Hai pembaca tersayang. 😊

Pagi-pagi gini, tiba-tiba aku merasa rindu yang sangat menggebu. 

Aku rindu keceriaan Forum Redaktur Obrolin (FRO). 

Sekitar bulan Agustus 2017, aku gabung ke grup FRO. 

Enggak punya pengalaman apa-apa. 

Aku hanya nekat saja. 

Karena aku pengin benar-benar belajar edit tulisan. 

Seperti namanya, FRO itu grup yang berisi orang-orang yang mau belajar ngedit tulisan. 

Obrolin punya blog. Blog tersebut harus diisi. Isinya didapat dari kiriman para anggota (dan orang luar juga boleh kirim tulisan).

Naskah yang masuk, sebelum dipublikasikan haruslah melalui proses penyuntingan yang ketat. 

Editing tersebut dilaksanakan di grup chat FRO.

Masing-masing dapat jatah rubrik. 

Aku bagian opini. 

Jika ada opini masuk, naskah tersebut jatuh ke tanganku. 

Aku pun mulai edit naskah tersebut. Sendiri. 

Mulai dari baca, mencari poin-poin penting yang ingin disampaikan penulis, lalu merapikan/mengubah kalimat-kalimat.

Sepanjang editing, aku bakal buka aplikasi PUEBI dan KBBI V. 

Kalau ada kata yang mengganjal, aku segera cek. 

Setelah selesai, naskah kusalin dan kulampirkan ke dalam grup FRO. 

Mulailah proses pembantaian. 

Anggota lain membaca naskah editanku (biasanya tidak tahu naskah aslinya). Kemudian, mereka mengomentari tulisan dan editanku tersebut dengan objektif. 

Biasanya, naskah yang menurutku sudah sangat oke dan layak terbit, ternyata belum secantik itu. 

Ada saja bagian-bagian yang perlu dirapikan. 

Umumnya memakan waktu 2 sampai 3 kali revisi. 

Mereka komen. Aku perbaiki. 

Aku lampirkan ke grup lagi, mereka komen lagi, aku perbaiki lagi. 

Alu lampirkan lagi, mereka komen lagi, aku perbaiki lagi. 

Sampai semuanya benar-benar puas!

Setelah itu tulisan bisa diterbitkan. 

Dan rasanya … bahagia bangeeeeeet! 

Perasaan ketika aku berhasil (katakan saja berhasil) mengedit tulisan dan mendapat banyak ilmu tentang teknik nulis itu luar biasa banget. 

Ketika mengedit tulisan seseorang, awalnya aku cukup objektif.

Aku perbaiki sampai naskah itu menjadi bagus (dari kacamataku). 

Ada perubahan perasaan di situ. Naskah yang awalnya kupandang objektif (bukan tulisan/ideku), menjadi subjektif (ini naskah editanku). 

Lalu, editing tersebut diperiksa oleh orang-orang yang lebih objektif lagi. 

Mereka membuka mataku lebar-lebar. Atas apa yang kupikir sudah bagus, ternyata bisa lebih bagus lagi. 

Dalam mengkritik, mereka mengeluarkan segala acuan. PUEBI. KBBI. 

Selain itu, kadang melampirkan link-link dari internet.

Ah, rasanya bahagia kali. 

Belajar sendiri itu asik. Namun lebih asik saat kita punya teman-teman belajar. Sevisi. 

Entahlah. 

Perasaanku, baru itu grup yang isi chat-nya selalu layak untuk dibaca dan diperhatikan baik-baik sampai titik-koma.

Bukan maksudnya grup lain enggak oke, ya. 

Ada juga beberapa grup lain yang serunya sebelah-dua belas sama FRO. 

Tapi, FRO ini beda. 

FRO punya gayanya sendiri. 

Ruhnya sendiri. 

Semangatnya sendiri. 

Yang sulit digantikan dengan grup-grup lainnya. 

Huhuhu. 

Aku jadi sedih. 

Sekarang grup itu masih ada. Kerjaan juga masih menumpuk. Tapi, sunyi yang mengisi ruang tersebut. 

Aku rindu FRO hidup kembali. 

Kapan? 

Bagaimana? 

Ah, sudahlah. Kuakhiri saja tulisan ini. 

Aku hanya ingin bilang, “Aku rindu kalian. Benar-benar rindu. Menghidupkannya butuh kehadiran kita semua.”

Terima kasih sudah membaca. 😊