Hai pembaca tercinta. 😊

Hari ini merupakan hari terakhir kegiatan 10 Hari Ngobrol Asik.

Wahh, akhirnya selesai juga. Wkwkwk.

Kegiatannya cuma nulis selama 10 hari tentang topik yang sudah ditentukan, tapi aku merasa tertinggal banget karena semangat nulisnya Ayu dan Kak Icha luar biasa banget. Hahaha. Mereka selalu update pagi-pagi, sedangkan aku, yaaa, gini, paling lama. Wkwk.

Baiklah, topik kali ini membahas tentang makanan yang enggak kusukai.

Hm, bicara makanan, menurutku aku tidak banyak tingkah, tapi menurut orang-orang di sekitarku, aku termasuk orang yang sangat-sangat pemilih.

Sedih sih pas dengar teman bilang gitu. Tapi, aku juga enggak bisa nyalahkan karena memang ada benarnya. Haha.

Ketika membeli makanan, aku biasanya punya syarat-syarat tambahan sehingga aku harus berada di samping penjual, melihatnya membungkus makananku. Atau, jika aku sedang makan di warung/kafe dan sejenisnya, aku bakal mengulangi orderanku dua sampai tiga kali supaya mereka enggak salah membuatnya.

Apa sajakah itu?


1. Makanan yang pedas

Aku sangat-sangat tidak bisa makan makanan pedas sejak kecil. Sebenarnya, aku pengin makan pedas, tapi apalah daya. Lidah dan perut tak mampu menerimanya.

Jika memesan makanan, apa pun itu, aku selalu berkata, “Jangan pedas.”

Jangan pedas di sini bisa diartikan dengan takaran cabainya dikurangi hingga setengah dari pemakaian pada umumnya. Orderan seperti ini sering diabaikan oleh penjual dan akhirnya aku yang menderita.

Jika makanan terlalu pedas (menurut standarku), aku sama sekali enggak bisa memakannya dan aku benci jika terpaksa menyisakan makanan saat hal itu terjadi.

Aku enggak bisa menoleransi makanan yang dicampur cabai rawit. Saat menyantapnya, lidahku langsung mengeluarkan sinyal berupa air mata. Seketika selera makanku hilang. Sambal cabai merah atau hijau masih bisa kumakan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Jika memesan burger dan makanan sejenisnya, aku akan bilang, “Nggak usah pakai saos,” atau, “Pakai saos tomat saja ya.” Itu pilihan paling aman.


2. Sayuran terlalu banyak santan

Sejujurnya, aku jarang makan sayuran. Entah kenapa aku enggak terbiasa makan sayuran sejak kecil. Namun, makin dewasa aku makin menyadari manfaat sayuran dan berusaha memakannya.

Hanya saja, aku kurang suka makan sayur bersantan kecuali sayur daun ubi tumbuk dan sayur sawi putih.

Alasan aku kurang menyukai sayur bersantan adalah kadar lemaknya dan rasanya yang berat. Hahahhaah.


3. Ikan dan ayam rebus/gulai

Aku jarang sekali tertarik untuk memakan ikan dan ayam yang direbus atau digulai. Entah kenapa, aku merasa mual karena terasa amis. Sebenarnya ini masalah siapa yang memasak, sih. Tapi, untuk mencari aman, aku selalu menghindari hidangan makanan yang direbus atau digulai.

Ketika makan, aku punya kebiasaan untuk memilih makananku sendiri. Sejak kecil, aku diajarkan untuk menakar kebutuhan diri. Ketika mengambil makanan, aku akan mempertimbangkan semuanya, mulai dari jumlah sendokan nasi, lauk, sayur, cabai, kecap, dan segalanya. Hal ini jarang meleset.


4. Dan lain-lain

Dan lain-lain? Makanan apakah itu? Wkwk.

Aku malas jika harus menguraikan semua alasannya jadi aku buat saja poin dan lain-lain.

Selain 3 makanan di atas, aku tidak suka petai, jengkol, jeroan, otak, dan ceker.


Banyak ya?

Tapi, aku enggak peduli ketika orang menganggapku pemilih dalam hal makan. Aku memilih makanan supaya aku bisa menghabiskannya tanpa menyia-nyiakannya. 😊

Kalau pergi ke suatu tempat dan makanannya kurang cocok di lidahku, biasanya aku diam saja, kecuali jika aku makan bersama kawan dekat. Barulah aku memberitahunya tentang perasaanku mengenai makanan di situ.

Selain itu, aku memang tidak suka, tapi belum tentu aku tidak mau memakannya sama sekali. Ada beberapa kondisi yang membuatku bisa memakannya, misalnya saja dilihat dari siapa yang memasak dan cara memasak makanan tersebut.

Terima kasih sudah membaca. 😊