Hai guys!

Lagi, lagi, aku nulis untuk rubrik Obrolin. Yang artinya ini berkaitan dengan apa yang kurasakan dari aktivitas bersama teman-teman Obrolin.

Aku bertegur sapa dengan teman-teman Obrolin melalui tiga cara: chat grup, chat personal dan komen-komenan di blog.

Aku baru sebulan gabung ke komunitas ini. Walaupun ada hal yang tidak cocok di hati (namanya juga berhubungan sama manusia), namun banyak hal yang bermanfaat yang kudapat dari grup chat ini.

Sejak awal gabung, aku sudah niat mau membuka diri dan berteman dengan banyak orang (fyi, anggota Obrolin sekarang lebih dari 100 orang).

Sebenarnya, aku ini termasuk orang yang lebih dominan introvert daripada ekstrovert. Menyukai dan menikmati kesendirian. Tidak mau banyak bicara dan tampak terlalu antusias (tapi itu setengah benar, hahaha, karena sejak SMA aku berusaha untuk lebih ceria).

Namun, untuk apa aku gabung ke suatu komunitas jika tidak mau membuka diri?

Pikiran seperti itu yang perlu dikaji dan direnungkan oleh orang-orang yang berniat gabung pada suatu komunitas atau organisasi.

Untuk apa?

Untuk apa aku gabung ke suatu komunitas jika tidak mau membuka diri dan masih membatasi diri?

Untuk apa aku gabung jika aku nggak bisa menerima atau menghargai pendapat orang lain? Kalaupun memang tidak bisa menerima, minimal dengarkan saja. Bisa jadi hari ini aku nggak setuju, tapi besok-besok iya.

Kesadaran ini muncul setelah aku terjun ke beberapa organisasi (baik saat SMA dan kuliah). Sehebat apapun organisasi/komunitas kita, tidak akan mengubah kita jika kita menolak perubahan itu.

Nah, balik lagi ke topik utama.

Grup chat Obrolin terbagi dua: serius dan santai.

Kelas dan Diskusi itu dilakukan di grup Serius. Kelas pada Minggu malam. Diskusi pada Senin malam.

Perbedaan paling jelas tampak pada teknis kegiatan. Ini dia gambaran mengenai keduanya:

Kelas…

Kelas itu lebih serius. Ada moderator dan pemateri. Moderator bertugas membuka, memandu pembicara dan mempersilakan peserta kelas untuk bertanya lalu pemateri menjawab dan teman-teman lain bisa menanggapi, kemudian moderator menyimpulkan dan menutup kegiatan.

Kenapa diberi materi?

Pemberian materi oleh pemateri umumnya untuk memberi argumen terhadap apa yang pemateri yakini (setelah melakukan riset tentunya).

Materi biasanya disampaikan dengan jelas dan sederhana (mengungkap Apa, Kenapa, Kapan, Bagaimana, dsb) dengan poin-poin yang disarikan dari aktivitas berpikir dan berbagai penelusuran (membaca artikel-artikel di Google, mengamati keadaan terkait, membaca buku, bertanya sana-sini).

Selain itu, dengan adanya pemberian materi, diharapkan bisa membuka wacana berpikir peserta kelas mengenai topik terkait.

Misalnya saat topik bagaimana me-review sebuah novel.

Secara tidak disadari, pemateri memberi argumen, penting lho untuk nulis review novel jika kamu sudah membacanya, ini lho manfaatnya, ternyata nulis review itu nggak sulit asalkan ada kemauan, ini lho kiat-kiatnya, dsb.

Saat membahas tentang daya serap membaca, peserta diajak berpikir, ohh, ternyata daya serap bisa ditingkatkan dengan membuat kebiasaan-kebiasaan tertentu. Oh, membaca itu ada tekniknya. Oh, ternyata aku juga melakukan hal seperti ini saat membaca, dsb.

Yang paling minimal, peserta jadi tahu tentang materi tersebut.

Diskusi…

Kalo diskusi ini lebih santai. Hanya ada moderator yang membawakan satu topik dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Moderator membuka, memandu, menyampaikan isu, meminta respon dari peserta, mencatat poin-poin penting yang ditangkap dari para peserta, merespon ide-ide baru, menyimpulkan dan menutup kegiatan.

Walaupun formatnya diskusi, sebenarnya ada tujuan besar yang ingin dicapai. Mengkampanyekan sesuatu. Mempersuasi teman-teman di grup untuk mulai berpikir di luar kotak dan menuju arah positif.

Kenapa harus diskusi?

Karena di kepala masing-masing orang bisa saja ada ide yang berbeda.

Lewat diskusi kita membuka pikiran, membuat definisi, memberitahu nilai dan keyakinan (value and belief) kita pada orang lain. Lewat diskusi juga kita jadi tahu apa yang orang pikirkan.

Diskusi itu bertujuan menangkap puluhan ide segar dan baru yang mungkin belum kita pikirkan sehingga nantinya kita bisa memikirkan dan menata ulang nilai dan keyakinan kita.

Lewat diskusi, kita belajar bahwa kebenaran di dalam pikiran bisa benar juga bagi orang lain, namun bisa juga ada kebenaran lain.

Diskusi dibuat agar kita nggak merasa benar sendiri. Nggak hanya bermonolog (atau berdialog? wkwkwkk) pada diri sendiri.

Uniknya, walaupun sebagai wadah menampung segala pendapat, namun balik lagi ke tujuan awal diskusi, ada yang sesuatu yang ingin dipertegas.

Contohnya dalam diskusi mengatur dan menghias kamar tidur. Peserta mendapat banyak ide baru tentang hal tersebut. Ada yang rajin, ada yang malas. Ada yang punya alasan masing-masing untuk tidak atau melakukan sesuatu pada kamarnya. Ada tips baru. Ada pengetahuan baru. Namun secara tidak sadar, diskusi itu sebenarnya bertujuan untuk membuat peserta berpikir, ohh, ternyata kamar itu penting ya untuk diatur dan bisa juga dihias. Mungkin nanti bisa dipraktekkan.

Oh ya, satu lagi tujuan besar dari sebuah diskusi.

Agar orang-orang yang sudah diskusi dan mendapat kesimpulan tadi, terbuka pikirannya untuk mendiskusikan hal serupa dengan orang-orang di sekitarnya. Jadi, seandainya peserta diskusi ada 100 orang. Masing-masing bicara pada 1 teman saja, maka orang-orang yang melakukan kebaikan akan semakin banyak. Seperti sistem MLM gitu. 😁

Jadi, jika ditanya, kenapa sih, Wa, kau menuliskan lagi apa yang disampaikan di kelas dan diskusi sedetail itu?

Aku cuma ingin berbagi manfaat yang kudapat pada pembaca blogku. Kalau bisa mempersuasi orang untuk menuliskan hal-hal yang mirip atau hal seru lainnya yang mereka miliki.

That’s it.

#

Terimakasih sudah membaca. 😊😊😊

Menulis untuk berbagi, menyimpan kenangan, pengalaman, dan kebaikan selama mungkin.

-Wawa

P.s: Yuk baca tulisanku yang lain 😁

1. Kamu blogger? Yuk, gabung ke Obrolin.

2. Kelas me-review novel.

3. Diskusi mengatur dan menghias kamar tidur.

4. Kelas sekelumit tips dalam membuat opening tulisan.

5. Diskusi apakah interaksi para bloger mempengaruhi semangat menulis?

6. Curhat belajar editing di Obrolin.

Iklan