“Aku sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat.”

“Aku juga sayang sama kamu,” jawabnya cepat tanpa ragu, “tapi, aku enggak bisa berpacaran denganmu.”

“Ke-kenapa?”

“Lebih tepatnya, aku enggak mau. Kamu sahabat terbaikku. Kalau kita pacaran, lantas apa? Putus? Aku tidak mau kehilanganmu.”

“Kamu enggak bakal kehilangan aku.”

“Reno, kalau kamu memang benar sayang samaku dan perasaanmu enggak berubah. 5 tahun lagi, kamu bisa lamar aku.”

Itu percakapan kami setahun yang lalu. Satu hari sebelum pengumuman seleksi ujian masuk perguruan tinggi.  

Aku enggak bisa memahami apa yang Luna pikirkan saat itu. Kenapa dia menolakku padahal kami memiliki perasaan yang sama? 

Kenapa dia berpikir bahwa dia akan kehilanganku jika kami berpacaran? 

Walau enggak bisa memahami jawaban Luna, aku berusaha menerimanya. Tapi, fakta yang kulihat hari ini, saat kami mengadakan reunian, membuatku gusar. Dia diantar oleh pacarnya. Dia sudah punya pacar. 

Kenapa dia menerima laki-laki lain? Kenapa dia mau berpacaran dengan laki-laki lain tapi tidak denganku? 

Aku juga sayang kamu. Kamu sahabat terbaikku. Cih, aku benci sekali mendengar jawaban klise seperti itu. 

Setelah mengobrol dengan teman-temannya, dia menghampiriku. 

“Reno, apa kabar? Kamu datang? Aku kira enggak, soalnya kamu enggak balas chatku.” 

Aku diam saja. Aku enggak mau berbicara dengannya. Aku memilih pergi. 

“Reno! Reno! Kamu marah sama aku?” Luna berusaha menghentikan langkahku. Dia menarik lengan kiriku, membuatku berhenti sejenak.  

“Menurutmu, aku enggak marah dengar kamu jadian sama cowok lain? Apa sih hebatnya dia?” 

“Aku enggak bisa nolak dia.”

“Kenapa?”

“Aku enggak tahu.”

“Kamu enggak bisa nolak dia, tapi bisa nolak aku?”

“Aku nolak kamu supaya enggak kehilangan kamu.”

Konyol! Jawaban konyol! Dia enggak bisa nolak cowok itu, tapi dia menolakku karena takut kehilanganku? Apa sih yang ada di pikirannya? 

“Apa kamu enggak bisa ngerti? Ak … u …”

“Iya. Aku memang enggak bisa ngerti alasanmu.” Aku enggak mau mendengarkan alasannya. 

Setelah mengucapkan hal itu, aku memutuskan pergi. Pergi dari hidupnya. 

Kalau dia pikir, menolakku akan membuatnya enggak kehilanganku, dia salah. Aku justru menghilang karena dia menolakku.

*

Aku nulis apaaaaa? 

Enggak seperti ini yang pengin kutulis. Tapi, jadinya seperti ini. Huhuhu. 

Cerpen (yang bukan seperti cerpen) ini kutulia untuk menyelesaikan tantangan terakhir 9 Hari Menulis Asik 3 Kisah.