Hai guys!

Aku mau curhat. Jangan dibaca karena isinya agak-agak gimana gitu. 

Hahahhaha.

Oke, aku mulai ya curhatnya. 

#

Hari ini adalah hari Minggu, yang artinya akhir pekan (weekend). Seharusnya hari ini ada kopdar ke-9 #Bloggers’Challenges (BC). Tapi, semalam aku dikabari oleh anak BC, banyak yang nggak bisa. Yaudah, ditunda aja acaranya jadi bulan depan. Huft.

Namun, aku kangen sama Hera. Sahabatku sejak awal masuk kuliah. Udah lama nggak jumpa dia. Dia sekarang udah kerja, pergi pagi pulang petang. Pulang dari ngajar, nyiapin bahan ajar untuk besoknya, gitu terus setiap hari, jadi dia cuma punya waktu luang di akhir pekan. 

Ngobrol lewat telepon atau chatting-an itu kurang pas. Enaknya jumpa langsung, tatap-tatapan, peluk-peluk kangen, hahahha. Jadilah kami janji ketemuan, cari tempat nongki untuk curhat-curhatan.

Bagiku, Hera ini salah satu orang yang paling cocok samaku. Selama aku hidup di dunia ini. Kami saling mengerti, saling percaya dan pastinya saling menyayangi. 

Saat lagi asyik-asyiknya minum bubble, tiba-tiba Hera nanya, “Wak, kau mau mahar berapa?”

Yaa Allah. Mau loncat bubble itu dari mulutku. 

Mahar?

Hera: Wak, kau mau mahar berapa?

Aku: Ha? Mahar itu yang gimana? Yang untuk aku aja kan? Bukan biaya pesta?

Hera: Iya. Yang untuk diucapin pas ijab kabul, kayak seperangkat alat salat gitu dan hantaran mungkin juga ya?

Aku: Apa ya? Kalo aku sih belum ada mikirin itu.

Hera: Iya ya. Itupun harus dibahas sama keluarga. 

Aku belum pernah mikirin mahar nikah. Calonnya siapa? Wisuda juga belom, hehe.

Percakapan kami berlanjut, kira-kira seperti ini:

Aku: Aku nggak tahu lah ya kayak mana. Kalo nikah, sebenarnya aku nggak mau yang gimana-gimana kali. Aku lebih mentingin rumah untuk tinggal sama suami sih. Aku pengennya pas udah sah nikah, ya udah punya rumah sendiri kalo bisa.

Hera: Kayaknya sulitlah, Wak. Ngontrak dulu biasanya.

Aku: Nah, itu. Nggak apa-apa sih ngontrak. Tapi kalo ngontrak yang nggak usah banyak-banyak barang dulu. Kalo udah punya anak maunya udah rumah sendiri. Gimana ya, Wak, aku nggak mau rumah besar-besar, tapi isinya maunya udah lengkap gitu pas nikah. Makanya aku lebih pilih acara nikahnya sederhana aja. Kalo bisa nggak pake kibot-kibotan gitu. Ntahlah ya, kalo emakku atau keluarga si dia. Tergantung siapa calon suaminya sih, Wak. Ini kan perlu didiskusikan.

Hera: Iya, ini perlu didiskusikan. 

Udah jadi rahasia umumkan kalo nikah itu banyak biaya? Resepsi maksudnya. Ntah mungkin karena pikiranku masih cetek atau gimana, tapi rasaku sayang aja menghabiskan uang sekian puluh juta cuma untuk satu atau dua hari. Aku lebih mikirin hidupku dan suami ke depannya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kalo ditanya aku pribadi yaaaa.

Terlepas dari aku punya keluarga besar. Atau aku yang (masih) anak tunggal.

Pernikahan adat juga aku nggak tahu, haha. Yang aku tahu nikah itu ya ijab kabul ala Islam, ngasi tahu sodara dan ada acara syukuran. 

Ntahlah. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Lalu, Hera ke kamar mandi. Aku pun menatap minumanku sambil berpikir. Mahar? Cincin nikah lah berarti ya? 

Aku sih pengennya kalo emang bisa, cincin emas putih. Aku nggak mau cincin emas kuning. 

Sampe sekarang aku nggak suka dan nggak nyaman pake cincin emas yang warna kuning atau aksesoris berwarna keemasan. Kayak was-was gitu. Mencolok kali. Rawan. 

Sambil menunggu, aku menatap cincin yang tersemat di jari manis tangan kiriku. Cincin yang kupake sejak awal kuliah. Hera juga pake cincin yang sama. Melihat cincin itu, aku merasa lucu. 

Aku nggak betah pake aksesoris, haha. Tapi, dari zaman dahulu kala, aku pengen punya satu cincin kokoh yang kupake di jari manis tangan kiri. Aku pengen cincin polos yang bukan berwarna kuning emas. Tapi, nggak ada yang belikan, hiks. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Suatu hari, sepulang dari kampus, aku melewati SD dekat kos. Di situ, jual pernak-pernik untuk anak SD. Aku mencari ikat rambut. Beli di dekat SD itu murah, karena harganya disesuaikan dengan kantong anak SD. Setelah membeli ikat rambut, aku melihat cincin terbuat dari ummm, apa ya namanya?

Aku coba pake di jari manis, pas banget. 😁

Aku tanya sama ibu yang jualan. Eh, harganya seribu. Hahaha. Kutanya, itu bisa luntur atau nggak? Beliau nggak tahu.

Yaudah, karena harganya seribu, aku beli aja. πŸ˜€

Besoknya, di kampus, Hera lihat, nampaknya suka. Trus, dicobanya dan ukuran jari kami cocok. Kukasi aja sama dia, aku biar beli baru. Alhasil, cincin kami couple. πŸ™ˆ

Cincin seribu. Couple. πŸ˜‚πŸ˜πŸ˜

Hahhaha.

Kebetulan nemu foto yang mengekspos cincin tersebut

Sekembalinya Hera dari kamar mandi, kami membahas tentang pengalamannya dalam mengajar. Gimana sekolahnya, atmosfer belajarnya, rekan kerjanya, dan sebagainya. Aku selalu senang dengerin pengalaman-pengalaman orang lain. 

Dari Hera, aku dapat gambaran sekolah Islam Terpadu (IT) itu gimana. 

Aku juga belajar gimana caranya ngajar di kelas. Permasalahan yang dihadapi di kelas. Banyak bangetlah. Niatnya mau aku buat posting-an terpisah. Nanti yaa. 😊

Kemudian kami jalan ke toko buku. Saat mau naik lift, tiba-tiba Hera nanya, “Wak, kira-kira apa yang perlu didiskusikan kalo mau bahas tentang pernikahan?”

Apa yaa? Banyak bangetlah.

Aku: Banyaklah, Wak. Itulah aku bingungnya. Aku memang sekarang ni nggak mau pacaran lagi sih. Tapi, kalo taarufan gitu, aku pun belum yakin apa bener-bener bisa cocok sama dia kalo cuma lewat proposal aja. Maksudku, diskusi itu kan enaknya misalnya lewat chatting-an atau malah jumpa langsung. Kalo misalnya taaruf kan nggak leluasa kayaknya. Hahaha. Ntahlah ya, tahu apa aku. Itu makanya, kalo lihat kecocokan kita itu kan lewat diskusi. Sebenarnya lebih enak tahunya itu kalo kita berkawan sama dia. Jadi, misalnya ada pertanyaan bisa dijawabnya. Lihat tingkah lakunya, bisa kita tahu tentang dia. 

Ini bener-bener sesuatu yang nggak bisa dibayang-bayangkan. Harus ada orangnya dulu, baru tahu mau di-treatment kayak gimana. 

Ini masalah pernikahan. Banyak yang perlu dipertimbangkan. Aku sampe kepikiran untuk wawancarai orang-orang yang pernikahannya langgeng dan nanya, “Pas mau nikah itu, kenapa Anda maunya sama dia? Apa yang meyakinkan Anda untuk menempuh hidup bersamanya?”

Kira-kira siapa yang bisa ditanyain seperti itu ya? Wkkwkwkwk.

Aku jadi teringat kata mamak. “Carilah laki-laki yang sayang sama Wahidah dan juga sayang sama keluarga Wahidah. Kalo masalah Islam dan salatnya udah jelas ya, Nak. Itu nggak ada tawar menawar.”

Kalo cerita pengen suami yang seperti apa, udah jelaslah pengennya yang bagus-bagus. Tapi, kalo pengen dianya bagus, aku juga harus bagus kan? Minimal seperti dia juga, jadi kami nggak banting. πŸ˜€

Kalo ditanya, aku maunya suami kayak gimana? Kayaknya udah kusinggung di posting-an Selesai Kuliah, Aku Mau Apa?

Di situ aku bilang begini, “Pengen suami, yang dianya siap menjadi imamku, sahabatku, kekasihku, menantu bagi orang tuaku dan ayah yang baik untuk anak-anakku.”

Jelas banget kan?

Imam di situ, artinya dia salat (Islam) dan mampu mengimami salatku juga jadi imam (pemimpin) bagiku. 

Aku pengen nantinya aku bisa ngelakuin hal yang kuceritain di posting-an Cukup Dua Cara Saja, Agar Anak Bisa Bangun Pagi bersama suamiku. 

Sahabat, artinya orang yang memahamiku, tempatku mencurahkan segala isi hati. Posisi sahabat itu bahkan kadang lebih tinggi daripada cinta. Dia yang bisa berbagi denganku dan aku berbagi dengannya. Sahabat selalu berusaha memberikan dan melakukan yang terbaik. Ingin sahabatnya bahagia. Ah, rasa-rasanya kalo suami bisa jadi sahabat, bahagia sekali. 

Kekasih, artinya hanya padanya (konteks manusia) aku bermanja-manja. Saling mengasihi, menyayangi, mencintai. 

Menantu bagi orang tuaku, artinya dia bersikap dan menempatkan diri sebagai menantu. Mengasihi orang tuaku, bukan membuat jarak. 

Ayah yang baik bagi anak-anakku, artinya dia bisa menjadi contoh bagi anakku kelak. Bersamanya, kami akan merumuskan bagaimana anak-anak diperlakukan. Bersepakat. 

Itu kepengennya. 

Pengennya gitu. 

Harapan yang benar-benar didoakan dan diinginkan. 

Sepanjang perjalanan ke toko buku hingga membaca-baca judul buku di toko buku tersebut, kami terus berbicara. 

Aku: Banyak sih yang perlu didiskusikan sebelum menikah. Misalnya tentang kebiasaan merokok. Apa dia perokok? Gimana keuangannya, berapa gajinya? Gimana mengatur keuangan nantinya? Dia suka makanan apa? Maunya selalu dimasakin atau kadang mau juga makan di luar? Apa yang suka dia koleksi, pengeluarannya? Apa yang nggak dia sukai? Masalah rumah gimana, apa dia termasuk cowok yang sama sekali nggak mau tahu masalah rumah dan kebersihannya, atau mau bantu-bantu istri juga? Masalah belanja, apa dia nyuruh kita semua yang atur dan beli atau dia mau nemenin? Ntahlah ya, Wak. Aku tergila-gila sama konsep diskusi dan bersepakat. 

Hera mendengarkan celotehanku. Pertanyaannya satu, tapi jawabanku beranak-pinak. Hahaha.

Aku: Menurutku, carilah laki-laki yang mau mendengarkan ucapan kita. Bukan laki-laki yang meremehkan ucapan kita. Kita bisa lihat orang dengerin kita atau nggak dari caranya bersikap setelah diberitahu. Setelah itu, dia mau diajak berdiskusi. Kan pasti ada yang nggak cocok antara kita dan dia. Nah, lewat diskusi itulah dicari kesepakatan bersama. Setelah itu ya, cowok yang mau belajar dan memperbaiki diri. Kita sama-sama punya kekurangan makanya saling mengingatkan, introspeksi diri. Tapi nyari cowok yang mau mendengarkan, bisa diajak diskusi dan bersepakat serta cowok yang mau belajar dan memperbaiki diri itu sulit. Tapi itu sih yang penting untuk dilihat.

 

Kira-kira seperti itulah percakapan kami tadi. Banyak sih, tapi nggak bisa diceritakan semua. Hahahha. 

Itu versi dipadat-padatkan ya. 

Dan semua jawaban itu spontan lho. 

Tapi.. Ternyata, aku banyak berpikir tentang hal ini sebelumnya. Hahaha.  

Aku jadi sadar bahwa aku suka sekali sama laki-laki yang mau mendengarkan (menyimak ucapanku), enak diajak diskusi, bisa diajak bersepakat. Karena, aku suka sekali mendengarkan orang lain, berdiskusi dan membuat kesepakatan jika ada perbedaan. 

Setelah itu kami cerita tentang murid-muridnya Hera. Mau mendengarkan?

Eh, tapi udah panjang banget posting-an ini. 

Pas kami mau pisah, Hera sempat bilang, “Inilah enaknya kalo jumpa sama kau, Wak. Terbantu. Maunya sering-sering. Sayang kali kita udah payah jumpa sekarang ya.”

Saat itu aku merasa senang mendengar ucapan Hera. Merasa berharga. Aku juga senang bisa mendengarkan ceritanya hari ini dan memberi pendapat atas pertanyaannya. 

Terimakasih sudah membaca. 😊😊😊

Menurut kalian, aku gimana? Aneh kah? Lebay kah? Lucu kah?

Ada sanggahan? Masukan? Respon? Silakan tinggalkan di kolom komentar. 

Iklan