kan?

Kawan B: Iyaa. Baca itu siksaan kali. Nulis apalagi. Ntah apa yang mau dituliskan.

Aku: Oh ya we, di rumah kalian ada yang suka baca atau nulis nggak? 

Kawan A: Nggak.

Kawan B: Nggak juga.

Aku: Orang tua gitu? Kalo ayah sama mamakku suka ngoleksi buku gitu. Ada rak buku khusus di rumah. Jadi, kalo senggang, biasanya keluarga kalian sukanya ngapain?

Kawan A: Nggak ada sih. Paling nonton tv lah.

Kawan B: Iya, ngobrol, bergosip, atau nonton tv kalo nggak ada yang perlu dikerjain lagi. Biasanya sih sibuk sama urusan masing-masing. 

Kawan A: Iyaa, aku sih lebih sering mainin hp kalo sekarang.

Beberapa kali ketemu sama orang yang “ngakunya nggak suka baca”, jawaban mereka mirip-mirip. 

Intinya, kegiatan baca dan nulis itu hampir nggak pernah dilakukan di rumah. 

Kemudian, aku nanya sama temen-temen yang hobi baca dan nulis. Sampel jelasnya sih anak #Bloggers’Challenges, wkwkwk.

Dan yaaa.. Rata-rata jawabannya juga mirip.

Di rumahku ada rak-rak berisi buku.

Orang tuaku sering beliin majalah bobo dari aku kecil.

Mamak dan ayahku suka baca.

Orang tuaku kebetulan juga penulis jadi kami sering baca-baca dan diskusi gitu.

Karena aku baca, jadi aku kepengen nulis.

Aku sendiri juga gitu. Pas kecil, saat di angkutan umum mamak sering buka buku dan membacanya dalam diam. Aku merasa kepo, lirik-lirik, ganggu-ganggu sampe terakhirnya mamakku bacain apa yang beliau baca. Walaupun nggak ngerti, aku tetap suka. 

Lama-lama, aku ngerasa membaca itu adalah hal yang wajar dan mengasyikkan untuk dilakukan saat waktu senggang. Begitu juga dengan nulis. Setelah baca buku, mamak biasa mencatat poin-poin penting bacaannya dan aku sering duduk memandangi mamak yang sedang nulis. 

Saat aku udah  bisa baca sendiri dan lumayan banyak baca, aku jadi terpikir untuk nuliskan hal yang sama namun berdasarkan pengalamanku sendiri dan mamak membelikanku buku diari sendiri untuk menyalurkan pikiranku tadi. Cerita lengkapnya udah pernah kutulis di posting-an Aku dan Menulis.

Intinya, menurutku, cara paling sederhana supaya anak suka menulis dan membaca itu yaaaaaa.. harus dirangsang oleh orang tua dan keluarga. 

Jadi, seandainya ada orang tua yang bertanya, “Kenapa anakku susah kali untuk membaca dan menulis? Gimana sih solusinya?”

Nggak perlu konsultasi ke Psikolog sih untuk tahu alasan utamanya. 

Coba aja tanya, “Ibu, bapak, suka baca nggak di depan anaknya? Ibu, bapak suka nulis nggak dan tulisan itu dibaca anak anda nggak?”

Kalo jawabannya, “Hehe, nggak sih.”

Lha? Terus, gimana anaknya mau suka baca dan nulis?

Memang ada juga kasus spesial seperti disleksia (kesulitan membaca) dan disgrafia (kesulitan menulis). Tapi, bukan kasus seperti itu yang kumaksudkan ya.
Gimanapun ceritanya, sekuat apapun motivasi si anak, tetap aja butuh dukungan dan rangsangan awal dari orang tuanya. Itu minimalnya. Kalo mau maksimal, yaa adakan baca bareng (bisa dibuat deadline agar disiplin) dan diskusi setelah baca buku yang sama sebagai cara mengevaluasi. 

Gini nih saranku:

1. Kalo anak masih dalam usia yang belum bisa membaca dan menulis. Minimal rangsang dia dengan mendemonstrasikan kegiatan membaca dan menulis di depan si anak. Bisa juga lewat kegiatan mendongeng.

2. Kalo anak sudah bisa membaca, sediakan buku-buku yang menarik (umumnya yang bergambar namun memiliki penjelasan yang cukup banyak, bukan hanya komik) serta temani ia dalam membaca. 

3. Kalo anak sudah lebih dewasa, bisa ajak anak membaca buku bareng dan mendiskusikannya. 

4. Setelah membaca, coba rangsang anak agar berpikir untuk menuliskan hal yang sama atau pengalaman-pengalamannya sendiri serta beri masukan. Tulisannya bisa ditulis di diari atau blog. 

Aku pernah baca sekilas cerita tentang Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah review buku. Diceritakan bahwa Pram itu sudah nyuruh anaknya untuk baca buku sejak kecil. Anaknya dikasih buku tebal dan diberi deadline. Pram bilang, “Nanti saya tanya ya isinya tentang apa!”

Sang anakpun ketakutan dan berusaha mati-matian membaca. Saat sudah selesai membaca, anaknya deg-degan untuk diuji. 

Tahu apa pertanyaan Pram? 

Siapa editor buku tersebut?

Gubraaaak.

Anaknya terkejut. Nggak tahu jawabannya. Karena terfokus pada isinya.

Lalu, Pram berkata yang intinya seperti ini, “Yaa kalo baca buku itu harus menyeluruh. Dari halaman paling awal dipahami, diresapi.”

Aku sendiri tertawa namun merasa malu membaca cuplikan tersebut. Sejak itu, aku mulai lebih memperhatikan penulis, tahun terbit, editor dsb sebuah buku (walau masih sulit diingat, wkwkkw). 

Artinyaaaa.. Sebagai orang tua, janganlah hanya memfasilitasi anak dengan buku bacaan saja, namun ikut serta kegiatan anak dalam membaca dan menulis. Selain memberikan pengaruh dan sugesti yang baik, kedekatan dengan anak bisa terjalin dengan obrolan seputar bacaan tersebut. 

Karenaaa.. sebagai pembaca sebuah buku, terkadang kita merasa kesepian saat menyadari bahwa tidak ada teman terdekat yang juga membaca buku tersebut sehingga ada rasa malas yang tumbuh perlahan, jika dibiarkan, ia akan menjamur. 

-Wawa 

#

Yak, cara paling sederhana dalam merangsang minat anak untuk membaca dan menulis yaitu budayakan kegiatan membaca dan menulis di rumah. 

Aku menuliskannya sebagai catatan pribadi untuk nantinya (semoga) aku terapkan ketika sudah punya anak. Selain itu, aku juga pengen share ke teman-teman, mana tahu kalian belum menyadarinya seperti aku yang dulu. Wkwkkwk.

Terimakasih sudah membaca. 😊 

Kamu pernah bertanya hal yang sama atau mengalami hal yang sama denganku? 

Kamu punya tip supaya anak suka membaca dan menulis? Yuk, share di kolom komentar. 

Oh ya, ini ada satu quote terakhir…

Bagiku, ada hal yang lebih menyenangkan ketimbang diberi buku secara gratis, yaitu mempunyai teman baca dan diskusi. Tapi, kalo nggak bisa menemaniku membaca, minimal berikan aku buku gratis, wkwkwkk. 

-Wawa

Iklan