Jika seorang memublikasikan tulisannya, itu berarti ia ingin tulisannya dibaca, diapresiasi dan dikomentari -Wawa

Setiap penulis pasti punya keinginan tulisannya dibaca. Ya kan? Ngaku aja deh. Haha. Aku juga gitu, gitu banget pun.

Perubahan gaya tulisan itu emang pengaruh terbesarnya adalah dari bacaan yang kubaca. Lalu komentar dari pembaca.

Jujur saja, aku banyak terkejut ketika membaca cerpenku yang dulu. Walau temanya picisan, tapi aku suka sama gaya bahasaku itu. Memang masih sangat banyak kekurangan di sana-sini. Tapi tetap deh, nggak nyangka aku bisa merangkai kata-kata seperti itu.

Nah, balik ke judul. Penulis pasti punya harapan tulisannya dibaca. Apalagi sekarang aku nulis, niatnya lebih mantap pada penuangan ide, penyimpanan kenangan dan untuk berbagi pengetahuan/pengalaman walau masih banyak curhatnya juga (maklum, formatnya masih personal blog). Wkwkk.

Kali ini aku ingin bercerita tentang harapanku yang muluk-muluk terhadap pembacaku.

Harapanku terlalu banyak untuk pembaca yang masih sedikit (nggak tau juga sih, dibaca atau nggak, nggak ada jejak komennya). Wkwkkwkwkk.

Tapi, kita (khususnya aku) sebagai manusia dan calon penulis masa depan, harus punya harapan dan tujuan agar bisa berusaha lebih baik lagi.

Baiklah ini harapan yang kuingin pembacaku rasakan dan lakukan setelah baca tulisan-tulisanku:

1. Dalam hatinya, “Ah, sialan si Wawa ni. Aku jadi pengen tau tentang…. (yang aku tuliskan) lebih dalam,” lalu ia pun searching di internet atau baca buku.

2. Dalam hatinya, “Ahh, apa lanjutannya, kok kurang panjang sih.” Lalu diapun komen di posting-an itu.

3. Dalam hatinya, “Ah, banyak cakap. Nggak gitu kok. Menurutku begini.. ” Lalu dia komen dengan memberi argumen.

4. Dalam hatinya, “Ah, cepat update tentang buku itu. Aku juga pengen tau lebih banyak.” Lalu dia komen minta posting-an baru.

5. Dalam hatinya, “Ahh, iya ya. Ternyata ada betolnya juga nih tulisan. Orang-orang harus tau.” Lalu dia share linkku di semua media sosialnya.

6. Dalam hatinya, “Ah, kaco kali tata bahasanya. Masa banyak tipo, seharusnya begini bukan itu. Nggak koheren! Harusnya tuh gini….. bukan gitu.” Lalu dia komen super panjang, ngasi kritik penulisanku yang tipo dengan spesifik.

7. Dalam hatinya, “Wah, ternyata pengalaman aneh kayak gini juga bisa ditulis ya. Lucu juga.” Lalu dia mulai nulis ceritanya sendiri.

8. Dalam hatinya, “Aduh, suka deh sama si Wawa ini, kayaknya enak ngobrol sama dia.” Lalu dia add medsosku dan kami jadi teman.

9. Dalam hatinya, “Macam betol kali anak orang ini, lebay kali.” Lalu dia bongkar semua tulisan-tulisanku untuk mencari kesalahanku, semuapun dikomennya.

10. Dalam hatinya, “Ada bagusnya juga ini tulisan. Kira-kira si pemilik akun mau nulis serius nggak ya. Mungkin bisa diterbitkan.” Lalu aku dikontak penerbit. Hahhahahhahahhahahahhahahhahahahahha.

11. Dalam hatinya, “Ah, seru. Aku punya kenalan nih, kira-kira dia suka nih yang model begini.” Lalu, aku dikenalin sama relasi baru. Wkwkkwkwk.

Hmm.. kayaknya itu dulu deh harapanku terhadap pembacaku.

Hahahha. Intinya itu aku minta dikomen.

Yaaa, karena komentar yang membangun itu sangat penting. Komentar yang sopan dan berbobot itu adalah bentuk apresiasi tertinggi lho.

Yaaa, sekianlah post tentang harapan ini. Tetap semangat, Wa! Semangat semuanya!

Tak komen maka tak baca. Kalo baca, pasti ngomen  *maksa, wkwkwk


Tulisan ini aku copas dari blogspotku sendiri dengan judul Harapanku Pada Pembaca.

Iklan